Yesus disalibkan pada hari Jumat sebelum Paskah, yaitu pada tanggal 14 Nisan atau tanggal 7 April tahun 30 M. Penyaliban adalah penghukuman yang paling keji, yang dirancang untuk penghinaan dan memberi efek jera. Hukuman ini dirancang untuk para budak agar mereka tidak memberontak. Hukuman ini tidak akan dikenakan untuk mereka yang berkewarganegaraan Roma.

Secara politis kematian Yesus disebabkan oleh kompromi politik. Para pemimpin Yahudi merasa tersaingi dengan guru desa yang sederhanan ini. Sedangkan Pilatus, prokurator di Yerusalem, tidak mau kehilangan muka di hadapan kaisar Roma, karena terlalu banyak pemberontakan di wilayah kekuasaannya. Namun secara rohani, kematian Yesus memang diserahkan oleh Bapa demi keselamatan manusia. “Dia tidak sayang menyerahkan putera tunggalnya kepada kekuasaan dosa”.

Proses kematian Yesus berjalan lama dan menyakitkan. Dari taman Getsemani dia tidak makan dan tidak minum. Dan ada lima penderitaan Yesus yang dikenali umat dalam tradisi doa rosario.

Pertama, di Taman Getsemani.

Sebagai manusia, Dia mengalami ketakutan yang sangat dalam. “hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku” (Mat 26:38). Dia membutuhkan peneguhan, tetapi tidak didapatkan karena para murid tertidur (Mat 26:40).

Kedua, Yesus didera.

Yesus diadili di depan Pontius Pilatus. Dan Yesus tidak membela diri. Baginya, Tugas dari Bapa adalah memberi kesaksian tentang kebenaran. Yesus yang tak berdaya tetap memiliki kesatuan Roh dengan Bapa-Nya.

Ketiga, dimahkotai duri.

Kemudian Yesus direndahkan. Dicambuki dan dihina dengan diberikan mahkota duri dan baju ungu, simbol raja. Dan para parajurit menghina dan memukuli kepalanya. Pengalaman yang sangat traumatis.

Keempat, Yesus memanggul salib.

Derita Yesus menjadi lebih dalam ketika harus memanggul salib yang berat, dalam keadaan yang lemah: tidak makan dan minum, mengalami penderaan dan mahkota duri. Pada saat itu Yesus dibantu orang asing, bernama Simon. Dalam sengsaranya Yesus tetap membuka diri kepada bantuan sesama.

Kelima, Yesus dipaku di kayu salib.

Yesus digantung antara langit dan bumi. Tiga jam dalam sakrat maut. Nasib dan hidupnya bergantung kepada orang lain. Di atas salib Yesus telah menunjukkan kepada kita, betapa Allah mengasihi manusia. Yesus yang disalib, hancur hati, tidak punyua siapa-siapa, ditinggalkan para muridnya: tetapi hati-Nya tidak menjadi pahit. Kasih Yesus merangkul semua: dari teman dan bahkan musuh. Sabda yang keluar dari mulut Yesus adalah sabda pengampunan.

Apakah Yesus Putus asa?

Yesus saat meregang nyawa bersabda, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku” (Mat 27:46, Mrk 15:34). Lukas meredaksinya dengan memperhalusnya, “kedalam tanganMu kuserahkan nyawa-Ku” (Luk 23:46). Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku adalah tanda Yesus putus asa di bagian akhir hiudpnya?

Jawabannya adalah Tidak. Seruan Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku adalah kutipan dari Mazmur 22. Mazmur 22 adalah Mazmur Ratapan. Relasi kita kepada Tuhan membutuhkan ekspresi yang jujur, menyatakan apa yang dirasakan. Dan isi dari Mazmur 22 secara keseluruhan adalah penyerahan diri karena percaya kepada Allah.

Dalam tradisi pada waktu itu, mengutip satu bagian berarti mengamini semua. Maka seruan Yesus bukan putus asa tetapi penyerahan diri total kepada Bapa.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: