Kisah tentang penggandaan roti dan dua ikan (Yoh 6:1-15) dalam Injil Minggu Biasa ke-17 tahun B ini mengajak para murid berefleksi untuk tidak membatasi tujuan hidup hanya kepada tahap duniawi saja, melainkan sampai kehidupan kekal. Tuhan akan menyediakan kebutuhan kita, asalkan kita setia dan mendengarkan firman-Nya serta melaksanakannya. Dan hal itu selalu disegarkan setiap kali kita hadir dalam Ekaristi. Dengan memakan tubuh-Nya dan minum darah-Nya manusia menuju hidup yang berkelimpahan dalam kehidupan kekal.

Spiritualitas Ekaristi

Dalam Ekaristi kita menimba kekuatan dari Tuhan Yesus sendiri. Dalam Ekaristi Tuhan “mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ” (Yoh 6:11 ). Yang diperbuat Yesus bukanlah tindakan ritual semata. Ekaristi adalah ungkapan dari hidup Yesus sendiri yang memberikan diri-Nya kepada manusia lewat pengajaran dan tindakan-tindakan-Nya. Namun yang paling tinggi adalah bahwa Dia memberikan diri-Nya lewat sengsara dan wafatnya di kayu salib yang kesemuanya itu membuahkan penebusan.

Saat kita berpartisipasi dalam Ekaristi kita serentak menerima dan memberi. Menerima karena dalam ekaristi kita menerima buah-buah sengsara Kristus karena bagi kitalah Yesus menderita, wafat dan bangkit. Namun sekaligus kita juga memberi. Karena Ekaristi akan memurnikan dan menjiwai hidup kita sehingga cara merasa, berpikir dan bertindak kita dijiwai oleh semangat Yesus sendiri. Ekaristi akan menjiwai kita sehingga kita mengarahkan hidup bukan hanya untuk mengejar kebutuhan-kebutuhan duniawi semata, tetapi bergerak ke arah yang lebih tinggi yaitu hidup yang kekal.

Hidup yang ekaristis

Setiap kita berpartisipasi dalam Ekaristi kita juga harus mewarnai hidup kita dengan hidup yang Ekaristis. Artinya semangat dasar dalam Ekaristi kita hadirkan di dalam hidup yang konkrit. Inti yang kita terima dari Ekaristi adalah semangat pengurbanan diri Yesus. Maka hidup kita pun juga perlu diwarnai dengan pengurbanan diri itu. Dalam pengalaman kita, kita jarang diminta oleh Tuhan untuk berkorban secara luar biasa. Biasanya kita dipanggil untuk melakukan hal-hal kecil, yang perlu kita laksanakan dengan setia.

Kita perlu meluruskan pandangan keliru tentang pengurbanan. Kita berpikir bahwa pengurbanan akan membawa pada penderitaan. Tidak saudaraku. Pengurbanan yang dilandasi rasa cinta justru akan membawa sukacita. Lihartlah kolam atau danau. Kolam dan danau yang sehat adalah yang menerima aliran dan kemudian mengalirkannya lagi. Danau yang tidak lagi mengalirkan airnya akan menjadi busuk dan berbau. Seperti laut mati. Justru semangat pengurbanan yang dihidupi akan membawa kita kepada kebahagiaan. Kita seperti air yang bening.
Pengurbanan yang tulus akan membawa kepuasan justru karena kita lebih dihargai dan dicintai banyak orang. Pun jika manusia gagal untuk mengapresiasi pengurbanan kita, Tuhan di atas sana tidak akan melupakan kita.

Komunitas Yang Ekaristis

Ekaristi yang kita rayakan akan membuat komunitas kita menjadi komunitas Ekaristis. Komunitas Ekaristis adalah komunitas yang ditandai oleh perhatian satu anggota kepada anggota yang lain. Komunitas Ekaristris ditandai dengan sikap saling membantu. Dalam komunitas Ekaristis semestinya tidak ada anggota komunitas yang menderita karena komunitas mereka ditandai dengan semangat berbagi. Komunitas ditandai dengan sukacita justru karena anggota rela berbagi karena kita hanya sungguh-sungguh memiliki saat kita mampu berbagi.

Para saudara mari kita menimba spiritualitas dari Ekaristi dan menjadikan keluarga dan komunitas kita sebagai komunitas Ekaristis.

Pelayanmu dalam Tuhan,
Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: