Kita bisa belajar dari tokoh bernama Walter Chysler (2 April 1875-18 Agustus 1950). Ia memulai kariernya sebagai tenaga mekanik di sebuah bengkel. Dia menghemat dan berhasil menabung US$ 40.000. Dia memutuskan untuk membuka usaha sendiri sehingga memakai seluruh uang tabungannya untuk modal.

Yang membuat tercengang teman-temannya adalah dia memakai uangnya untuk membeli mobil  baru. Kemudian mebongkar mobil itu dan memasangnya berkali-kali. Orang menduga dia sudah gila. Padahal Chysler memiliki rencana yang matang untuk membangun industri mobil. Dengan membongkar dan memasangnya lagi, dia tahu bagian-bagian  mobil yang baik dan yang kurang baik. Ia fokus pada keinginan mendirikan usaha mobil. Dialah pendiri Chysler Corporotion.

Para saudara, dalam bacaan Injil Yesus mengutus para murid berdua-dua untuk mewartakan kabar gembira. Kepada mereka Tuhan Yesus memberikan kuasa atas roh-roh jahat dan berpesan kepada mereka supaya mereka tidak membawa apa-apa di jalan, termasuk roti, uang dan perbekalan.

Apa yang dimaksud Yesus sehingga Yesus begitu membatasi perbekalan? Yesus ingin agar para murid fokus pada tugas perutusan. Yesus ingin agar para murid bekerja efektif sehingga rahmat dan kuasa yang mereka terima dapat disalurkan dan diterima umat terututama yang miskin dan menderita, tanpa terhalang hal-hal yang kurang berguna.

Stephen R Covey, penulis buku terkenal menyebut fokus sebagai Mulai dari Tujuan Akhir. Apa sebenarnya yang kita cari dalam kehidupan ini? Sebagai orang beriman, tujuan akhir kehidupan tidak kita batasi pada pencapaian duniawi seperti karier, membangun rumah atau membeli kendaraan. Tetapi sampai pada kehidupan abadi: mencari keselamatan jiwa.

Para saudara, fokus adalah hal yang penting dalam hidup. Seringkali hidup seperti bergerak di tempat karena kita terlalu dibebani dengan berbagai macam tetek bengek yang tidak perlu. Kita sangat sibuk tetapi tidak efektif. Untuk menjadi fokus, kita perlu bertanya, “Apa misi Tuhan kepadaku, apa yang Tuhan kehendaki?”. Kemudian kita fokus pada hal-hal penting, seperti semboyan klasik, non multa sed multum , bukan banyaknya hal yang kita lakukan tetapi kedalamannya.

Pelayanmu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: