Sikap untuk menghadapi Kerajaan Allah

Kerajaan Allah harus kita hadapi dengan sikap iman. Kita berserah kepada Tuhan dan membiarkan agar hati dan pikiran kita dikuasai oleh nilai-nilai Kerajaan. Kita bersikap seperti anak kecil, dalam arti menerima kepenuhan Kerajaan Allah. Menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan tidak berarti bahwa kita bersikap pasif. Kita harus aktif dalam berperilaku sehingga kehidupan kita ini mencerminkan nilai-nilai Kerajaan. Yesus bahkan menununtut sikap radikal. Kita harus bertobat: berbalik dari dosa-dosa kita dan percaya kepada Injil. Bagi Yesus, Kerajaan Allah datang melalui penderitaan dan memanggul salib.

Misalkan anda hidup dalam sebuah kantor yang biasa membuat kecurangan dan korupsi. Jika anda benar-benar menjadi anggota Kerajaan Allah maka anda tidak akan turut aktif dalam setiap bentuk kecurangan dan korupsi. Dan bahkan anda harus memanggul salib, seperti misalnya dikucilkan dari pergaulan teman-teman Kantor.

Gereja Menyatukan diri dengan Visi Tuhan Yesus
Dengan bersabda, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya”, Tuhan mulai mendirikan Komunitas Umat untuk meneruskan Kerajaan Allah. Gereja berdiri sebagai simbol dari hadirnya Kerajajaan Allah. Kita bertugas untuk menampakkan Kerajaan Allah itu dalam Gereja kita. Maka kita perlu untuk mengamini apa yang diajarkan oleh Rasul Agung Gereja: Santo Paulus.

Paulus mengajarkan agar Komunitas-komunitas Kristen bersatu hati menjadi satu tubuh. (1 Kor 12:12-14). Paulus menggunakan gambaran tubuh untuk menekankan kesatuan dalam Gereja. Kristuslah pusat iman kita. Segala tindakan kita mengacu kepada ajaran Tuhan. Maka kita sebagai anggota-anggota tubuh-Nya dipanggil untuk mempersembahkan bakat dan ketrampilan anda kepada Tuhan melalui Gereja-Nya. Sewaktu saya menjadi Pastor di Paroki St. Perawan Maria Purworejo, saya sangat bahagia melihat umat yang membaktikan diri kepada Tuhan lewat Gereja. Ada dokter dan perawat yang menjadi anggota tim persiapan perkawinan, ada mantan pegawai bank yang menjadi bendahara Paroki dan membuat laporan keuangan dengan sangat baik, ada Ibu Rumah tangga yang memiliki hobi memelihara taman dan merawat taman gereja dengan sangat teliti, dan ada pula seorang pengusaha yang dengan kekayaannya diam-diam membantu keperluan Gereja. Dan masih banyak orang-orang yang dengan cara yang kas mengabdi Tuhan lewat Gereja. Mereka dengan penuh kegembiraan mengabdi Tuhan lewat Gereja. Saya yakin bahwa di Komunitas andapun sikap membaktikan diri kepada Tuhan lewat Gereja ini juga ada.

Gambaran Paulus itu sebenarnya menjadi kriteria kehadiran Komunitas Gereja. Kehadiran Gereja seyogyanya tidak diukur oleh megahnya gedung gereja, tetapi apakah cinta dan pelayanan itu ada di tengah-tengah masyarakat. Kalau cinta kasih dan pelayanan itu ada, itulah tanda nyata dari kehadiran Kerajaan Allah.

Para saudara-saudari, maka mari kita sadari diri kita sebagai alat-alat Kerajaan Tuhan dan dengan penuh iman menerima Kristus sebagai pusat hidup kita dan membaktikan hidup kepada Tuhan melalui Gereja.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC. Chaplain.

%d blogger menyukai ini: