Walaupun ada banyak buku yang mengatasnamakan sebagai Injil: seperti Injil Barabas, Injil Maria, Injil Petrus dan lain-lain, namun hanya ada 4 Injil yang ditetapkan sejak awal oleh Tradisi Apostolik Komunitas Gereja Katholik. Keempat Injil itu adalah Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Matius
Injil Matius ditulis sekitar tahun 80 M dalam bahasa Yunani. Injil ini ditujukan bagi bangsa Yahudi. Lambang dari Matius ini adalah manusia bersayap (malaikat) karena ia mengawali Injilnya dengan memperkenalkan Yesus sebagai utusan Allah; pembawa kabar gembira.

Markus
Injil ini ditulis kemungkinan besar oleh Yohanes Markus, teman perjalanan Paulus dan Barnabas. Ia juga pembantu Petrus di Roma. Injil ini ditulis sekitar tahun 65 – 70 M. Lambang dari penginjil ini ialah singa, karena ia mengawali Injil dengan “suara yang berseru-seru di padang gurun” (bdk Mrk 1:3). Tak hanya itu, ada dugaan menyebutkan bahwa Injil tersebut untuk menguatkan hati umat Kristen yang dianiaya oleh Nero.

Lukas
Ditulis oleh Lukas, ia seorang tabib dari Antiokia (Siria), teman dan pengikut Paulus. Ditulis sekitar tahun 85 M di Yunani. Oleh karena itu Yesus yang digambarkan dalam injil Lukas adalah sosok yang lembut dan penuh kasih. Lukas menekankan bahwa Yesus adalah Sang Penyelamat orang-orang miskin, sakit dan berdosa. Injilnya ditujukan bagi orang-orang Yunani. Ia juga menulis Kisah Para Rasul, yaitu kabar gembira bagi orang Kristen bukan Yahudi. Lambang dari penginjil ini adalah lembu, karena ia mengawalinya dengan Zakharia yang tidak bisa bicara, ia menjadi bisu bagaikan lembu.

Yohanes
Injil ini ditulis oleh kelompok murid Rasul Yohanes sekitar tahun 100 M di Efesus (Patmos). Injil ini sungguh berbeda dari ketiga Injil Sinoptik. Yohanes memberi kesaksian ke-Ilahi-an Yesus Kristus, Tuhan yang dimuliakan di sisi Allah Bapa. Juga lebih merupakan refleksi iman yang sudah banyak dipengaruhi oleh teologi. Injil Yohanes sangat berlainan dengan ketiga injil sinoptik. Lambang penginjil ini ialah burung Rajawali. Hal ini dikarenakan dalam Injilnya Yohanes mau memperkenalkan ke-Allahan Yesus yang penuh kekuasaan dan kebijaksanaan.

Injil bukanlah yang ditulis pertama kali. Yang pertama ditulis adalah Thesalonika. Korintus, Galayia, Roma, Filipi. Kitab-kitab ini ditulis lebih dahulu daripada Injil.

Cara membaca Kitab Suci menurut Katekismus Gereja Katolik (109-119)

Roh Kudus Adalah Penafsir Kitab Suci

109 Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka.

110 Untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan berceritera yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis. “Sebab dengan cara yang berbeda-beda kebenaran dikemukakan dan diungkapkan dalam nas-nas yang dengan aneka cara bersifat historis, atau profetis (kenabian), atau poetis (sastra), atau dengan jenis sastra lainnya” (DV 12,2).

111 Oleh karena Kitab Suci diilhami, maka masih ada satu prinsip lain yang tidak kurang pentingnya guna penafsiran yang tepat karena tanpa itu Kitab Suci akan tinggal huruf mati saja: “Akan tetapi Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus dan harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh itu juga” (DV 12,3).

Untuk penafsiran Kitab Suci sesuai dengan Roh, yang telah mengilhaminya, Konsili Vatikan II memberikan tiga kriteria:

  1. Memperhatikan dengan saksama “isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci”. Sebab bagaimanapun bedanya kitab-kitab itu, yang membentuk Kitab Suci, namun Kitab Suci adalah satu kesatuan atas dasar kesatuan rencana Allah yang pusat dan hatinya adalah Yesus Kristus. Sejak Paska hati itu sudah dibuka:
    “Ungkapan `hati Kristus harus diartikan menurut Kitab Suci yang memperkenalkan hati Kristus. Hati ini tertutup sebelum kesengsaraan, karena Kitab Suci masih gelap. Tetapi sesudah sengsara-Nya Kitab Suci terbuka, agar mereka yang sekarang memahaminya, dapat mempertimbangkan dan membeda-bedakan, bagaimana nubuat-nubuat harus
    ditafsirkan” (Tomas Aqu., Psal. 21,11).
  2. Membaca Kitab Suci “dalam terang tradisi hidup seluruh Gereja”. Menurut satu semboyan para bapa “Kitab Suci lebih dahulu ditulis di dalam hati Gereja daripada di atas pergamen [kertas dari kulit]”. Gereja menyimpan dalam tradisinya kenangan yang hidup akan Sabda Allah, dan Roh Kudus memberi kepadanya penafsiran rohani mengenai Kitab Suci … “menurut arti rohani yang dikaruniakan Roh kepada Gereja” (Origenes, hom. in Lev. 5,5).
  3. Memperhatikan “analogi iman”. Dengan “analogi iman” dimaksudkan hubungan kebenaran-kebenaran iman satu sama lain dan dalam rencana keseluruhan wahyu.

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: