Setelah lebih dari satu tahun tinggal di Sydney, saya menjadi tahu tantangan besar menjadi orangtua. Ada beda culture antara orangtua yang besar di Indonesia dengan yang lahir dan besar di Australia. Ada juga orangtua yang menyebut adanya keterbatasan bahasa, sehingga orangtua sering merasa kesulitan untuk mengartikulasikan nilai-nilai yang hendak diwariskan kepada anak-anaknya.

Namun sebagai orangtua, anda tetap akan diminta memberikan nasehat moral oleh anak-anak atau generasi yang lebih muda. Pada dasarnya, anak-anak muda ingin hidup yang baik. Dan memang pada dasarnya manusia diciptakan Tuhan dengan keinginan menjadi baik. Kompas moral mereka tumbuh. Mereka membutuhkan bimbingan.

Tetapi mereka tidak akan sembarang mendengar ajaran moral. Memberi nasihat moral sangat menantang. Karena mereka ada di budaya yang sangat sekuler, di mana kebebasan manusia diberi tempat yang luas. Sebagai contoh: dalam moral Katholik menjadi pria dan wanita adalah terberi oleh Tuhan. Tetapi banyak orang modern berpikir bahwa manusia bisa memilih ingin menjadi pria atau wanita.

Sebetulnya moral katholik itu apa? Saya jadi teringat waktu belajar Theologi Moral Dasar dan mencari-cari catatan personal saya. Dan pengajar saya, Fr. Eric Genilo SJ menerangkan bahwa Moral as a whole seeks to relate Christian faith to the complex realities of living in the world. It asks, “What sorts of persons ought we to be, and what actions ought we to perform by virtue of being believers in Christ?”As a discipline theology, it presupposes a commitment of faith by which we accept the mystery of Christ as the full revelation of God and accept the sources of faith as valid sources of coming the truth about God, being human, and living in the world. “

Namun bagaimana cara menyampaikannya? Karena umumnya anak muda sangat pemilih: yaitu mereka akan mendengarkan jika merasa dekat karena anda bersikap suportif. Bagaimana “panduan” untuk memberikan nasehat moral kepada anak muda? Tulisan ini diinspirasi oleh James F, Keenan SJ, “On Giving Moral Advice” yang diterbitkan Majalah America Vol 174, 12 Maret 1996. Saya rasa konteks USA hampir mirip dengan situsi di Australia.

Mendengarkan

Dengarkan dengan cermat apa yang ditanyakan. Jangan berasumsi bahwa pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan yang biasa. Untuk mengerti pertanyaan dengan baik, anda perlu untuk mendengarkan pengalaman yang mereka alami.

Mendengarkan anak muda tidak selalu mudah. Jika mereka percaya kepada anda, mereka akan menceritakan latar belakang yang campur-baur antara perasaan, kejadian yang dialami, caranya dia melihat persoalan, latar belakang keluarga, relasi dengan Tuhan, faktor budaya semasa dan lain-lain. Hanya jika kita mendengarkan kita akan mengerti ujung-pangkalnya. Dari yang mereka paparkan, anda akan mengerti lebih banyak dan membantu untuk berempati. Dan hanya didengarkan, mereka juga akan siap menjadi pendengar yang baik.

Sikap Positif

Anda menjadi penasehat moral yang baik kalau tidak langsung mengaitkan persoalan dengan dosa atau tidak dosa. Moral akan diajarkan dengan cara paling baik kalau bicara tentang (1) Situasi konkrit yang dialami. (2). apa yang harus diperjuangkan dan dilaksanakan untuk menjadi murid Yesus yang baik. Di sini kita berbicara tentang komitmen sebagai seorang Katholik, pengikut ajaran Yesus yang konsisten.

Ajaklah untuk membuat cita-cita dan tujuan

Moral bukanlah sekedar mengurai masalah. Maka bantulah mereka melihat ke depan melampaui posisi moral saat ini. Jika moral dipahami sebagai pembentukan karakter, bantulah mereka untuk bercita-cita untuk menjadi manusia sebaik apa. Tujuan ini akan memberikan arah atas apa yang harus dilakukan atau harus dihindari. Pertanyaan ini bisa sangat membantu: “Siapakah aku sekarang ini?” “Pribadi dengan kualitas seperti apakah yang akan saya bentuk?” “Bagaimana saya menuju ke sana?” Artinya apa yang hendak mereka lakukan agar bertumbuh menjadi pribadi dengan kualitas yang dituju.

Bersambung…

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: