Minggu lalu, di Gereja St. Yoseph Newtown, saat Aping mendekati saya dan memberitahu ada bom di Surabaya, saya masih discern: ini hoax atau kejadian nyata. Dan saya berdoa dalam hati itu hanya berita hoax. Tetapi ketika tahu bahwa itu benar adanya, hati saya menjadi gundah. Apalagi saat tahu bahwa diantara para kurban, ada yang punya kerabat di CIC Sydney.

Budaya kekerasan ternyata sangat subur di tanah kelahiran kita. Dan, sedihnya, diatasnamakan pada iman pada Allah Pencipta. Belakangan ini, intoleransi memang semakin subur. Ketika saya masih kecil, saya masih menikmati persahabatan dengan teman-teman beragama lain di kampung saya: kami bermain, tertawa, berenang di sungai, belajar bersama. Tetapi sekarang anak-anak sejak awal diajari untuk melihat bahwa kita berbeda, mulai dari atribut pakaian yang dikenakan. Semakin terpisah antara kaum mereka dan kami.

Yang pertama: mari kita doakan para korban yang tidak bersalah di dalam doa dan Ekaristi kita. Semoga mereka mendapatkan istirahat di Surga dan dikaruniai kebahagiaan abadi. Amin.

Terorisme adalah kejahatan luar biasa. Jika kita berperang dengan negara lain, kita tahu siapa musuh kita. Tapi teroris bisa di mana saja. Bisa di samping, depan, belakang. Bisa di pertokoan, jalananan, rumah, bahkan tempat ibadat. Terorisme menebarkan ketakutan dan kengerian. Maka kita perlu berhati-hati saat meneruskan video atau gambar kengerian berdarah-darah yang banyak beredar. Jangan-jangan yang melihat tidak kuat. Ada lagi yang menjadi takut. Karena itulah yang diinginkan para teroris: menebar ketakutan. Setiap kita ingin meneruskan berita, gambar, video baiklah kita menimbang dengan tiga pertanyaan ini: 1). apakah berita ini benar. 2). Jika benar, apakah itu baik untuk disebarkan. 3). Dan jika benar dan baik, apakah bijaksana untuk disebarkan. Saya tidak bermaksud melarang meneruskan berita, tetapi kita harus discern terlebih dahulu.

Di dalam kepahitan, kita mendapatkan figure orang Katholik sejati. Namanya Aloysius Bayu Rendra Wardhana. Pastor Antonius, Pastor Paroki Paroki Santa Maria Takbercela, menuturkan saat itu di Gereja Santa Maria Tak Bercela sementara pergantian antara misa pertama dan kedua, ada sepedamotor mengarah masuk ke Gereja. Dan Bayu menghadang sepedamotor itu, menghalangi masuk ke Gereja. Dan bom meledak. Bayu gugur. Jika sepeda-motor pembawa bom itu masuk ke Gereja, berapa banyak akan menjadi kurban? Terimakasih Bayu, atas pengorbananmu.

Saya juga dikejutkan ketika membaca berita bahwa keluarga memaafkan para teroris, terlebih yang masih anak-anak. Sedangkan keluarga teroris sendiri enggan untuk menerima jazad mereka. Mereka bersandar kepada sang Guru kehidupan yang mengajarkan: “Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk: 23:34. Dan semoga ayat 23:43 terjadi pada diri Bayu).

Contoh dan teladan mereka, menguatkan kita. Memberanikan kita. Don’t be afraid, Be brave. Kita tidak bisa tunduk kepada ketakutan dan kengerian. Waspada, ya. Harus. Misalnya salah satu Gereja di Jakarta memiliki titik CCTV sampai 30. Tetapi takut dan sembunyi: tidak. Kita harus berbuat sesuatu. Meski kecil tetapi mengekspresikan cinta dan kepedulian kita. Pada hari Rabu yang lalu, bekerjasama dengan Paroki Kensington kita sudah berdoa bagi para korban. CIC juga menampung sumbangan atas nama Catholic Indonesian Community no 012303 585711317 disc DonasiSby, dan kemudian menyalurkan kepada yang membutuhkan, tali kasih kita kepada mereka yang memerlukan uluran tangan. Saya belum tahu detil praktisnya penyalurannya, tetapi Rabu depan seyogyanya sudah disalurkan.

Teroris juga berhubungan dengan politik. Partai-partai tertentu cenderung ramah kepada aliran garis keras. Maka mari kita bagi yang masih warga Indonesia, berpartisipai dalam Pemilu. Kebetulan Ketua Panitia Pemilihan Luar Negri adalah umat CIC. Tidak hanya memilih Presiden, tetapi juga memilih anggota DPR. Jika tidak kenal orangnya, minimal pilihlah partai-partai beraliran nasionalis yang mengedepankan kebinekaan.

Dan mari kita menyuburkan budaya damai. Dan mari mulai dari hati kita. Di hari Pentakosta ini, mari kita selalu hidup di dalam tuntutanan Roh Kudus. Dan jika kita hidup dalam bimbingan Roh Kudus, hidup kita akan ditandai dengan: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, sikap lemah lembut dan penguasaan diri. (Gal. 5:22).

Pst. Petrus Suroto Msc
Chaplain CIC Sydney

%d blogger menyukai ini: