Banyak orang menyukai gosip. Gosip sering diartikan semakin digosok semakin sip.Ketika kita bergosip ria untuk sejenak kita melepaskan diri dari kegelisahan diri kita. Kita merasa lebih baik atau minimal ada teman sependeritaan. Tetapi ada sisi yang tidak baik juga, yaitu ketika kita ber-gosip ria, kita merasa lebih baik, sehingga kita merasa tidak perlu untuk bertobat.

Rupanya di zaman Yesus sudah ada orang yang juga suka membicarakan kejelekan orang lain. Misalya tentang orang-orang Galilea yang memberontak kepada kekuasaan Roma dan kemudian dihukum dan darahnya dicampurkan dengan darah korban (Luk 13:1). Atau 18 orang yang tewas tertimpa menara dekat kola Siloam (Luk 13:4). Orang Israel membicarakan mereka dan menyangka mereka itu kena kutukan Tuhan.

Yesus mengkritik sikap orang yang suka membicarakan kemalangan dan kelemahan orang lain, dan menekankan bahwa mereka harus bertobat. “tetapi jika kamu tidak bertobat, kamu akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13:5).

Lebih lanjut Yesus menyapaikan perumpamaan tentang pengurus kebun anggur (Luk 13:6-9). Konteks pada zaman Yesus sebagai berikut: di dekat kebun anggur biasanya ditanam juga pohon ara, supaya dipanen dulu sebelum panen anggur. Pohon ara itu tidak berbuah, tetapi pekerja kebun anggur itu meminta supaya pohon ara itu jangan ditebang oleh sang Empunya karena dia akan merawat dan mencangkul dan memupuknya supaya berbuah. Siapakah pekerja kebun anggur itu? Yesuslah sang pekerja kebun anggur itu. Inilah sikap Yesus kepada mereka yang hilang. Yesus menymebuhka dan memupuk kehidupan rohai kita. Maka Hendaknya kita juga memiliki sikap yang sama yaitu bukannya membicarakan mereka malahan berbela rasa dengan mereka supaya mereka berbuah.

Perumpamaan ini juga menyiratkan pandangan Yesus yang menekankan tobat dan bukan penilaian kepada sesama. Dan lebih lanjut Tuhan Yesus memberikan alasan mengapa kita harus bertobat, yaitu kemurahan hati Allah. Kita seperti pohon ara yang belum berbuah. Dan bagaimana Yesus sebagai tukang kebun, dengan setia membersihkan, mencangkul, memupuk.

Dalam bacaan pertama Musa menjadi contoh yang baik bagaimana pertobatan dijalankan.

Pertobatan ada dalam konteks hidup harian, seperti Musa yang menggembalakan domba (Kel 3:1). Pengalaman harian adalah medan di mana kita mengolah iman kita. Di tengah-tengah pengalaman harian itu, kita seringkali mengalami tanda heran. Semak duri yang menyala tetapi tidak dimakan api (Kel 3:2) adalah simbol dari hidup harian di mana kita merasakan keheranan dan kekaguman. Kekaguman itu harus kita eksplorasi. Saat kita kagum, kita sementara dekat dengan Tuhan. Kekaguman adalah indikasi hidup beriman yang sehat.

Namun sayang dalam kehidupan harian, kita sering kehilangan daya kekaguman karena kita seringkali merasa sudah mengerti. Musa juga diperintahkan untuk menanggalkan kasut (Kel 3:5). Tanda menghormati. Pengalaman-pengalaman kagum itu adalah saat-saat di mana kita merasa dekat dengan Tuhan. Dan jika kita terus mendengark kita akan sampai kepada kehendak Allah yang disampaikan ke dalam kehidpan kita.

Mari saudaraku, ketimbang bergosip ria lebih membawa buah jika kita merefleksikan kehidupan kita, karena dalam pengalaman harian itulah Tuhan menyapaikan kehendak-Nya kepada kita.

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: