Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke-73. Tetapi benarkah kita sudah merdeka? Mengapa kita masih ada dalam berbagai penderitaan? Saat menulis ini, saya ingat akan berbagai ketidak-adilan yang terjadi di tanah air. Kendati pemerintah sudah berupaya untuk memerangi korupsi dengan mengubah sistem menjadi on line, masih saja ada pejabat negara yang menunda-nunda menyetujui izin bisnis sebelum mendapat amplop sogokan, jalan raya yang macet total karena pengendara tidak mematuhi aturan, Gubernur yang bagus sekali tetapi kalah (bahkan di Jakarta utara). Di daerah ada Jalan raya yang tergenang air setinggi mata kaki, padahal masalahnya sangat simpel: lubang ke gorong-gorong tersumbat sampah tetapi tidak ada petugas yang membersihkan. Padahal anggaran di wilayah itu, 40% Anggaran untuk gaji PNS.

Benarkah kita sudah merdeka?
Saat hati terasa galau, saya ingat seorang sahabat. Dia teman kuliah di Ateneo, Filipina, berwarganegara China. Dia bercerita kejahatan di negaranya, beberapa puluh tahun lalu, tepatnya di tahun 1989. Para mahasiswa memprotes pemerintah di lapangan Tiananmen. Dan pemerintah yang diprotes balik menembaki mahasiswa itu. Para mahasiswa banyak yang tidak bergeming. Dan bahkan ada mahasiswa yang berdiri menghadap tank militer.

Tiba-tiba rakyat China sadar. Menembaki generasi mudanya sendiri, anak-anaknya sendiri, apapun alasannya adalah kejahatan. Mereka telah memupus masa depan mereka sendiri, karena kaum muda adalah masa depan. Rakyat China, dan pemerintahannya menurut cerita teman saya itu, merasa bersalah dan mohon ampun kepada Tuhan.

Dan setelah itu muncul pemimpin luar biasa. Melantik mentri-mentri beserta dengan peti mati. Dan mengatakan bahwa yang korupsi akan dihukum mati. Tak lupa dia juga menyiapkan peti mati untuk dirinya. Dan kita semua tahu apa yang kemudian terjadi. China tumbuh. Pernah mencapai 8.8%. Cadangan devisa termasuk yang terbanyak di dunia. Pernah ada masa 50% besi dunia dipakai di China, untuk membuat jalan raya dan jaringan kereta api. Apa saja bisa dibuat di sana dengan harga terjangkau. Para mahasiswa di lapangan Tiananmen itu menjadi martir yang mengubah China.

Kalau begitu, Merdeka itu apa?
Hari ini kita merayakan Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke-73. Gereja Indonesia sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa ini, membawa sukacita kemerdekaan ini juga dalam liturgi Gereja. Saya tergerak untuk merenungkan apa artinya menjadi merdeka. Ketika belajar Etika Dasar, saya menjadi tahu bahwa ada dua jenis kemerdekaan. Merdeka dalam arti “bebas dari” dan merdeka dalam arti “bebas untuk”. Dalam pengertian yang pertama, “bebas dari” –jelas bahwa bangsa kita sudah bebas dari kuk perhambaan dari bangsa lain. Tidak ada bangsa lain yang membatasi kebebasan kita.

Namun dalam pengertian yang kedua, “bebas untuk” –merupakan proses panjang. Kemerdekaan dalam level ini berarti kita membebaskan diri dari nafsu-nafsu tidak teratur, cara berpikir sesat dan pendek, dan perasaan-perasaan negatif yang membelenggu kehidupan kita.

Seorang pejabat publik mengorbankan kepentingan orang banyak demi sogokan yang besar, merdekakah dia? Apakah bisa dikatakan merdeka para saudara yang kecanduan hal-hal negatif? Atau merdekakah kita kalau kita selalu dijerat sikap malas?

“Kemerdekaan untuk” rupanya bukan tindakan sekali jadi. Kita perlu melatih diri terus menerus untuk lebih menjadi merdeka: Lebih merdeka untuk mengasihi dan mengampuni sesama, kemerdekaan hati untuk lebih melayani sesama, Mari kita terus belajar untuk memerdekakan diri kita.

Sabda Yesus dalam Injil yang kita baca hari ini, “berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah” menguatkan kita agar kita memiliki kemerdekaan untuk berbuat sesuatu untuk negara kita ini. Dan kita tahu bahwa bagsa kita membutuhkan cinta dan perhatian dari warga negaranya. Yesus tak hendak memisahkan antara praktek keagamaan dan berbuat baik kepada bangsa dan negara. Yesus menegaskan bahwa bakti kepada Allah tidak terkurangi dengan bakti kepada negara. Justru bakti kepada Allah diekspresikan juga lewat bakti kepada bangsa dan negara. Dua-duanya bagaikan dua mata dalam satu koin uang. Tidak dapat dipisah-pisahkan

Pelayanmu dalam Tuhan,
P.Petrus Suroto MSC
CIC Chaplain

%d blogger menyukai ini: