Para saudara, kita bersaudara karena kita diikat oleh hal yang sama, kita sama-sama percaya akan Allah. Dalam artikel kali ini mari kita merenungkan kepercayaan kita.

Allah yang Menyapa

Kita percaya kepada Tuhan, karena dia memanggil kita. Allah yang telah memanggil dan kita terlebih dahulu. Allah menyapa kita dengan berbagai cara yang membuat kita mengarahkan diri kepada-Nya. Allah menyapa dan menyingkapkan diri dengan berbagai macam cara. Saya menyebut beberapa di antaranya. Lewat tanda-tanda alam. Tedy, satu hari, mengungkapkan keheranannya. “Dari kecil saya makan ikan cakalang hampir setiap hari. Sekarang saya sudah umur 40 tahun, dan ikan cakalang tidak menjadi habis. Siapa yang mengatur lautan hingga seperti ini?” Rasa kagum seperti ini mengarahkan kita kepada Tuhan. Allah juga menyapa kita lewat orang-orang lain, misalnya dari orangtua kita yang mengantar kita kepada doa-doa pribadi. Teman dan sahabat kita yang menceritakan Yesus dan mengundang kita berdoa. Dan yang lain, lewat Kitab Suci. Lewat Kitab Suci kita akan mengetahui Sabda Tuhan yang mengundang kita untuk mendekat kepada-Nya

Iman adalah Jawaban Kita

Terhadap Allah yang mengundang kita, kita menanggapi. Tanggapan kita itu adalah kepercayaan atau iman kita. Iman adalah sambutan manusia terhadap pernyataan diri Allah. Beriman berarti ktia membuka hati kepada Allah, dan kita menempatkan Allah di dalam pusat kehidupan kita. Ketika kita beriman, kita tidak lagi sendirian tetapi hidup bersama dengan Allah, mendengarkan bisikan kehendakkNya.

Menghidupi Iman

Minggu lalu saya menghadiri gathering dengan para babtisan baru dan para guru-guru agama di Komunitas Indonesia di Sydney. Saya diminta untuk sedikit berbicara, apa yang harus mereka lakukan setelah babtisan. Ya, setelah beriman kita harus melakukan apa? Secara tradisional setelah dipermandikan kita melakukan tiga hal ini:, lex orandi, lex credendi, lex vivendi.

Lex Credendi.

Menjadi katholik bukan sekedar sebuah identitas. Kita harus menghidupi iman kita. Iman kita jadikan pemandu bagi hidup kita. Lex Orandi. Tanda bahwa kita beriman adalah kita berdoa. Berdoa dalam arti kita ikut serta secar aktif di dalam Ibadat bersama seperti Ekaristi hari Minggu, dan doa-doa pribadi. Namun lebih dari itu, dia selalu menghayati akan kehadiran Allah. Allah hadir terus menerus di dalam hidup kita. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung Aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu atasku (Mz 139:1-2). Lex Vivendi. Iman harus dinampakkan dalam perbuatan (Bdk. Yakobus 2:14-26). Iman dan doa kita harus nampak di dalam perbuatan kita yang baik.Maka sebagai orang beriman kita harus menghdiupi ajaran-ajaran moral Katholik. Secara ringkas, Sebagaimana orang beriman, demikianlah dia akan berdoa dan beribadat dan hidup seturut imannya akan Allah.

Tantangan Iman

Sepanjang segala zaman, iman akan selalu mendapatkan tantangan dalam berbagai bentuk. Tantangan itu tentu dapat menggoyahkan hidup beriman kita. Namun hendaknya selalu disadari iman memang selalu dalam pencarian, pertanyaan dan pergumulan dengan Allah. “Äku percaya. Tolonglah aku yang kurang percaya ” (Mrk 9:24).

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto msc

%d blogger menyukai ini: