Memasuki masa Prapaskah, kita diajak untuk bertobat. Berbalik dari hidup lama yang diwarnai dosa dan mengarahkan diri kepada Yesus dan ajaran-Nya. Ada dua model pertobatan yang ditunjukkan Yesus. Mari kita simak:

Pertobatan Model Anak Bungsu

Anak bungsu adalah model orang yang terserap dengan kepentingan diri sendiri dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Dia jatuh dalam dosa yang jelas dan kelihatan sehingga dia tidak mungkin menyangkalnya. Ketika dia memiliki ide atau gagasan, dia menjual harta ayahnya yang menjadi bagiannya. Kemudian dia memboroskan untuk hidup berfoya-foya dan habis dalam sekejap. Dia jatuh miskin dan terpaksa menjadi hamba dan bekerja di ladang menggembalakan babi. Dia menjaga babi, yang bagi orang Yahudi adalah binatang najis, di negeri yang asing. Dan jika ia memutuskan untuk kembali ke rumah ayahnya, itu bukan karena ia menyesali sikapnya kepada Ayahnya, tetapi karena dia kelaparan. Dia ingin makan ampas makanan babi tetapi tidak ada yang memberikan. Yang mendorang pertobatannya bukan pertama-tama bukan cinta kepada bapanya, tetapi karena perutnya yang lapar. Rumusan “tobat” yang ia persiapkan, “aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa” merupakan hasil dari olah pikirannya dan bukan sesuatu yang spontan yang meluap dari hati. Rumusan itu dibuat untuk mendapatkan makanan, dan bukan meminta maaf kepada Ayahnya, “Betapa banyak orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makannya, tetapi di sini saya kelaparan.

Tetapi reaksi ayahnya sungguh mencengangkan:

“Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya lalu tergeraklah hatinya oleh belaskasihan” (Luk 15:20 a). Berarti ayahnya selama ini menunggu kedatangannya, merindukannya, maka segera ia mengenalinya. “berlarilah ia mendapatkan anaknya, merangkul dan menciumnya” (Luk 15:20 b). Reaksi seorang ayah yang mencintai anaknya, tetap megikuti anaknya dengan kasihnya. Ayah itu tetap memiliki hati yang besar untuk anaknya, dia mengampuninya, kembali menjalin relasi.

Ayah itu bukan hanya mengampuni tetapi memulihkan martabat anaknya. Dia memberi jubah yang terbaik dan tidak sekedar pengganti baju kotor penjaga babi. Jubah terbaik adalah simbol kehomatan dan kuasa (Kej 41:42). Cincin: simbol dari kuasa atas kekayaan ayahnya. Sepatu berarti akhir dari masa perkabungan (Yeh 24:17, Yes 20:2) Anak lembu tambun, yang hanya diberikan kepada saat istimewa (kej 18:7). Anak bungsu itu sudah mengalami kasih yang begitu besar, diberi kepercayaan dan kekuasan yang besar. Sekarang diharapkan bahwa anak takjub dengan kasih Bapanya, dan akan memakai sisa hidupnya itu untukn mewujudkan cara hidup baru dengan mengasihi dan mengampuni sesama, seperti yang dibuat ayahnya kepada-Nya. Pengalaman kasih Allah yang begitu besar itu bisa menghantar orang untuk mempersembahkan kebebasan, kehendak, budi dan ingatan supaya dipakai untuk kepentingan-kepentingan Allah.

Model kedua: anak sulung

Anak sulung yang dikisahkan Yesus juga bukan tipe orang yang 100% benar dan tidak membutuhkan pertobatan. Dia adalah tipe orang yang tidak memiliki dosa yang besar, tetapi imannya kurang bertumbuh. Yang menghambatnya adalah dosa-dosa kecil, tetapi sering menjadi biang dari dosa yang lebih besar. Ketika dia pulang dari ladang dan tahu bahwa adiknya pulang dan dipestakan, timbul rasa iri hati, rasa marah dan ngambek tidak mau masuk rumah (Luk 15:28). Dan betapa baik hati Bapanya itu, sampai dia keluar dan berbicara dengan anak sulungnya itu. Bapa itu berisinisatif untuk menjalin hubungan dengan anaknya. Dan bayangan gelap dalam hati anak sulungnya itu makin kelihatan: yaitu merasa diri lebih baik dari orang lain, menuduh Bapanya tidak adil, mencurigai adiknya memboroskan kekayaan dengan pelacur-pelacur, padahal dalam narasi sebelumnya tidak disebut kata pelacur. Mungkin pikirannya sendiri yang menginginkannya dan itu terproyeksi dalam diri adiknya. Dan Bapa yang baik itu menerangkan dan mengajarkan tentang sikap hidup yang baik.

Para saudara, kisah tentang anak yang hilang itu sebenarnya belum berakhir. Anak yang bungsu harus menunjukkan buah pertobatannya dengan laku yang baik, dan mencontoh sikap Bapa-nya. Anak yang sulung juga harus menapaki jalan kebaikan hati lewat kemampuan untuk berbahagia dengan sesamanya.

Sebagai pendalaman refelksi mari kita pikirkan. Dalam bertobat, anda lebih mirip anak yang pertama atau yang kedua? Allah yang kita imani apa sama dengan yang Bapa dikisahkan Yesus. Lalu bagaimana pengaruhnya dalam tingkah laku hidup harian kita?

Saudaramu dalam Tuhan,
Rm. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: