Dalam tulisan Minggu lalu kita sudah bicara tentang kekayaan sejati yang meliputi sikap mental posifif dan kesehatan yang prima Dalam tulisan ini akan melanjutkan lagi bahwa kekayaan sejati tidak bisa dikecilkan hanya pada uang dan kekayaan. Kekayaan berikut meliputi dari dan hubungan yang harmonis dan bebas dari rasa takut.

Kekayaan 3: Hubungan yang harmonis

Hubungan yang harmonis adalah kekayaan lain dalam hidup. Kalau kita renungkan, banyak kebahagiaan dan kesuksesan kita didapatkan bersamaan dengan orang lain. Mengundang teman makan malam, bercakap dengan mereka, bekerjasama;  semua ini memerlukan hubungan yang harmonis.

Keluarga yang harmonis adalah kekayaan yang sangat berharga. Setelah bekerja keras di tempat kerja, pulang ke rumah kita akan bertemu dengan orang-orang yang kita kasihi. Kita akan mendapatkan pemulihan energi. Saya kenal beberapa keluarga yang selalu antusias saat  pulang kerja. Mereka sudah rindu untuk memeluk putera dan puterinya serta berkumpul sebagai satu keluarga.

Kekayaan 4: Bebas dari rasa takut

“Fear not!”, jangat takut, adalah ungkapan favorit dari Paus Yohanes Paulus II. Para malaikat dan Yesus juga sering mengawali perjumpaan dengan kata “jangan takut”. Kitab Suci menyebut kata jangan takut dan sinonimnya sekitar 365 kali. Ketakutan adalah penderitaan besar. Orang yang takut  akan terhalang dalam mendapatkan rahmat dan kesempatan. Memang ada ungkapan “takut akan Tuhan”. Tetapi takut akan Tuhan pengertiannya bukan untuk menjauh dari Tuhan tetapi lebih untuk mentaati perintah-perintahNya”

Ada tujuh ketakutan yang membuat kita tidak nyaman. Takut miskin adalah ketakutan yang pertama. Orang yang takut miskin akan menutupi ketakutan itu dengan tindakan negatif seperti menyimpan yang bukan milikknya, korupsi, pelit, dan sikap-sikap negatif lainnya. Takut dikritik adalah ketakutan yang membuat kita tidak bebas untuk mengekspresikan dan melahirkan gagasan-gagasan baik. Ketakutan dikritik membuat  kita tidak merasa nyaman saat mengadakan rapat dan pertemuan. Banyak orang yang tidak merealisasikan ide-idenya hanya karena takut dikritik ini. Takut sakit membuat kita tidak berani mencoba hal-hal yang baru. Orangtua yang takut sakit seringkali memproteksi anak-anaknya sehingga anak-anak tidak banyak belajar dari kegagalan dan kekeliruan serta tidak mendapatkan peneguhan dari pengalaman keberhasilan. Takut tak dicintai adalah jenis ketakutan yang membuat kita tidak mampu menjadi diri sendiri dan selalu ingin melakukan hal yang sudah pasti gagal yaitu ingin menyenangkan semua orang. Orang yang takut tidak dicintai, ketika mengambil keputusan yang dijadikan pertimbangan bukan baik atau tidaknya keputusan tetapi apakah keputusan itu diterima semua pihak. Maka dia dalam hidupnya selalu ditemani kegelisahan. Takut kehilangan kebebasan adalah jenis ketakutan lain sehingga dia selalu merasa tidak bebas dan ingin mendapatkan kebebasan secara lebih besar lagi seperti berdandan tidak seperti biasa: memakai anting-anting di hidung, lidahnya ditindik, suka melanggar peraturan, merasa selalu diawasi; karena semua peraturan dianggap merampas kebebasannya. Takut tua seringkali dipicu oleh kegagalan di masa muda. Orang merasa takut menjadi tua karena takut menjadi tidak menarik. Padahal setiap tahap umur memiliki kebahagiaannya sendiri. Justru orang yang hidup sesuai usianya dia yang lebih berbahagia. Takut mati membuat orang gelisah dan susah tidur.

Bebas dari rasa takut akan membuat anda memiliki ketenangan pikiran karena bebas dari segala beban dan keterbatasan.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC. The CIC Chaplain

%d blogger menyukai ini: