Pertanyaan:
Apakah Iman Katholik-mu benar-benar berdasar kepada Kitab Suci? Atau sekedar ajaran Paus, Uskup dan Imam yang adalah manusia?

Jawaban:
Iya dong!
Semua ajaran Katholik berdasarkan Kitab Suci. Walaupun itu bisa berarti tertulis di dalam Kitab Suci atau tersirat di dalam Kitab Suci. Ajaran iman tidak harus dikutip dalam ayat-ayat Kitab Suci. Misalnya Katholik percaya bahwa Yesus yang bangkit menampakkan diri pertama kali kepada Bunda Maria. Padahal tidak ada satu Injilpun menceritakan bahwa Yesus menampakkan diri pada Bunda Maria. Dari mana ajaran itu? Jawabnya dari Tradisi Suci.

Kitab Suci sendiri menunjuk juga kepada kuasa mengajar Gereja (Magisterium) yang diberikan kepada para rasul dan kemudian diwariskan kepada hirarki Gereja Katholik. Seperti kata-kata Santo Paulus. “Sebab itu berdirilah teguh dan berpeganglah kepada pada ajaran-ajaran yang kamu terima baik dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” Secara tertulis berarti yang ada sekarang kita kenal ada dalam Kitab Suci seperti surat-surat Paulus. Bagaimana dengan yang lisan?

Tuhan Yesus mengajar para rasul lewat lisan dan Yesus tidak menulis Injil. Baru ketika para Rasul, yang merupakan saksi iman mulai meninggal baru dipikirikan untuk menulis Kitab Suci. Tahun 70 setelah Yesus wafat, Injil pertama yang ditulis oleh Markus. Dan muncul banyak Injil yang berbeda-beda, dan baru pada abad 4, atau 400 tahun seteah Yesus wafat Tradisi menerapkan bahwa hanya ada 4 Injil yang diterima.

Jadi agama Kristen Katholik sudah ada sebelum Kitab-kitab Perjanjian Baru ditetapkan. Ajaran lisan yang disimpan Gereja, ditulis juga tetapi tidak dalam Kitab Suci, itulah yang kemudian kita sebut Tradisi. Jadi jika anda mendengar kata Tradisi, itu menunjuk kepada komunitas yang mewariskan ajarannya kepada generasi berikut. Gereja Katholik adalah penerus tradisi itu. Maka Magisteriium (kuasa mengajar) dan Tradisi suci tetap diperlukan juga ketika kita sudah memiliki Kitab Suci sekarang ini.

Namun sekarang Tradisi tertulis atau Kitab Suci menjadi sangat penting karena meng-code-kan tradisi. Pun demikian, Magisterium tetap diperlukan, terutama untuk memberikan bimbingan praktis bagaimana manusia harus hidup dari imannya. Contohnya adalalah ajaran Paus Paulus VI, Populorum Progressio, memberi petunjuk bagaimana kita menggaji para pekerja dengan upah yang adil seturut ajaran Yesus di dalam Kitab Suci. Ensiklik ini membantu umat beriman dengan merefleksikan ajaran Tuhan dalam Kitab Suci dalam situasi kemiskinan tahun 60 an. Ensiklik ini sangat mempengaruhi dunia mengarah kepada kesejahteraan para pekerja seperti yang sekarang kita alami.

Magisterium juga diperlukan untuk menjaga persatuan umat katholik seluruh dunia. Bayangkan jika semua pastor katholik bisa menafsirkan seenaknya tanpa bantuan patokan-patokan ajaran magisterium? Persatuan tidak akan terjaga.

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: