Para Pembaharu biasanya mengalami masa yang tidak mudah.

Mahatma Gandhi (1896-1948) adalah tokoh gerakan kemerdekaan India. Dia memiliki visi bahwa bangsa India mendapatkan kemerdekaannya dari Kerajaan Inggris, dan menjadi bangsa yang berdaulat. Dia memimpikan kesetaraan bangsanya dengan bangsa lain. Namun visi besar itu harus ditempuh dengan cara yang benar. Maka Mahatma Gandhi mengajarkan Satya Graha yang berarti jalan lurus, dan ahimsa yang berarti tidak memakai kekerasan. Gerakan kemerdekaan India yang dia pimpin lebih menggunakan unjuk rasa tanpa kekerasan. Dia juga menganjurkan orang sebangsanya untuk mencukupi kebutuhan sendiri dengan hidup sederhana dan prinsip tidak mau menggunakan barang-barang buatan bangsa penjajah. Dia juga menyerukan untuk tidak bekerja sama dengan penjajah. Gerakan yang dia tempuh itu menggulirkan semangat untuk mencapai kemerdekaan dengan cara damai. Idenya banyak mempengaruhi tokoh besar di seberang dunia lain. Nelson Mandela yang sukses memberantas politik apartheid di Afrika Selatan. Marthin Luther JR yang memperjuangkan hak-hak sipil di Amerika juga terisnpirasi oleh Mahatma Gandhi.

Namun anehnya, tokoh damai dari India ini akhirnya ditembak mati. Bukan oleh musuh, tetapi oleh Nathuram Godse, sesama warga India, sesama orang Hindu, yang justru dia perjuangkannya. Nathuram Godse tidak setuju dengan pandangan politik Gandhi yang dia nilai terlalu lunak dengan Islam.

Tuhan Yesus juga mengalami penolakan orang sekampungnya. Yesus mewartakan Kerajaan Allah: situasi di mana Allah meraja dalam hati manusia. Bila hati Allah meraja, niscaya hidup akan menjadi lebih damai. Orang-orang Nazaret sangat terpukau dengan ajaran Yesus itu. Mereka heran dan kagum (Luk 4:22).

Namun ajaran Yesus ini malah menimbulkan reaksi penolakan. Yang menjadi konteks adalah orang yahudi pada waktu itu memiliki pengertian tentang Kerajaan sama seperti bangsa-bangsa lain, yang ditandai dengan kekuatan, kuasa, wilayah, kekayaan dan prestise. Maka, walaupun mereka terpesona dengan visi Yesus, mereka berbalik kecewa. Mereka mulai melihat latar belakang Yesus yang adalah anak tukang kayu, putra Yusuf yang ada di antara mereka. Warta Kerajaan Allah berbenturan dengan kepicikan visi pribadi mereka tentang yang namanya Kerajaan.

Para saudara, pada tahap ini kita belajar: bahwa warta Kerajaan Allah harus ditanggapi dengan sikap iman. Beriman berarti kita meninggalkan cara berpikir kita yang lama dan mencoba untuk hidup sesuai dengan ajaran Yesus. Mengapa? Karena ajaran Tuhan seringkali tidak bisa kita mengerti sepenuhnya. Apalagi Yesus mengajarkan warta Kerajaan Allah lewat perumpamaan-perumpamaan daripada dengan keterangan sistematis. Namun ajaran Tuhan Yesus selalu membawa kita kepada kedamaian.

Pernah ada seorang ibu yang dikhianati suaminya. Ibu tadi sangat terpukul, dan sangat membenci suaminya. Dia ingin membalasnya. Walaupun dia tidak membalas, tetapi rasa sakit hati itu mempengaruhi hati dan pikirannya sehingga hidupnya menjadi jauh dari damai dan bahagia. Sampai dia datang kepada seorang Pastor yang mengajaknya ke arah pengampunan. Ibu tadi berontak, dan mengatakan “enak saja mengampuni begitu saja”. Namun ketika dia mengampuni, kebahagiaan dan kelegaan yang dia dapatkan. Ajaran Kristus kadang tidak bisa dimengerti sepenuhnya tetapi membawa kebahagiaan.

Beriman berarti berani melepaskan cara pikir yang lama dan kemudian memeluk ajaran Kerajaan Allah. Namun orang-orang Nazaret tidak mau melepaskan cara berpikir lama dan memeluk nilai yang baru. Mereka tetap berpikir Kerajaan haruslah bersifat duniawi: perang, wilayah, kekuasaan, istana dan simbol-simbol duniawi lainnya.

Yesus mengetahui bayangan gelap dalam pikiran orang sekampungnya. Dan kemudian Dia mengungkapkannya. “Seorang nabi tidak dihargai di tempat asalnya.” Orang Yahudi terkena dengan tepat oleh kata-kata Yesus. Sayangnya mereka bukannya menyadari kekeliruan tetapi malah menutupi dengan kekerasan. Mereka berupaya untuk membunuh Tuhan Yesus. Namun dalam tahap ini kita menjadi tahu bahwa warta Kerajaan Allah tidak dibatasi oleh batasan-batasan geografis. Rahmat dan kegembiraan penyelamatan Allah ditujukan kepada semua orang, sebagaimana janda di Sarfat dan Naaman orang Siria. Dan tentu saja keselamatan ditujukan kepada kita bangsa Indonesia.

Para saudara, Tuhan datang dengan warta bahagia berupa kerajaan Allah. Dan warta itu mengundang tanggapan kita. Belajar dari kejadian di Nazareth, mari kita berefleksi:

Pertama, Warta Kerajaan harus kita tanggapi dengan sikap iman. Beriman itu sikap berserah dan percaya. Maka kita hanya bisa beriman kepada Tuhan saja. Walau kita tidak tahu persis apa yang sebenarnya kita imani. Yesus tidak pernah mengajarkan secara sistematik apa itu kerajaan allah. Dia lebih mempergunakan perumpamaan-perumpamaan seperti perumpamaan tentang biji sesawi, pintu yang sempit, harta yang berharga, membajak. Walaupun tidak memahami semua perumpamaan tadi tetapi kita hendak percaya. Beriman berarti menaruh Yesus di pusat kehidupan kita dan kita memakai ajaran Yesus sebagai pertimbangan utama tindakan-tindakan keseharian kita. Apakah kita sudah menempatkan Yesus di pusat hidup kita ataukah kita enggan melepaskan nilai-nilai pribadi kita dan menempatkan Yesus hanya sebagai pelengkap saja? Jangan meniru perilaku tersangka korupsi yang setelah dijadikan tersangka ganti memakai pakaian orang saleh. Yesus jangan dijadikan kedok kejahatan kita.

Kedua, kita yang berhimpun sebagai komunitas Kerajaan Allah wajib untuk menghidupi semangat kasih. Dalam bacaan kedua Santo Paulus mengajarkan kasih sebagai hukum utama Kerajaan Allah. Kitapun harus menaruh kasih sebagai penggerak utama kehidupan kita. Hidup kita digerakkan oleh kasih. Karena lewat kasihlah dunia kita ini akan menjadi lebih sejuk dan beradap.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC. Chaplain.

%d blogger menyukai ini: