Theolog besar Gereja, St. Agustinus, konon kabarnya pernah gundah merenungkan misteri Allah Tritunggal. Maka ia berjalan-jalan di pantai dan pikirannya tidak berhenti merenung. Dilihatnya seorang anak kecil membuat kolam kecil di pantai dan hilir mudik mengambil air laut dengan tempurung kelapa dan dimasukkan ke dalam kolam buatannya.

Keheranan, Agustinus mendekat dan bertanya, “Nak, apa yang sedang engkau lakukan?” Si anak menjawab sambil lalu, “Aku akan memindahkan laut ke kolamku”. Dan Agustinus tersenyum meng-geleng-gelengkan kepala. “Nak, itu tidak mungkin. Kolammu tidak akan cukup untuk menampung air sebanyak itu”. Anak itu menjawab, “Kau jauh lebih aneh. Misteri Allah yang begitu luas dan dalam hendak kamu masukkan ke otakmu yang kecil itu?”

Misteri Allah Tritunggal telah diulas dalam ribuan buku dan artikel. Dan toh, kita tidak dapat menangkap secara penuh. Misteri Allah terlalu besar, luas dan dalam. Tidak bisa kita mengerti sepenuhnya dengan otak kita. Seperti pengalaman St. Agustinus, mengapa kita tidak ber-pindah dari pencarian literer kepada pengalaman harian manusia?

Dalam Level Pengalaman Hidup Harian

Dalam hidup, manusia kadang terpesona dengan indahnya ciptaan, cara kerjanya, hukum-hukum yang mengaturnya? Misalnya pada malam hari kita melihat langit dan ada tak terhitung bintang-bintang. Hati kita merasakan kebesaran Allah. Hati yang tersentuh dengan rasa kemegahan Ilahi kemudian menyebut BAPA sebagai asal muasal semua ini. Kita menyebut Bapa karena begitu agung menciptakan semua ciptaan.

Atau, ketika kita bingung menghadapi sulitnya hidup, kemudian memandang Yesus yang memberi ajaran dan teladan hidup dalam sejarah manusia. Dia kita sebut PUTRA. Disebut Putra karena menjelma menjadi manusia dan tinggal di antara kita.

Dan kadang ketika kita menghadapi sesaknya hidup, seperti ada Tangan yang menolong kita, memudahkan jalan kita, memuaskan dahaga rohani kita, memberi pemahaman yang dalam. Kita sering mengalami ada suara yang menuntun langkah kita. Dia yang memberinya kita sebut ROH KUDUS.

Adalah hal yang baik bahwa kita mencari pengertiannya. Namun mari kita nikmati dan temukan karya-Nya dalam hidup kita. Mari kita jumpai Allah Tritunggal dalam doa-doa pribadi kita. Mari kita sapa Dia dalam doa-doa kita.

Misteri Allah Tritunggal

Lalu bagaimana kita mengerti Roh Kudus dengan pikiran kita? Saya sangat tertarik dengan rumusan yang diberikan dalam doa syukur agung. Rumusannya sangat padat, dan sangat kaya dan bisa kita cecap perlahan-lahan:

Bapa yang Mahakuasa dan kekal, bersama Putra Tunggal-Mu dan Roh Kudus Engkaulah Allah Yang Esa. Tuhan yang satu.

Bukan esa dalam pribadi yang tunggal tetapi satu hakikat dalam Tritunggal.

Apapun yang Engkau wahyukan tentang kemulianMu, kami imani dengan iman yang sama, baik mengenai Putra-Mu maupun mengenai Roh Kudus.

Agar dalam pengakuan iman akan Dikau, Allah yang Mahabenar dan kekal, kami menyembah Allah Tritunggal, yang berbeda dalam pribadi, sama dalam hakikat dan setara dalam keagungan.

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: