Para saudara, hari ini  kita merayakan Hari raya Tubuh dan Darah Kristus, atau Corpus Christi. Dalam Theologi Kristen, Corpus Christi merujuk pada dua hal yang agak berbeda. Yang pertama adalah Ekaristi di mana dalam konsekrasi hosti dan anggur benar-benar menjadi tubuh dan darah Kristus. Yang kedua merujuk kepada teologi Paulus bahwa kita adalah tubuh Kristus di mana Kristus adalah kepala dan kita anggota-anggotanya.

Tubuh dan Darah Kristus dalam Ekaristi

Ekaristi adalah pusat dan puncak kehidupan kristiani. Yang kita rayakan dalam Ekaristi adalah the real presence dari tubuh dan darah Kristus. “Sebab dagingku adalah benar-benar makanan dan darahku adalah benar-benar minuman” (Yoh 6:55). Proses perubahan itu disebut sebagai transubstantio. Transubstantio berarti perubahan subsatansi atau hakekat. Walaupun secara kasat mata tetap sama: roti tetap roti dan anggur tetaplah berasa anggur, tetapi dalam hakekat sudah berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, Putra Allah. Maka Gereja Katholik sangat menghormati Ekaristi. Terutama di dalam Ekaristi, namun juga bentuk-bentuk lain seperti adorasi atau pentahtaan. Sakramen Mahakudus.Perayaan Tubuh dan Darah Kristus ditetapkan oleh Paus Urbanus dan dirayakan untuk pertama kalinya pada tahun 1264. Paus Urbanus juga meminta St. Thomas Aquinas untuk menggubah sajak untuk menghormati Ekaristi. Gubahan St. Thomas Aquinas itu masih terjaga sampai sekarang dalam lagu yang sering kita dengar dalam nyanyian di Gereja: Pange Lingua, Tantum Ergo, Panis Anglicus dan O Salutaris Hostia. (Semoga suatu saatu saat kita mendengar lagu-lagu itu di Gereja CIC…. ) Setiap kali kita menerima tubuh Kristus dalam mujizat Ekaristi, kita benar-benar menerima tubuh Kristus. Kita tidak bisa merasakan dengan cita rasa fisik, tetapi dalam iman kita tahu bahwa kita  menerima Kristus. Kita bersatu dengan Kristus. Kita menjadi anggota tubuh Kristus.

Tubuh dan Darah Kristus dalam Teologi Paulus

Paulus sudah jatuh hati pada pemahaman tubuh Kristus sejak saat pertobatannya. Dalam perjalanan ke Damsyik untuk menangkap para pengikut Yesus, Dia mengalami perjumpaan dengan Yesus.  Dan ada suara, “Saulus mengapa engkau menganiaya Aku” (Kis 9:5). “Siapakah Engkau Tuhan?”.  “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kis 9:6). Yesus mengidentikkan diri dengan jemaat-Nya. Dari sabda itu, Paulus menyadari bahwa Kristus mengidentifikasikan dengan para pengikut-Nya. Jika ia menganiaya Jemaat berarti ia menganiaya Yesus sendiri. Paulus, lantas, merefleksikan dalam Surat-surat Pastoralnya bahwa Yesulah kepada Gereja dan seluruh anggota Gereja adalah tubuhnya. Di sinilah kemudian dimunculkan teologi tubuh Kristus atau corpus Christi. Paulus mengajarkan agar Komunitas-komunitas Kristen bersatu hati menjadi satu tubuh. (1 Kor 12:12-14). Paulus menggunakan gambaran tubuh untuk menekankan kesatuan dalam Gereja. Kristuslah pusat iman kita. Segala tindakan kita mengacu kepada ajaran Tuhan. Maka kita sebagai anggota-anggota tubuh-Nya dipanggil untuk mempersembahkan bakat dan ketrampilan kita kepada Tuhan melalui Gereja-Nya.

Martabat Tubuh Kristus

Dengan Sakramen Inisiasi (babtis, Ekaristi dan Krisma) , kita dipersatukan dengan Kristus. Pada waktu dipermandiakan kita menjadi anggota tubuh-Nya. Saat kita menerima Sakramen Ekaristi, kita menerima Yesus sendiri, kita diberi minum oleh satu Roh. Kita juga sudah ditebus dengan darah muliaNya. Dan sebagaimana Yeus lahir, berkarya, wafat dan naik ke surga, kitapun yang percaya akan mengalami hal yang sama. Kita lahir dan punya pengharapan besar akan bangkit bersamaNya. Kenapa begitu? Karena kita sudah persatu dengannya di dalam Sakramen-sakramen Inisiasi.

Darah Kristus

Menerima darah Kristus berarti kita menerima “semangat” Yesus sendiri. Jika dikatakan kita beriman kepada Yesus, maksudnya adalah Yesus ada di hati kita. Maka semangat Yesus kita batinkan dalam hati kita dan kita laksanakan dalam kehidupan harian kita.

Persatuan diantara murid-murid Kristus

Jika kita adalah tubuh Kristus, maka kita bersatu sebagai tubuh-Nya. Gereja pada hakikatnya adalah tubuh Kristus itu sendiri. Maka diantara para pengikut Yesus haruslah saling berempati. Sebagaimana mata akan berlinang air mata jika kaki tertusuk paku,

demikian kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudari kita dalam Kristus. Kemampuan untuk merasakan itu dalam bahasa spiritualitas disebut sebagai compassio (cum=bersama, pattior: penderitaan) bisa merasakan penderitaan sesama. Ini sudah, sedang dan akan selalu dilakukan di dalam kegiatan-kegiatan pastoral CIC. Legioner mengunjungi orang-orang sakit, dalam kegiatan kelompok doa kita saling menguatkan, ketika ada bom di Gereja kita berkumpul, berdoa dan bahkan mengumpulkan dana untuk membantu mereka. Kita akan selalu menjadi tubuh Kristus.

Maka para saudara, mari kita memperdalam intimitas kita dengan Tuhan, menerima semangatnya. Dan dengan sesama umat beriman kita bisa membangun sikap empati dan persekutuan. (Bahan ini pernah disampaikan di kelompok Corpus Christi).

Pst. Petrus Suroto MSC
Chaplain CIC Sydney

%d blogger menyukai ini: