Kebangkitan Yesus adalah Pusat iman Kristiani

Kepercayaan akan Yesus yang bangkit adalah tumpuan iman kita. Kebenaran kebangkitan bukanlah salah satu kebenaran dari kebenaran-kebenaran iman, tetapi kebenaran yang utama. Keseluruhan hidup Yesus dan segenap sejarah Kekristenan disinari oleh peristiwa di satu pagi ketika “pagi-pagi benar ketika hari masih gelap” (Yoh 20:1). Kebangkitan menerangi misteri hidup Yesus dari palungan di Betlehem sampai ke salib di luar tembok Yerusalem. Kalau tidak ada kebangkitan, Natal hanyalah salah satu kelahiran dari bermilyar-milyar kelahiran manusia. Penyaliban hanya tambahan satu jumlah pada hukuman terkejam dalam peradaban Roma. Namun karena Yesus bangkit, semua memiliki makna yang berbeda. Santo Paulus sangat sadar akan makna kebangkitan ini. “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1 Kor 15:17). Kalau Yesus tidak bangkit, tidak ada gunanya kita beriman, tidak ada gereja, tidak akan ada hidup membiara, tidak ada umat. Paskah adalah dasar dari iman kita, dan segala hal lain bergantung kepada kebenaran iman ini.

Kejadian dan proses kebangkitan Tuhan tidak pernah digambarkan.

Para penulis Injil juga tidak ada yang menceritakannya. Kitab Suci tidak menceritakan proses kebangkitan. Maria Magdalena dalam bacaan Injil yang kita baca, tidak melihat Kristus bangkit. Dia hanya melihat bahwa batu telah diambil dari kubur (Yoh 20:1). Tuhan memang menghendaki peristiwa kebangkitan tetap rahasia. Mengapa? Walaupun kebangkitan terjadi dalam lintasan sejarah manusia, tetapi sebenarnya Paskah melampaui kejadian fisik. Paskah melampaui sejarah. Paskah adalah tindakan Allah dan tindakan Allah melampaui ruang dan waktu dan dengan demikian melampaui sejarah manusia.

Yesus bangkit tidak sama dengan dihidupkan kembali.

Lazarus dihidupkan kembali oleh Yesus. Namun setelah itu Lazarus akan mati lagi. Bangkit berarti Yesus hidup kembali dengan cara yang mulia. Tubuh Yesus yang bangkit adalah tubuh yang mulia. Itulah sebabnya para murid tidak langsung mengenali bahwa itu adalah Yesus jika Dia menampakkan diri.

Kebangkitan Yesus tidak sekedar Makam Kosong

Kendati makam yang kosong diceritakan oleh keempat Injil, namun kebangkitan Yesus adalah lebih dari pada tidak ditemukannya jenasah Yesus di makam. Makam kosong tidak membuktikan kebangkitan, namun hanya bukti pendukung saja.

Kepada Siapa Tuhan menampakkan Diri?

Gereja Katholik mengimani bahwa Yesus pertama kali menampakkan diri kepada Bunda Maria. Kemudian Petrus dan para rasul yang lain. Dan kemudian kepada Paulus, karena rahmat Allah. Dasar iman Gereja dimulai dari Petrus dan para murid karena merekalah para saksi iman. Iman Gereja adalah iman komunitas perdana yang kemudian menjadi Gereja. Komunitas orang beriman inilah yang kemudian melahirkan Tradisi-tradisi Kekristenan yang kita warisi sampai sekarang.

Bukti kebangkitan

Bukti dari kebangkitan adalah kesaksian iman dari mereka yang berjumpa dengan Tuhan yang bangkit. Pengalaman kebangkitan adalah pengalaman perjumpaan para murid dengan Yesus yang bangkit. Para murid menjadi yakin bahwa Yesus hidup, Yesus bangkit, Yesus hadir secara fisik dan berkomunikasi dengan mereka. Dan kehadiran Yesus yang bangkit itu menggembirakan para murid sampai ke dalam hati yang paling dalam. Hidup mereka berubah.

Contoh terbaik adalah Petrus. Petrus yang tadinya seorang pribadi yang penakut, mengunci diri di ruangan, menyangkal Yesus sampai tiga kali; ketika mengalami pengalaman perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit hidupnya mengalami tranformasi. Hidupnya mengalami perubahan. Dia berani tampil di muka umum, memberi kesaksian iman dan mengajar banyak orang. Iniah bukti paling penting dari kebangkitan. Perjumpaan dengan Kristus yang bangkit mentranformasi hidup mereka dari takut menjadi berani, dari takut dan mengunci diri ke membuka diri dan berjalan memberi kesaksian kepada dunia. Merekalah saksi kebangkitan.
Para saudara, Paskah adalah pengalaman iman berjumpa dengan Tuhan. Dan tanda nyata dari buah Paskah adalah keberanian untuk memberi kesaksian. Namun apakah kita bisa berjumpa dengan Tuhan yang bangkit? Kita percaya kendati kita tidak pernah berjumpa secara fisik dan historis kepada Tuhan, namun dalam iman kita bisa berjumpa dengan-Nya. Yesus yang bangkit adalah realitas iman yang mengatasi batas-batas ruang dan waktu. Ya, kita bisa berjumpa dengannya. Maka mari kita lebih mengenal Yesus lewat doa-doa yang lebih bersungguh-sungguh, membaca Sabda-Nya dalam Kitab Suci dan menjadi saksi-saksi kebangkian lewat sikap hidup kita yang baik.

Pst. Petrus Suroto MSC
CIC Chaplain

%d blogger menyukai ini: