Pastor, anak saya sekarang, setelah menginjak usia 20-an, tidak mau ke Gereja. Bahkan menyatakan menjadi atheis. Bagaimana saya harus menyikapi? (NN)

Antara Yesus dan Pengikutnya

Sekarang ini semakin banyak orang yang memutuskan untuk tidak beragama. Istilah keren-nya agnostik (tidak memusingkan lagi ada Tuhan atau tidak, atau mereka tahu ada Tuhan tetapi tidak mempraktekkan ibadat). Bahkan ada yang menyatakan diri atheis (tidak percaya adanya Tuhan). Anehnya justru mereka ini banyak yang berada di lingkungan kampus Perguruan Tinggi. Alasan yang sering mereka katakan adalah mereka melihat begitu banyak orang yang mengaku Katolik, tetapi perilakunya jauh dari nilai-nilai kekatolikan seperti korupsi, malas-malasan, melanggar peraturan, tindakan kebencian dan sebagainya.

Ketika saya masih studi di Universitas Ateneo, salah seorang teman kelas yang agnostik berkata kepada seorang teman kelas yang adalah seorang biarawati. Dia berkata demikian, “Saya menghormati imanmu. Tetapi saya sungguh sulit memahami bahwa Gereja Katolik adalah satu tubuh dengan Yesus dan Yesus menjadi kepalanya. Terutama ketika melihat cara orang-orang yang mengaku Katolik hidup dan berperilaku berlawanan dengan ajaran-ajaran Yesus”. Teman biarawati tadi dengan tenang dan jernih menjawab: “Saya juga berpikir seperti itu sebelumnya, sampai aku bisa memahami bahwa Bethoven tetaplah seorang genius musik kendati para musikus pemula memainkan orkestra gubahannya dengan begitu buruk. Beethoven bukanlah masalahnya, para pemusik pemula itulah yang menjadi masalah. Para pemula itu belajar untuk menjadi semakin baik memainkan gubahan Bethoven. Demikian juga Gereja. Gereja dan ajarannya bukanlah masalah, para pengikutnyalah yang kadang seperti pemusik pemula, tetapi mereka terus berlatih dan belajar untuk menjadi semakin mahir dalam bermain musik.”

Konteks Kekinian

Faktor lain, menurut penuturan salah satu umat adalah faktor budaya kekinian. Anak-anak kita banyak yang melihat teman dan gurunya tidak ke gereja. Bahkan ada yang malu karena kalau ke gereja akan diejek oleh teman-temannya. Dan kita tahu bahwa saat remaja, teman sebaya, peer group, sangat berpengaruh pada perilaku anak-anak anda.

Dan ternyata pengalaman ini bukan hanya pengalaman-pengalaman keluarga Katholik di Australia. Kakak saya yang di Indonesia juga mengalami pergumulan yang sama. Pada hari minggu ada upacara panjang sebelum ke Gereja: membangunkan, menyuruh mereka mandi dan berganti pakaian. Bahkan teman saya bercerita lebih dahsyat: pada hari minggu, dia membangunkan anaknya dan tidak ada yang mau bangun. Lalu dia berteriak sambil menangis: terserah kamu mau ke Gereja atau tidak. Ketika dia sudah mulai berangkat, anak-anaknya mengejarnya dan minta ditunggu. Tetapi di mobil wajah mereka cemberut. Dan bahkan bertanya kenapa sih lebay sekali dalam pergi ke Gereja. Mamanya menjawab: saya mendapatkan kekuatan karena percaya kepada Tuhan. Saya ingin mewariskan ini kepadamu.

Belajar dari Santa Monica

Dalam sejarah Gereja, ada teladannya yaitu Santa Monica. Monica memiliki putra yang sangat pintar,Agustinus.Anaknya tidak mau berdoa dan beribadat dan menganggap iman katholik hanya untuk orang-orang bodh. Tetapi Monica tidak pernah give up. Dia terus mengingatkan, mendoakan, bahkan penuh dengan air mata. Kemuidan kita semua tahu, Agustinus berubah menjadi orang suci. Dan dalam bukunya, Confesiones, Agustinus menulis:

“But you sent down your help from above and rescued my soul from the depths of this darkness because my mother, your faithful servant, wept to you for me, shedding more tears for my spiritual death than other mothers shed for the bodily death of a son. For in her faith and in the spirit which she had from you she looked on me as dead. You heard her and did not despise the tears which streamed down and watered the earth in every place where she bowed her head in prayer.”

Santo Ambrosius, pembimbing rohani Monica meyakinkannya: “It cannot be that the son of these tears should be lost.” Mari kita belajar untuk tidak menyerah.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: