Umat CIC yang saya kasihi,
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengatakan, “Bagaimana sih kepribadiannya?”. Dan jawabannya bisa beraneka ragam. Dia baik lho, jujur dan suka menolong. Dia pribadi yang terus terang. Ah, dia sih perhitungan bingit..”

Pernahkah anda bertanya seperti apakah kepribadian Yesus?

Menggambarkan kepribadian Yesus sebenarnya hal yang tidak mungkin. Karena kita tidak mungkin bisa mengekepresikan kepenuhan pribadiNya. Apalagi Dia 100% Allah dan 100% manusia. Namun dalam Kristologi, atau ilmu teologi yang mempelajari Kristus: hidup, karya dan ajaran-ajaran-Nya, wafat dan kebangkitan-Nya, ada pendekatan yang disebut Christology from below, yang mendekati Yesus sebagai manusia terlebih dahulu sebelum mengenalnya sebagai Pribadi Kedua dalam Tri tunggal Mahakudus. Kepribadian Yesus sebagai manusia yang pernah menyejarah direkonstruksi dengan meminjam ilmu-ilmu antropologi, sosiologi dan bahkan psikologi. Dan banyak umat Katolik merasa terbantu karena seperti menemukan sosok teladan sebagai manusia yang baik. Lalu bagaimana kepribadiannya?

1. Yesus itu peka, peduli dan care
Ketika berjumpa dengan mereka yang menderita, Tuhan Yesus tergerak oleh belas kasihan. Dalam Kitab Suci kita membaca Yesus tergerak hati menyembuhkan seorang yang sakit kusta, hamba seorang perwira, ibu mertua Petrus, orang yang kerasukan setan. Yesus mampu merasakan perasaan orang lain. Ketika Petrus menyangkal Dia, dia berkomunkasi dengan mata-Nya dan membuat Petrus bertobat (Luk 22:31). Yesus sungguh manusiawi.
Dalam bahasa spiritualitas, kepribadian ini disebut sebagai compassion yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “berbelarasa”. Dia mudah tergerak oleh belas-kasihan.

2. Yesus itu “gaul”
Yesus bergaul dengan siapa saja. Pada zaman di mana orang Yahudi merasa gengsi bergaul dengan orang Samaria, memandang rendah seorang guru yang bergaul dengan perempuan di depan umum, Yesus malah menjalin komunikasi dengan orang Samaria di sumur dan banyak para wanita menjadi pengikut dekatNya. Dia juga bergaul dengan pemungut cukai, orang Zelot, dan bahkan tentara Roma. Dia menerima semua orang. Dan hebatnya, mereka yang melihat pribadi Yesus terkesima dan menjadi berubah. Zakeus dan Matius berubah haluan. Dari cinta diri kepada cinta kepada sesama.

3. Mengajar dengan Logis
Yesus mengajar secara mudah dimengerti dengan akal sehat. Ajaran Yesus bisa diterima oleh mereka yang atheis, agnostic dan yang beragama bukan kristen. Misalnya ajaran mengasihi musuhmu (Mat 5:24), perceraian (Mark 10:6), berharganya hidup itu sendiri (Mat 12), jangan kuatir karena bunga bakung dipadang dijaga oleh Bapa (Mat 10:31). Kalau kita mencari waktu mencecap ajaran-Nya, kita akan mengangguk-angguk setuju. Bahkan ada ajaran yang sangat menyentuh kita sehingga seperti mengubah cara berpikir kita yang sebelum-sebelumnya. Kadang-kadang ajarannya seperti tidak logis, seperti pengampunan (Matius 25: 13-20). Tetapi jika direnungkan semakin dalam kita akan mengamininya.

4. Pengetahuan tentang Alam
Yesus sangat memahami sifat-sifat alam dan memakainya untuk pengajaran-Nya. Hal ini sangat membantu para pendengarnya yang dari kalangan rakyat biasa memahami dengan mudah.

5. Jago bercerita
Yesus mengajar tidak dengan menghapal ayat-ayat Kitab Taurat, tetapi dengan menceritakan perumpamaan. Dan perumpamaan itu seperti tidak pernah habis untuk dicerna: Bapa yang baik, anak yang hilang, domba yang hilang, menampar pipi kanan diberikan yang kiri, dan lain-lain. Yesus tidak mengajar agar kita hapal dalil-dalil hukum taurat, tetapi ajarannya menyalakan api cinta kasih Tuhan di hati kita.

6. Memakai Emosi dan perasaan
Yesus bukanlah manusia kaku dalam perasaan. Dia membiarkan emosinya keluar. Dia sangat terharu ketika Lazarus, sahabatnya mati. Dia tidak malu memperlihatkan kedekatannya dengan murid yang sangat dikasihiNya. (Yoh 11:33, Lukas 7:11-15, Mark 6:34, Mar 9:18).

Sebagai manusia, pribadi Yesus itu penuh kasih, hatiNya cepat tergerak oleh belas kasih, bergaul dengan siapa saja tanpa pilih-pilih, memiliki common sense yang tinggi, memahami sifat-sifat alam, mengajar tidak dengan hapalan tetapi dengan membangkitkan api cinta dan membuat orang menangkap nuansa, jago bercerita, dan tidak malu mengekspresikan perasannya.

Pelayanmu dalam Tuhan,

P. Petrus Suroto MSC
CIC Chaplain

%d blogger menyukai ini: