Tanya
Romo, Selain Ekaristi saya juga berlatih meditasi dan berdoa Rosario. Kadang-kadang saya juga berpuasa. Dalam doa saya sering bolong-bolong alias tidak setia. Tertidur sebelum Rosario selesai, tidur waktu meditasi. Apakah doa saya bias dikatakan baik? Bagaimana mengetahui doa saya sudah baik atau belum?

Jawab
Selain Ekaristi, doa-doa Gereja seperti doa rosario, meditasi, kontemplasi dan lain-lain disebut juga sebagai Latihan Rohani. Sebagaimana kita juga melatih tubuh kita dengan latihan-latihan: jalan sehat, main bulutangkis, jogging agar tubuh kita sehat, maka kriteria latihan rohani yang baik adalah rohani kita sehat.

Untuk dapat mengetahui apakah doa kita sudah baik atau belum, yang kita lihat justru adalah dampaknya. Kita harus bersungguh-sungguh (khusuk) dalam berdoa, tetapi bukan itu yang menjadi sasaran utama. Doa yang baik akan berpengaruh kepada perilaku hidup harian kita. Maka evaluasi doa adalah: Apakah engkau berkembang di dalam cintakasih dan pengurbanan diri, apakah engkau berkembang di dalam kesabaran, apakah engkau lebih memiliki hati yang luas untuk mampu mendengar dan mengerti sesama. Itulah yang menjadi takaran kita di dalam doa. Efeks positif itu berbeda-beda untuk pribadi satu dengan yang lain. Ada orang yang membutuhkan waktu yang lama agar latihan rohaninya membuahkan hasil. Ada orang yang kecenderungannya untuk mementingkan diri sendirinya begitu besar sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengubahnya. Ada juga yang latihan sedikit saja sudah membawa banyak manfaat bagi kehidupan yang lebih dibaktikan kepada Tuhan dan sesama.

Jadi dalam latihan doa, kita jangan terlalu terfokus kepada tehnik, berapa lama, merasakan kepuasan atas kehadiran Tuhan saat doa atau tidak. Yang paling penting adalah keberanian kita untuk tetap konsisten di dalam latihan rohani. Tetap bersungguh-sungguh. Kita tetap berjalan dan tidak berhenti. Maka sebelum mulai berdoa, doa pembukaan yang dianjurkan adalah, “Tuhan semoga doaku ini menjadi pujian dan pengabdianku pada-Mu”. Doa adalah pengabidan dan bakti kepada Tuhan. Tetapi buah-buahnya bisa dilihat dalam kehidupan yang nyata.

Karena latihan rohani sebenarnya adalah sebuah perjalanan. Perjalanan untuk semakin jauh dari sikap egois, semakin menjauhi sikap mementingkan diri sendiri, menjauh dari kecenderungan untuk terkungkung dan merasa sepi dengan diri sendiri, dan semakin mencintai seperti Yesus mencintai.

Latihan meditasi misalnya, membuat kita menjadi semakin sederhana dan simple. Kita semakin berserah kepada Tuhan. Kita selalu membuka tangan kepada kebaikan Tuhan. Dan sikap itu akan membawa kita kepada suka cita yang berasal dari kedalaman hati kita.

Sebaiknya anda Tahu

Babtis Darurat
Dalam bahaya maut seseorang bisa dipermandikan, oleh siapa saja, asalkan sebelumnya pernah menyatakan keinginan untuk dipermandiakn dan jika sembuh akan setia untuk menjalankan imannya (Bdk Kan 865). Syarat pembabtisan adalah: menggunakan materia berupa air dan dengan mengucapkan (forma): aku mempermandikan engkau Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19).

Babtis Darah
Istilah ini dipakai untuk menunjuk kepada seseorang yang ingin dipermandikan dan sudah menjalani masa katekumen, namun wafat karena membela iman.

Babtis Kerinduan
Jika ada orang yang ingin dipermandikan secara katholik dan sudah menjalani masa katekumen namun meninggal sebelum dipermandikan, dia menerima babtis kerinduan.

Saudaramu dalam Tuhan,
Rm. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: