Kan. 932 § 2 Kurban Ekaristi haruslah dilaksanakan di atas altar yang sudah dikuduskan atau diberkati; di luar tempat suci dapat digunakan meja yang cocok, dengan harus selalu ditutup kain altar dan korporal.

Kanon ini memberi anjuran agar Ekaristi diadakan di tempat yang pantas yaitu altar yang sudah dikuduskan atau diberkati. Tahukah anda bahwa di altar yang baik ada reliqui martir dan para kudus? Reliqui (relic) artinya potongan peninggalan para kudus, sangat kecil, yang kemudian ditaruh di altar. Ketika membuka dan menutup misa, imam mencium altar yang ada reliquinya sebagai ungkapan bahwa umat beriman mencintai kekudusan.

Reliqui juga menyimbolkan kehidupan para kudus di Surga. Lho, kok bisa? Di Gereja-gereja yang klasik dan tua, biasanya di Gereja ada bangku di dalam gereja. Bangku-bangku itu menyimbolkan umat katholik yang masih berziarah di dunia ini. Di dekat gereja juga biasanya ada makam. Baik di Crypt dan ditaruh di dinding gereja, atau pemakaman di pelataran gereja yang menyimbolkan umat yang masih berjuang di api pencucian. Dan reliqui di altar yang menyimbolkan umat yang sudah bahagia di surga.

Menghormati altar menjadi ungkapan mencintai dan pengingat akan kehidupan bahagia di surga. Kanon ini juga menyingkapkan diperkenankannya misa di luar gedung gereja, yang diidentifikasikan dengan kalimat “di luar tempat suci”. Namun diberi persyaratan yaitu altar harus ditutup dengan kain altar warna putih dan kain korporal (kain putih berlipat 9). Di atas korporal itulah tubuh dan darah Yesus di tempatkan. Di atas korporal itulah akan terjadi transubstantio. Roti dan anggur yang walau wujudnya tetap nampak sebagai roti dan anggur tetapi secara hakekat berubah menjadi tubuh dan darah Kristus.

Dari Persektif Kitab Suci

Sebenarnya tidak ada jawaban langsung dari Kitab Suci apakah diperkenankan misa di luar gereja atau tidak. Memang ada perikope-perikope yang menceritakan Yesus memecah-mecah roti di rumah dan bukan di Gereja. Misalnya ketika Yesus memecah-mecahkan roti di Emaus (Luk 24:13-25), atau ketika mengadakan perjamuan bersama para murid. Namun tidak hendak menjawab misa harus di gereja atau di rumah. Dikarenakan konteks saat Injil ditulis, Gereja masih ada pada zaman sulit dan bahkan mengalami banyak penganiayaan. Kekristenan masih kelompok dan gerakan kecil. Orang-orang kristen sering difitnah dan dijadikan kambing hitam; dan berakhir dengan kematian sebagai martir.

Pada waktu itu ekaristi dilakukan di katakombe dan tempat-tempat rahasia. Penanda yang sering digunakan adalah simbol ikan. Kenapa ikan? Ikan dalam bahasa Yunani adalah ICTHUS. Dan menjadi kepanjangan dari Iēsous Christos, Theou Yios, Sōtēr; dan dalam bahasa Inggris: ‘Jesus Christ, Son of God, Saviour’. Yesus Kristus, Putera Allah, Penyelamat.
Praktek Ekaristi di gedung-gedung Gereja nan megah baru dimulai saat kekristenan diakui oleh penguasa Roma, kaisar Konstantinus pada tahun 313.

Tanda yang paling kuat yang harus kita renungkan adalah: Yesus mempersembahkan diri di salib di bukit kalfari, di luar tembok kota Yerusalem. Yesus mengurbankan diri bukan di dalam Sinagoga tetapi di luar tembok Yerusalem. Dan bahkan saat Yesus menyelesaikan kurban agungnya, tirai Bait Suci terbelah. Banyak teolog menafsirkan akan kehendak Allah untuk ditemui oleh umatnya.

Namun inipun juga tidak menjadi jawaban langsung boleh tidaknya perayaan ekaristi dilakukan di rumah-rumah. Namun menjadi pengingat bahwa Ekaristi pada hakikatnya adalah pengurbanan. Adalah hal yang sangat aneh kalau ekaristi dirayakan oleh orang-orang yang tidak tahu dan tidak mau berkuban bagi keselamatan. Dan pengurbanan yang kita rayakan di tempat-tempat ibadat itu harus kita bawa ke pinggir-pinggir kehidupan: keluarga, tempat kerja dan dunia sekitar kita.
(Bersambung)

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC.
Chaplain.

%d blogger menyukai ini: