Sebagai seorang imam yang sudah 20 tahun bekerja, saya banyak belajar dari umat yang saya layani. Mereka menjadi guru kehidupan bagi saya. Mereka memberi pemahaman tentang hidup, yang tidak begitu saja jelas dari bangku kuliah. Saya mencoba untuk menuliskan “kebijaksanaan hidup” apa saja yang saya pelajari dari umat yang pernah atau sementara saya layani.

Energi Kehidupan

Sebut saja namanya Lely. Tinggal di salah satu kota di Indonesia. Dia seorang single mother karena suaminya meninggalkannya sewaktu kedua anaknya masih kecil-kecil. Dia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor, dan hampir selalu kerja lembur. Sering jam 9 malam baru pulang. Boss-nya mudah sekali naik darah dan marah tidak terkendali. (Perilaku yang tidak bisa diterima di Australia tentunya). Dia seperti harus menelan situasi itu karena dia membutuhkan banyak uang. Selain untuk kebutuhan pribadinya, dia juga harus membayar cicilan rumah dan uang kuliah untuk kedua anaknya. Apalagi salah satu anaknya bersekolah di luar kota. Dalam kesempitan waktu, dia masih menerima kathering kecil-kecilan untuk menambah penghasilan. Dan itu semua sebagian besar untuk anak-anaknya. Dia bekerja seperti tidak ada lelahnya.

Hal yang serupa saya temukan saat bertugas di Sydney. Seorang Bapak yang sewaktu di Indonesia sebenarnya sudah memiliki karier yang baik. Tetapi dia bermigrasi ke Australia karena anak-anaknya kurang enjoy sekolah di IndonesIa. Demi masa depan anak-anaknya dia rela meninggalkan karier yang mapan dan kemudian bekerja tangan sebagai worker di Australia.

Masih banyak umat yang kondisinya serupa. Pengalaman umat seperti diatas atau peristiwa-peristiwa yang mirip, membuat diriku berefleksi. Kekuatan batin apa yang membuat mereka mampu bekerja sedemikian keras dan tidak menjadi kecapaian atau sakit? Jawabnya adalah cinta. Cinta itu energi. Cinta itu seperti Air hidup yang mengalir tiada henti (bdk. Yoh 4:14).

Kepada Siapa mereka mencinta? Refleksi berikut adalah siapa yang mereka cintai? Mereka mencintai orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Jadi tidak begitu saja masalah perasaan, tetapi karena mereka menyerahkan diri kepada siapa Tuhan ingin menyerahkan hidupnya. Tidak semua anaknya mudah diatur. Ada anak yang begitu menyakiti hati orangtuanya karena pilihan-pilihan sikap yang sering tidak seiring dengan pendapat orangtua. Mereka sering berurai air mata karena anaknya. Sering mereka marah kepada anaknya dan menolak untuk berbicara untuk beberapa hari. Anak-anak membuat mereka frustasi.

Tetapi mereka tidak berhenti mencintai anak-anaknya. Bekerja demi anak-anaknya dengan ulet.

Melihat orang-orang hebat seperti itu (yang jumlahnya banyak), saya sangat kagum dan hormat. Sekaligus belajar untuk mencintai seperti umat mencintai. Memang tidak begitu saja mudah untuk mengaplikasikan dalam hidupku sebagai imam, karena konteks hidup yang berbeda, tetapi satu hal yang sangat mempengaruhi. Mereka mencintai anak-anak karena Tuhan menyerahkan kepada anak-anaknya.

Saya juga diserahkan. Bukan kepada anak-anak tetapi kepada tugas perutusan. Tugas perutusan itu sangat mewarnai kehidupan saya. Dan jenis perutusan itu seringkali berbeda-beda. Menjadi pastor di Kota kecil, tugas untuk studi, tugas untuk membina calon imam, tugas untuk mengajar, tugas dalam bidang kepemimpinan tarekat kepada anggotanya. Dan tidak semua tugas mudah untuk dikerjakan. Saya umumnya bahagia dengan pekerjaan saya namun kadang-kadang bergumul dengan kesulitan dan tantangan, frustasi dan kesalahpahaman. Namun saya harus mencintai tugas perutusan. Karena kepada tugas perutusan, saya diserahkan. Salah satu bentuk kecintaan kepada tugas perutusan adalah setia dengan tugas dan tidak mudah meninggalkan tempat pelayanan tanpa izin dari pimpinan.

Dan melihat Lely dan umat yang lain yang habis-habisan mencintai, saya merasa belum ada apa-apanya dibandingkan mereka. Terimakasih umat, engkau sungguh hebat.

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: