Di satu kampung, ada seorang Bapa yang setiap hari, sepertinya menyia-nyiakan waktu. Bangun pagi, dia akan minum kopi dan merokok, tidak berbuat apa-apa sampai jam 11 Siang. Setelah itu dia bertemu teman dan ngobrol sampai saat makan siang. Setelah itu naik motor ke sana kemari tanpa tujuan. Dan diakhiri dengan main kartu dengan teman-temannya sampai larut malam. Dia seperti lupa pertanyaan penting yang oleh St. Ignatius diarahkan kepada Azas dan Dasar hidup manusia. “Mengapa saya diciptakan? Untuk apa saya hidup? (Latihan Rohani St. Ignatius).

Ada lagi orang yang sangat sibuk, tetapi dia tidak tahu semua kesibukannya itu untuk apa dan diarahkan ke mana. Di tengah kesibukannya yang sangat padat, dia merasa kosong dan sepi. Dan untuk mengisi hati yang terasa kosong, dia membuat kesibukan lagi. Lebih banyak.

If you are alive, there’s purpose for your life. Jika kamu hidup, ada tujuan untuk hidupmu. Ketika Tuhan menciptakan manusia, tentulah ada tujuan yang diberikan kepada kita. Dan sepertinya sangat tepat yang dikatakan dalam Novel berjudul Alchemist, “And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.’

Namun apa sebenarnya apa yang kau mau? Dalam sejarah kita bisa belajar dari banyak tokoh. Kaisar Maximianus (260-311) berkata, “Melius mori quam sibi vivere”, lebih baik mati daripada hidup untuk diri sendiri. Dan akan lebih bermakna lagi jika pemberian diri kita itu habis-habisan-sampai titik darah penghabisan. Kutipan dari kata-kata Maximianus sangat sejajar dengan kesejatian bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang dibaktikan. “Kehilangan diri dan menemukan diri pada mereka yang kita cintai”. Yesus adalah teladan sempurna karena rela memberikan hidup sehabis-habisnya guna melakukan kehendak Bapa-Nya.

Kita juga bisa belajar dari orang-orang biasa yang tidak terkenal. Ayah saya, Yohanes Sumardi (1932-1989) mengatakan bahwa tujuan hidupnya adalah seperti jembatan. Menjembatani agar ke-8 anaknya bisa mengenyam pendidikan yang baik dan hidup dengan baik. Tujuan yang simpel tetapi dia telah lakukan dengan sekuat tenaga. Dan dia bahagia karenanya, bukan karena hidupnya serba enak, tetapi karena bisa menggapai cita-citanya, walau dengan perjuangan yang berat.

Walaupun banyak diantara kita suka menyanyikan lagu, “Hidup Ini adalah kesempatan’’, namun sejatinya tidak mudah untuk menemukan dan meyakini apa yang menjadi tujuan kehidupan kita. Ada sekat-sekat kegelisahan di dalam diri kita yang harus kita buka dan akrabi sebelum kita menemukan keyakinan dalam menjawab untuk apa saya diciptakan. Namun pertanyaan itu harus dijawab sendiri. Sebagaimana hidup kita unik, jawaban kita juga akan unik.
Banyak orang yang justru tidak menyadari dengan kata-kata tujuan hidupnya. Saya pernah, dalam bimbingan rohani, mendengarkan seorang Bapa yang mengisahkan hidupnya yang panjang: studi, pekerjaan, mengambil keputusan dan resiko. Dan saya bisa melihat bagaimana Tangan Tuhan menuntun dia secara konsisten dengan tujuan yang sangat fokus. Ketika saya mengatakan apa yang saya lihat dari hidupnya, dia berkaca-kaca dan mengatakan, “Hidup saya ternyata sangat berarti. Dan ada tangan yang tidak saya sadari yang menuntun saya”.

Di sela-sela kesibukan liburan tahun baru, mari kita mencari tempat hening dan bertanyalah: Tuhan, mengapa saya Engkau ciptakan? Untuk apa saya hidup?

SELAMAT TAHUN BARU 2020. Tuhan memberkati selalu.

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: