Para saudara, kita sudah memasuki masa adven. Adven berasal dari bahasa latin: ad + venire. Ad artinya di depan, venire: datang. Maka ad venire berarti menanti atau menunggu.  Kemudian dibentuk menjadi kata adventus yang berarti menunggu atau menanti. Yang kita tunggu adalah kedatangan Tuhan Yesus.

Pada Minggu pertama dan kedua, penantian kita lebih diarahkan kepada kedatangan Yesus yang kedua kali, yang datang dalam kemuliaan dan kejayaan. Tuhan akan hadir sebagai hakim yang mengadili orang yang hidup dan yang mati. Bukan hanya orang beragama Kristen  yang mengimani tetapi juga termaktub dalam Al-Quran:, “…di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”(Qs 4:159). 

Pada minggu ketiga dan keempatpenantian diarahkan kepada Yesus yang datang pertamakali, sebagai Allah yang menjelma, Sabda yang menjadi manusia dalam kesederhanaan dan kemiskinannya.

Masa Adven merupakan masa untuk menanti-nanti dengan penuh kegembiraan. Pengharapan atas kasih Allah yang hendak menyelelamatkan manusia adalah dasar dari kebahagiaan itu. Namun juga membangun sikap pertobatan dan berjaga-jaga.

Guilty feeling, Shame feeling dan Pertobatan

Pastor, boleh tanya dong, apakah beda antara guilty feeling, shame feeling dan pertobatan? Bagaimana cara mengatasi guilty feeling dan shame feeling?

Henry (bukan nama sebenarnya), ketika parkir menggores mobil sebelahnya. Dia melihat ke kanan dan ke kiri dan mencari pemilik mobil tetapi tidak mendapatkan. Dia ingin meninggalkan message tetapi tidak bisa karena di mobilnya tidak ada kertas dan pena. Apalagi dia hendak mengadakan pertemuan. Ketika dia balik ke tempat parkir, mobil yang dia gores sudah tidak ada. Dia tidak bisa tidur, karena merasa bersalah dan merasa bertanggungjawab atas kejadian itu. Dia tidak bisa melupakan kejadian itu dari pikirannya. Itulah yang disebut guilty feeling: perasaan bertanggung-jawab.

Guilty feeling didasari pada cita rasa etika dan moral seseorang. Ia memandu perilaku supaya dia hidup yang baik. Namun kadang-kadang guilty feeling itu menjadi tidak proposional, misalnya dia menjadi ketakutan sepanjang waktu jika melakukan kesalahan, atau kadang-kadang dia merasa bersalah untuk hal-hal yang seharusnya tidak perlu merasa bersalah. Misalnya ada orang yang setiap hati mendoakan berkat Tuhan dan hari itu dia lupa berdoa, dan kemudian terjadi gempa bumi. Dia merasa sangat bersalah dan merasa bertanggungjawab atas kerusakan akibat gempa. Tentu dia tidak perlu merasa bertanggungjawab sebesar itu. Kita bukan dewa Atlas yang memanggul dunia.

Henra (bukan nama sebenarnya), bekerja di sebuah perusahaan. Dia suka mengambil uang -kecil sih, tanpa diketahui oleh orang lain. Dia melakukan itu bertahun-tahun. Sampai suatu saat tempatnya bertugas memasang kamera CCTV dan ketahuan kalau dia secara teratur mengambil uang yang bukan miliknya. Dia merasa sangat malu. Dia ingin menghentikan kebiasaan itu. Dia merasa bersalah dan ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya. Inilah shame feeling. Perasaan bersalah yang dipicu oleh orang lain atau situasi di sekitarnya.

Mengatasi guilty feeling dan shame feeling adalah dengan sebisa mungkin mempertanggung-jawabkan perbuatan salahnya.  Misalnya dengan meminta maaf dan memberi ganti rugi yang sepadan. Jika orang katholik bisa dengan penakuan dosa.  Jika seperti kasus di atas, ternyata dia tidak bisa bertanggungjawab karena satu dan lain hal dia bisa melakukan silih, misalnya mengganti dengan berbuat baik kepada orang lain: misalnya dana ke panti asuhan. Kadang-kadang ada orang yang rasa bersalahnya kelewat besar sampai tidak rasional. Dan menjadi beban bagi hati. Maka dia perlu untuk konsultasi dengan orang yang cukup dewasa dan move on.

Pertobatan

Pertobatan umunya dipakai dalam konteks keagamaan dan religiusitas. Pertobaan umumnya diartikan sebagai meninggalkan cara berpikir, cara bertindak dan berperilaku yang lama dan kemudian perilakunya mengacu kepada ajaran Tuhan. Misalnya ada orang yang tidak pernah ke Gereja, tidak peduli kepada Tuhan dan kemudian tersentuh hatinya dan kemudian membaca Kitab Suci, menghadiri Ekaristi dan mencoba hidup seturut ajaran Tuhan. Kerajaan Allah

Pelayanmu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: