Selamat Hari Raya Natal! Natal adalah hari yang penuh kebahagiaan. Hari di mana keluarga-keluarga bertemu, makan bersama, berbagi kasih dan kegembiraan. Selama Natal ini sudah banyak kali bersama dengan kelompok-kelompok Bina CIC, sebagai keluarga, kita makan bersama dengan penuh syukur. Yang menjadi pusat kegembiraan adalah Yesus. Penginjil Yohanes membuka kisah kelahiran dengan megah dan mulia. Yesus diperkenalkan sebagai kedatangan terang ilahi di dunia. Yesus juga pembuka zaman baru, sehingga hidup Yesus menjadi penanda zaman baru, Tahun Masehi, atau Tahun Kristus. Yesus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia? Namun atas cara bagaimanakah inkarnasi bisa kita pahami?

Bermula dari Kasih Allah
Pernah ada cerita tentang Allah yang kesepian di Surga. Dikisahkan bahwa ketika Allah terpaksa mengusir manusia dari taman Eden karena jatuh ke dalam dosa, Allah bersedih hati. Dia mengitari taman Eden untuk bisa berjumpa dengan manusia yang Ia kasihi. Allah yang penuh dengan cinta rindu untuk mengasihi manusia dan menyediakan tempat bagi manusia. Allah adalah kasih itu sendiri. Sejak saat itu, Allah bertekad untuk menyelamatkan manusia. Tekad Allah itu dalam refleksi Teologi disebut mysterion, Allah yang dengan segala cara ingin membawa kembali manusia kepada keselamatan. Maka dalam sejarah panjang manusia, Allah tak henti-hentinya “berulangkali dan dengan berbagai cara berbicara dengan kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi” (Ibr. 1:1). Allah ingin menjalin komunikasi, ingin menunjukkan jalan kepada keselamatan.

Firman dan Terang
Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling tinggi. Kepada manusia Allah memberikan akal budi, kebebasan dan suara hati. Justru karena kebebasan itulah hidup manusia penuh dengan pilihan-pilihan yang harus diambil. Jalan hidup manusia bagaikan melewati beribu persimpangan. Ingatlah sejenak hidup anda, saudara-saudari. Bukankah anda juga selalu memilih: bersekolah di mana, memacari siapa, bekerja apa dan bahkan pilihan yang kecil-kecil seperti hari ini mau santai bermalas-malasan di rumah atau beribadat di Gereja. Jika hidup penuh dengan pilihan tentulah kita memerlukan pedoman.

Kebebasan juga yang membuat manusia bebas memilih antara dosa dan kebaikan. Dalam hidup kita terus menerus haru memilih antara yang baik dan jahat. Antara yang baik dan lebih baik. Antara yang lebih baik dengan yang paling baik.

Dalam konteks seperti itulah Allah mengutus Putera-Nya sebagai Firman dan Terang. Yesus datang ke dunia sebagai Firman, Sang Sabda Allah. Dia meyingkapkan rahasia kasih Allah. Dia mensabdakan apa yang baik dan penting dalam pengembaraan kita di dunia ini. Dan sabda Tuhan itu ada tertulis dalam Kitab Suci. Dan kita harus membuat supaya Sabda Tuhan itu tumbuh di dalam hati kita. Bagaimana caranya? Tentu saya tidak bisa mengatakan cara satu-satunya tetapi mengusulkan satu cara yang saya yakini.

Selain sebagai Sabda, Tuhan Yesus juga memberi terang dengan teladan hidupnya. Kisah hidup Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana kita bersikap terhadap sesama: kepada wanita yang waktu itu dianggap kelas dua, kepada pendosa, kepada orang yang ingin mengembangkan kehidupan rohaninya. Yesus juga memberi teladan bagaimana kita harus menghargai alam sehihgga kebijaksanaan Yesus digambarkan dalam dunia tanam-tanaman. Semua ini memberi terang kepada kita bagaimana kit aharus menjalani hidup.

Memilih Hidup Tersembunyi
Namun mengapa Yesus justru tampil sebagai bayi lemah, keluarga miskin dan di tempat tersembunyi? Mengapa Yesus tidak memilih lahir sebagai Putra Maharaja? Yesus lahir sebagai bayi lemah karena ketika Yesus menjadi bayi lemah maka manusia diundang untuk melakukan tindakan kasih. Yesus menjadi manusia lemah untuk mengajak manusia mencintai. Hidup dalam kasih inilah yang menjadi penanda zaman baru.

Selain itu Yesus juga hidup tersembunyi di keluarga Nazaret. Tidak banyak informasi yang kita dapat sebelum Yesus berusia 30 tahun. Ketika wafat Yesus juga sendirian dan ditinggalkan. Bahkan ketika bangkit, Yesus bangkit di dalam ketenangan di tempat yang sunyi. Dia tidak menampakkan diri kepada Pilatus, atau Kayafas, tetapi kepada wanita, kepada dua orang putus-asa, kepada para murid di tepi danau. Ini juga menjadi kabar gembira bagi kita tentang ketersembunyian. Ketakutan terbesar manusia adalah ketakutan untuk tidak dikenali. Ketakutan besar manusia adalah jika hidup di tempat sunyi. Namun Yesus justru memilih tinggal di tempat yang sunyi itu. Jangan takut kepada kesunyian dan kesendirian sebab di sanalah kita justru bisa bertemu dengan Tuhan.

Selamat Natal Para saudaraku semua…

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC. Chaplain.

%d blogger menyukai ini: