Pastor, teman saya bertanya mengapa kamu menyembah wafer dalam Ibadat? Kenapa harus memakai perantaraan satu benda tertentu sebagai simbol dari Tuhan yang disembah? Bagaimana saya harus menjawab?

Jawab:
Dalam perayaan Ekaristi, hosti, setelah dikonsekrasi tidak lagi semata-mata hosti atau wafer. Dia benar-benar Tubuh dan Darah Kristus. Maka kita menyembah Pribadi Yesus dan bukan wafer. Hosti juga bukan hanya simbol dari Tuhan Yesus tetapi sungguh-sungguh Yesus yang hadir. Dalam Kitab Suci, Yesus menegaskan bahwa “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku , ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. m (Yoh 6:55-56).

Tuhan Yesus menyatakan secara harafiah, dan Dia menyatakan dengan sangat tegas hingga para pengikutnya tidak bisa menerimanya dan meninggalkannya (Yoh 6:66).

Rasul Paulus menyatakan (1 Kor 11:27 dan 1 Kor 10:16) dan menulis bahwa barangsiapa menerima komuni dalam keadaan tidak pantas. “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.” Penegasan ini berarti Paulus mengerti bahwa roti benar-benar pribadi Yesus.

Proses perubahan dari roti menjadi tubuh Tuhan, itu disebut transubstaio atau transubstantsi. Itu berarti roti dan aggur yang digunakan dalam Ekaristi, setelah dikonsekrir dalam Doa Syukur Agung, terjadi perubahan, bukan hanya simbol atau tanda tetapi juga adalah tubuh dan darah Yesus yang sesungguhnya. Substansi dari roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan DarahNya, namun yang dicerna oleh panca Indra tidak berubah.

Santo Thomas Aquinas menggubah lagu yang sangat bagus:

Aku sembah sujud di hadapan-Mu
Tuhan yang tersamar hadir di sini
Hanya rupa roti tertampak kini
Namun aku yakin akan sabda-Mu.
Pancainderaku tak menangkapnya
Namun aku yakin akan sabdaMu
Sebab hanya Sabda Allah Putra
Kebenaran Mutlak tak tersangkalkan

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: