Para saudara-saudariku, umat Katholik di Sydney yang dikasihi Tuhan,

  1. Pertama-tama, terimakasih kepada Pastor Aloysius Tamnge MSC, yang telah mendarmabaktikan hidupnya untuk pelayanan di CIC Sydney. Pastor Alo adalah hadiah Tuhan untuk umat CIC. Beliau adalah Misionaris Hati Kudus sejati. Sebelum berkarya di CIC Sydney, beliau telah bertugas di tempat-tempat yang sulit dan menantang: di pedalaman Papua, di kepulauan Aru, pusat rehabilitasi narkoba dan terakhir di pastoral mahasiswa. Latar belakang itu mewarnai reksa pastoral yang khas di CIC Sydney, yaitu Pastor Alo suka blusukan dan mengenal umatnya. Pastoral mahasiswa membuatnya juga suka berdiskusi. Kedekatan dengan umat itulah yang membuat Pastor Alo berani mengambil keputusan-keputusan penting di CIC Sydney: merapikan struktur pelayanan, mempersatukan umat dan kebijaksanaan keuangan bersama. Terimakasih untuk semua hal baik yang telah Pastor Aloysius berikan kepada kami. Saya pribadi tentu tidak bisa berkarya seperti Pastor Alo karena setiap orang memiliki kekhasannya masing-masing: bakat dan ketertarikan di satu sisi dan keterbatasan-keterbatasan manusiawi di sisi lain.
  2. Adalah hal yang sangat indah bahwa Pastor Alo tidak langsung meninggalkan medan pelayanan, tetapi menemani saya selama lebih kurang dua setengah bulan. Waktu dua setengah bulan itu saya pakai untuk menyerap berbagai pengetahuan dan hal-hal tehnis dari reksa pastoral di CIC Sydney, sehingga masa-masa ini saya jalani sebagai MASA ORIENTASI.
  3. Dan apa saja yang saya lihat dalam masa orientasi? Pertama, sebelum saya berangkat dan masih tinggal di Jakarta, beberapa umat berpesan agar saya memperhatikan anak-anak mereka yang kuliah di Sydney, terutama dalam hal iman dan moral keagamaan. Kedua, saya mendengarkan pentingnya pendampingan pastoral bagi anak-anak orang Indonesia yang lahir di Sydney. Ketiga, saya mendengar syering dari beberapa umat bahwa mereka sungguh capai bekerja, di rumah tidak ada asisten rumah tangga, dan mereka membutukan penyegaran rohani: yang rileks namun berbobot. Keempat, saya melihat umat yang bahagia, bergairah dan murah hati dalam pelayanan. Ada kelompok bina iman yang cukup banyak, dedikatif, dan bersemangat. Kelima, pendahulu saya, terutama Pastor Aloysius sudah menciptakan mekanisme dan sistem yang cukup “working”. Keenam, wilayah pelayanan CIC Sydney sangatlah luas. Umat Katholik Indonesia tersebar di wilayah City, Chatswood, Parramatta, Campbeltown, Hurtsville, Blacktown, Epping, Ryde. Saya tidak tahu apakah ada umat katholik Indonesia di Camden, Windsor, St. Mary. Umat Indonesia itu sebagian terserap di paroki-paroki lokal. Dan sebenarnya hanya sedikit yang terjaring dalam “paroki kategorial”CIC. Ketika bertemu dengan Chaplain, adalah kesempatan yang bagus. Mereka pengin bercerita dan ada hal-hal praktis yang ingin disampaikan. Dan yang ketujuh, dan ini yang terakhir, tidak semua umat kita “baik-baik”saja. Ada umat kita yang terkena berbagai kesulitan dari masalah pekerjaan, visa, kesehatan, masalah keluarga dan lain-lain.
  4. Dari berbagai situasi di atas, saya juga segera dihadapkan pada satu kenyataan: waktu dan tenaga Chaplain terserap pada pelayanan-pelayanan rutin pada hari Sabtu dan Minggu. Sungguh sulit untuk mendapatkan ruang dan waktu untuk mengerjakan hal-hal yang lebih “tanggap masalah”. Kendati saya sadar bahwa hal rutin pun juga baik. Sementara pada hari-hari lain umat bekerja dan tidak mudah membuat acara di luar hari Sabtu dan Minggu.
  5. Bagaimanakah supaya menjadi Chaplain yang “faithful and responsible”itulah yang saya doakan dan renungkan beberapa hari ini. Dalam renungan, saya meyakinibahwa Ekaristi CIC Hari Minggu bersama dengan acara “kekeluargaan-nya”tetaplah merupakan prioritas. Ekaristi dan kebersamaan di CIC bisa menjadi oase bagi umat setelah menjalani hari-hari sibuk. Kelompok-kelompok Bina Iman dan Forum-forum dalam keluarga CIC bisa tali-temali membangun jaring supaya bisa “menjala manusia”. Selain memperdalam iman dalam kelompok mereka, kelompok-kelompok ini juga dipanggil untuk merasul dalam pelayanan kepada umat CIC yang di luar keanggotaan bina iman mereka.
  6. Saya juga segera tahu bahwa tidak-mungkinlah Chaplain CIC mewujudkan semua harapan-harapan umat. Pun demikian, saya memohon doa para saudara agar saya -yang penuh keterbatasan ini bisa menjalankan tugas chaplain dengan setia. Seraya mempercayakan diri pada belas kasih dan rahmat Tuhan, saya menginternalisasi tugasChaplain: yang mudah diakses oleh umat, pun di hari sabtu dan minggu, untuk tetap bisa memberikan quality time, chaplain yang pada hari senin dan selasa memakai waktu untuk day of, dan juga untuk belajar, membaca buku-buku suci agar renungan-renungannya berbobot, Chaplain yang cukup gesit dan “tahu jalan” sehingga mudah jika dipanggil umat, Chaplain yang punya meja kerja di mana umat bisa bertemu di ruangan yang cukup privat namun juga cukup terbuka. Dan chaplain yang cukup setia dalam hidup rohani, mewakili dan atas nama umat yang sibuk bekerja, mendoakan doa-doa resmi harian Gereja. Pendek kata, semoga “menjadi saudara bagi umat beriman.”
  7. Mari para saudara, kita bekerja-sama, bahu-membahu, tolong-menolong. Dan semua yang kita lakukan adalah ekspresi para murid Yesus yang ingin memuji, menghormati dan melayani Tuhan.

Di hari serah terima,
Pst. Petrus Suroto MSC,
CIC Chaplain

%d blogger menyukai ini: