Romo, boleh gak sih misa di luar gedung Gereja?” “Pastor, boleh gak misa di rumah dan aula?”.

Ini adalah pertanyaan yang lebih selusin kali ditanyakan umat sejak saya menjadi Chaplain di CIC tujuh bulan ini. Dan jawaban saya, tunggu nanti saya tulis di buletin. Jawaban saya ini bukan “ngeles”, tetapi sejak awal saya sadar bahwa banyak dimensi yang harus kita hargai dan paparkan, dan tidak sekedar menjawab “boleh”atau “tidak”. Jawaban di buletin akan lebih komprehensif.

Adapun Halnya
Ketika salah seorang tokoh umat dalam pertemuan WADAH (Persekutun informal para pewarta CIC) menegaskan ketidaksetujuannya akan misa di luar gedung Gereja, saya berterimakasih dalam hati karena disadarkan betapa mulia misteri yang kita rayakan dalam Ekaristi. Ekaristi adalah pusat dan puncak kehidupan orang beriman kristiani. Maka tidak boleh dirayakan secara “ala kadarnya”saja. Dan misa yang terkesan “ala kadarnya” itu bukannya tidak ada. Beberapa kali saya tidak jadi merayakan misa dan saya ganti dengan ibadat sabda, karena tempat untuk perayaan tidak sesuai dengan keagungan misteri yang dirayakan. Misalnya meja yang digunakan terlalu pendek, terlalu kecil atau umatnya tidak siap untuk Ekaristi. Ada juga imam yang ditegur dengan sangat keras oleh Uskupnya karena dalam Ekaristi lupa membawa hosti dan hanya membawa anggur. Saya juga pernah membaca pendapat di salah satu milis, ketika serombongan frater memilih merayakan ibadat Sabda di hari minggu karena tidak ada hosti dan aggur, dan seseorang berpendapat mengapa tidak diganti teh dan kue kering saja?

Maka penegasan dalam pertemuan WADAH ini seperti mengembalikan Ekaristi pada jalurnya. Namun membatasi Ekaristi hanya di gedung Gereja juga bukan tanpa kesulitan, walaupun hal itu menjaga kemuliaan Ekaristi. Bukankah dalam banyak pengalaman, orang tersentuh imannya saat ikut misa di rumah? Dan bukankah Gereja kadang harus berupaya untuk mendekatkan Ekaristi ke umatnya? Keuskupan Agung Jakarta misalnya, mengkoordinir misa Jumper (Jumat Pertama) di perkantoran-perkantoran. Dan saat saya terlibat memimpin misa di BCA tower, Inti Land, atau Gedung Pertamina saya melihat umat yang jumlahnya banyak dan sangat rindu Ekaristi. Saya juga pernah bersyukur membawa Ekaristi di Gedung-gedung kementrian yang walaupun hanya 12 orang tetapi merasa bersyukur membawa Kristus di tempat itu. Saya juga pernah keheran-heranan karena melihat “kapel lengkap dengan jalan salib” di salah satu bank pemerintah. Namun saya juga pernah merasa kurang nyaman karena Ekaristi dirayakan di hall sebuah hotel dengan sound-system dan tata cahaya yang perfect. “Ini Ekaristi atau pertunjukan,” pikirku saat itu. Juga perlu kita pertimbangkan umat-umat yang karena satu dan lain hal belum memiliki gedung Gereja. Mereka harus misa di tempat-tempat sederhana, di ruang-ruang kelas.

Maka, mari kita respek pada mereka yang berpendapat bahwa misa hanya di Gereja saja, untuk mengingatkan kita kemuliaan Ekaristi, menyadarkan bahwa Ekaristi tidak boleh dirayakan ala kadarnya, namun juga Ekaristi bukan pertunjukan tetapi Ibadat. Namun di sisi lain mari kita juga membuka diri pada realita pastoral yang sering memerlukan kebijakan pastoral.

Pembahasannya
Perayaan Ekaristi diatur di CIC (Codex Iuris Canonici) atau Kitab Hukum Kanonik (KHK). Namun diatur juga dalam peraturan-peraturan liturgi, terutama PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi), seruan pastoral, dsb. Saya akan membahas hal ini dari tiga petunjuk dalam Gereja. Pertama Kitab Hukum Kanonik, kedua Pedoman Umum Misale Romanum dan ketiga dari Kitab Suci.

Adapun Aturan Hukumnya dalam Kitab Hukum Kanonik

Kan. 932 § 1 Perayaan Ekaristi hendaknya dilakukan di tempat suci, kecuali dalam kasus khusus kebutuhan menuntut lain; dalam hal demikian perayaan haruslah di tempat yang pantas.

Komentar
Kanon ini memakai kata ”hendaknya dilakukan”. Itu berarti dianjurkan atau dinasehatkan agar Perayaan Ekaristi dilaksanakan di tempat suci. Tempat suci artinya gedung gereja yang sudah diberkati atau gereja Katedral yang sudah ditahbiskan. Namun kata hendaknya berbeda dengan kata harus. Jika dipakai kata harus maka tidak ada kemungkinan untuk merayakan ekaristi di luar gedung gereja. Pilihan kata “hendaknya” membuka kemungkinan di luar tempat suci. Namun hanya dalam “kasus khusus kebutuhan menuntut lain.” Tidak dijelaskan benar maksud kategori kasus khusus dan kebutuhan menuntut lain itu sehingga membuka pada banyak penafsiran. Apakah ulangtahun bisa dijadikan kasus khusus sehingga bisa misa di rumah? Apakah peringatan kematian bisa dianggap kasus khusus? Apakah misa wilayah (yang tentu saja di rumah) juga kasus khusus?

Dalam kasus ini, Ordinaris Wilayah (Uskup) yang memiliki kewenangan untuk menafsirkan bagi Keuskupannya. Di Indonesia sepertinya diperkenankan. Buktinya ada kebiasaan misa Lingkungan, bahkan ada Misa Padang atau alam terbuka dan koordinasi misa Jumat pertama di perkantoran. Bisa jadi di tempat lain dibuat persyaratan yang lebih ketat. Di Keuskupan Agung Sydney, ketika saya bertanya kepada konfrater senior dijawab “tidak ada larangan”.

Walaupun dibuka kemungkinan untuk misa di luar gedung Gereja, ditekankan bahwa perayaan diselenggarakan di tempat yang pantas. Tentu artinya bukan harus mewah dan nyaman, tetapi harus dibersihkan dan dirapikan karena dalam Ekaristi Yesus sungguh-sungguh hadir dalam roti dan anggur. Kepantasan tempat adalah cerminan iman kita akan misteri yang dirayakan (Bersambung).

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC.
Chaplain.

%d blogger menyukai ini: