Tanggal 26 Mei 2019 adalah hari untuk diingat. Salah satu basis CIC Sydney berpindah ke Gereja baru, St. Pius V Enmore. Kita menghadapinya secara dewasa. Bahkan pada tanggal 19 Mei lalu kita menyelenggarakan misa terakhir di St. Joseph Newtown dengan sangat meriah. Kenapa kita sampai ke Enmore?

Adapun Mulanya

Tanggal 27 Januari 2019, Pastor Paroki St. Joseph Newtown mengundang Chaplain CIC dan beberapa anggota Dewan. Intinya adalah Pastor Paroki tidak memperbaharui kontrak peminjaman Gereja oleh Komunitas Indonesia, yang masa berlakunya habis bulan Oktober 2018. Alasan yang dikemukakan adalah Pastor Paroki ingin mengembangkan paroki dengan kelas-kelas agama seperti yang dilakukan oleh CIC. Juga ingin memindahkan jam misa ke jam 12 Siang.

Sebelumnya, pada tanggal 18 Juni 2018, pastor paroki pernah mengumpulkan semua kelompok yang memakai Crypt/Hall dan hall dan mengemukakan bahwa Gedung Gereja sudah saatnya membutuhkan perawatan dan perbaikan, hal mana membutuhkan dana yang besar. Dan kami diminta memperhatikan kontrak, dan kami diminta untuk langsung berhubungan dengan pihak Keuskupan. Coordinator Dewan CIC Newtown dengan sangat lengkap membuat laporan tentang kegiatan-kegiatan pastoral dan liturgi komunitas Indonesia kepada Keuskupan.

Terhadap keputusan tidak memperbaharui kontrak, Dewan CIC tentu merasa sangat kecewa, mengingat sudah 26 tahun lebih. Berpindah adalah hal yang sangat tidak mudah. Ada ikatan-ikatan emosional antara umat dengan Gereja Newtown. Namun tentu saja menghadapinya secara dewasa di dalam semangat ketaatan yang merupakan keutamaan dalam Gereja Katholik. Dibentuklah Tim Kecil untuk menghadapi persoalan ini.

Tim kecil ini mencoba mempelajari duduk persoalannya, dengan didampingi oleh Fr. Tim Brennan MSC namun juga menghadap ke Vik Jend, Fr. Gerry Gleeson. Beberapa hal dasar yang bisa saya syeringkan adalah:

• Gereja Katholik di Keuskupan Sydney menetapkan Gereja Katholik sebagai Gereja yang terbuka. Maka tidak diperkenankan pembentukan paroki berdasarkan etnis/Negara, karena akan sedikit bersikap ekslusif. Memang sudah ada komunitas etnis yang sudah terlanjur menjadi paroki yaitu Korea dan Croatia. Namun selanjutnya tidak diperkenankan. Komunitas Katholik Indonesia tetap akan berbentuk Komunitas, bersama dengan komunitas-komunitas lainnya: Filipina, Vietnam, Fiji, Italy dan lain-lain.

• Keuskupan akan menjamin bahwa Komunitas-komunitas ini tetap mendapatkan jaminan untuk beribadat di paroki-paroki. Jika mengalami kesulitan finansial, maka Keuskupan akan membantu. Namun jika berlebih akan membantu juga Komunitas-komunitas etnis yang lain.

• Pastor Paroki memiliki hak untuk memperpanjang atau mengakhiri kontrak peminjaman Gereja. Dalam aturan Keuskupan Sydney yang berhak untuk kontrak peminjaman adalah Paroki.

• Vik Jend juga menyinggung perlunya merenovasi Gereja dan Aula di Newton yang sudah mulai rusak, hal mana membutuhkan biaya yang sangat besar dan akan memakan waktu yang lama dan akan mempengaruhi kegiatan pastoral umat Indonesia.

Mencari Paroki Baru

Tim Kecil kemudian menjajagi kemungkinan-kemungkinan Gereja di mana kita bisa berpindah. Yang dimaksud dengan menjajagi adalah mengunjungi dan berbicara dengan pastor paroki. Adapun yang menjadi kriteria adalah:

• Gereja yang cukup besar untuk bisa menampung jumlah umat.
• Ada jam misa pada pagi/siang hari (antara pukul 9-12 Siang). Dengan hanya ada satu chaplain tidaklah dimungkinkan untuk misa pada sore hari.
• Adanya Aula untuk pembinaan umat dan rapat-rapat umat.
• Adanya jaminan bahwa setiap minggu kita bisa memakai Gereja dan Aula.
• Dekat dengan public transport yang memudahkan umat.
• Agak dekat dengan City mengingat banyak anak-anak muda (penerus CIC) yangtinggl &/atau bekerja pada hari Minggu.
• Belum ada komunitas besar lain yang rutin beribadah diparoki tersebut (lebih baik lagi jika komunitas lokalnya kecil).
• Ada akses untuk parkir kendaraan umat.

Dengan kriteria di atas, tidak ada satu Gerejapun yang memenuhi semua kriteria di atas. Maka diadakan pertemuan anggota Dewan pada tanggal17 Maret 2019untuk memilih dari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Dan dalam musyawarah itu, semua memilih Gereja St. Pius V Enmore.

Dari Sisi Spiritual

Hidup menggereja adalah peziarahan iman. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain mengingatkan kita bahwa hidup adalah peziarahan. Dan bahwa rumah kita yang sejati adalah Kerajaan Surga. Gereja St. Pius Enmore bukanlah pilihan sempurna. Setelah masuk ke Gereja baru ini, kita akan melakukan serangkaian penyesuaian.

Semoga penyesuaian-penyesuaian yang kita lakukan ini akan membawa kita kepada kemajuan dan kedewasaan iman. Saya catat juga adanya begitu banyak umat CIC, termasuk kaum Muda kita yang bekerja keras untuk proses hijrah ini. Semua seperti serangkaian kebetulan, tetapi sebagai Umat beriman kita percaya, Tuhan sementara dan akan selalu menyertai kita.

Saudaramu dalam Tuhan,
Michael Phang & Pst. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: