Pernah saya membaca tentang kisah ini. Seseorang mengisahkan dengan hati getir tentang masa lalunya kepada seorang Romo yang sangat bijaksana. Tigapu luh tahun lalu dia pernah mendekam di pulau Buru sebagai tahanan politik. Dia berada di sana selama hampir lima tahun. Dan kenangan akan kesukaran, kesedihan, penderitaan di pulau Buru itu merampas segala kebahagiaannya. Setiap kali dia ingat akan pengalaman pahit Pulau Buru, kebahagiannya sirna.

Dan Romo yang bijaksana tadi menanggapi: “Kamu sudah bebas dari penjara tigapuluh tahun lalu. Tetapi mengapa penjara itu masih kamu bawa-bawa sampai sekarang?”

Kita semua memiliki masa lalu. Dan masa lalu kita tidak selalu cemerlang. Kita mungkin pernah ditipu sahabat sendiri, dikhianati orang yang pernah kita sayangi, mengalami kerusuhan, dibully waktu masa kecil dan bahkan mungkin dibesarkan oleh orangtua yang suka menghina, memojokkan, merendahkan: yang sering kita sebut sebagai Luka Batin.

Dan sepertinya, semakin sulit kita menerima diri sendiri, juga sulit bagi kita untuk menerima orang lain.
Orang kampung Nazareth, tempat Yesus dibesarkan, pernah mengalaminya. Sebagai orang kampung mereka mengalami banyak hal yang sulit: pajak, persembahan, perpuluhan, kekerasan dari para penguasa. Mereka merasa tidak aman. Kepahitan hidup itu membuat mereka tidak aman. Maka mereka berupaya agar tidak usah banyak bertingkah supaya aman.

Mereka heran mengapa Yesus menjadi penuh hikmat. Dan kepahitan masa lalu membuat mereka tidak mampu melihat hikmat dari Yesus. Mereka malah menjadi kecewa. “Bukankah Dia anak tukang kayu anak Maria?”Dan dampaknya luar biasa. Yesus tidak bisa membuat mujizat karena ketidak-percayaan mereka.Ketidakpercayaan mereka bersumber dari ketidakmampuan mereka menerima masa lalu. Seorang anak tukang kayu, Putra Maria mana mungkin mampu melakukan hal-hal besar seperti ini.

Rupanya mereka yang tidak bisa berdamai dengan masa lalunya juga sulit mendapat mujizat. Sama seperti seorang yang pernah dipenjara di pulau Buru tadi. Dia sudah bebas, tetapi tetap membawa-bawa penjara itu dalam dirinya.

Ketika saya bertugas sebagai pembina para calon biarawan-imam, salah satu retret yang sangat penting adalah penyembuhan luka batin. Luka batin itu jikaada akan sudah terlanjur mempengaruhi sifat dan perilaku kita. Cara penyembuhannya tidak dengan melupakan. Karena jika kita hanya melupakan, maka luka batin itu masuk dalam dunia bawah sadar. Tidak terdeteksi tetapi ada dalam timbunan dunia bawah sadar mempengaruhi perilaku kita.

Mampu memutar ulang luka batin kita, menyadarinya keberadaannya, merasakan luka yang ditimbulkan, mengakui dan berdamai dengannya adalah cara yang baik untuk berdamai dengan masa lalu kita. Dan ketika kita mampu berdamai dengan masa lalu kita: kita juga semakin mudah menerima orang lain… Dan akan terjadi mujizat dalam hidup kita.

Kata bijak mengatakan: Tuhan berilah aku kedamaian hati, untuk menerima apa yang tidak bisa saya ubah, mengubah apa yang bisa saya ubah, dan kebijaksanaan untuk membedakannya.

Pelayanmu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto
Chaplain CIC

%d blogger menyukai ini: