Pastor, mengapa kita mendoakan orang mati. Bukankah antara orang yang masuk neraka ada jurang yang dalam. Seperti Lukas 16:26, Bapa Abraham mengatakan bahwa ada jurang yang tak terseberangi. Kalau begitu bisa disimpulkan bahwa mendoakan orang yang sudah mati itu percuma saja? Dunianya sudah berbeda, situasinya sudah berbeda. Bisakah Pastor mencarikan perikop Kitab Suci untuk meyakinkan saya di mana mendoakan orang yang sudah mati ada manfaatnya. NN

NN yang baik,
Perikop tentang Lazarus dan orang kaya yang termaktup dalam Luk 16:26 berbicara tentang orang kaya yang sudah definitif masuk ke neraka. Mereka sudah terpisah dari rahmat Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang secara definitif, 100%, menolak kasih Allah. Mereka dengan kebebasan yang sempurna memilih untuk memisahkan diri dari kasih Allah. Bagi mereka keadilan Allah yang bekerja, karena Allah “adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu” (Mz 51:6).

Dalam Kitab Suci Yesus beberapa kali menggambarkan situasi neraka dan kondisinya yang sangat menakutkan. Dalam retret agung 30 hari juga ada bagian kontemplasi tentang neraka.

Namun apakah orang yang sudah masuk neraka bisa diselamatkan? Tidak jelas benar karena ini ada dalam wilayah wewenang Tuhan. Kita tidak pernah akan bisa mengerti rencana Tuhan. Namun iman personal saya (yang mungkin tidak tepat) adalah Allah tidak memasukkan mereka ke neraka tetapi karena mereka memilih menjauh dari kasih Allah. Tapi adakah orang yang 100% menolak kasih Allah? Iman saya menalar sangat sulit. Dalam diri setiap orang pasti ada sedikit iman dan itu menjadi celah masuk bagi bekerjanya kasih Allah. Maka saya sangat tersentuh dengan lagu Nderek Dewi Mariah karena lirik yang ini:

Menggah saking apesnya, ngantos kelu setan.
Boten yen ta ngantosa, klantur babar pisan.
Ugeripun nyenyuwun, ibu tansah tetulung.

Terjemahannya kurang lebih:

Walaupun begitu sialnya kita sampai terjerat oleh setan,
tidaklah akan terjerumus sama sekali, asalkan memohon,
Ibu (Bunda Maria) selalu akan menolong.

Kita orang Katholik mendoakan orang yang yang sudah mati, karena percaya bahwa Kasih dan kerahiman Tuhan sangatlah besar. Sehingga kasih Allah masih bekerja dan Allah masih memberi kesempatan kepada orang yang sudah mati.

Adapun Pendasaran Kitab Suci-Nya Lukas 7:11-17

Saya menyukai perikope tentang janda di Nain yang anaknya mati dalam Lukas 7:11-17. Dalam perikope itu tidak diceritakan bahwa Yesus mengenal anak yang mati. Kemungkinan besar tidak. Namun karena Yesus berjumpa dengan Ibu janda (dan kemungkinan Ibu Janda di Nain tadi memohon kepada Yesus), Yesus berbelarasa dan kemudian membangkitkan anaknya yang mati.

Jadi iman orang yang masih hidup mempengaruhi si mati. Dia dihidupkan kembali. Hal yang sama terjadi jika kita mendoakan arwah. Jika kita berkumpul dan bersekutu untuk mendokan mereka yang sudah mati, iman kita yang masih hidup ini akan didengarkan Tuhan dan mempengaruhi mereka yang sudah mati. Demi iman kita orang-orang yang masih hidup, kita bisa membantu mereka yang sudah mati. Gereja Katholik dalam perayaan Ekaristi selalu mendoakan arwah yang sudah meninggal.

Ajaran Gereja tentang Mereka yang meninggal

Gereja Katholik, dalam Katekismus 1030-1032 percaya adanya api pencucian atau purgatorium. Purgatorium adalah tempat atau proses kita disucikan. Dalam tempat penyucian itu kita berproses agar layak untuk masuk dalam kerajaan Surga.

1) Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.

2) Pemurnian di dalam Api Penyucian adalah sangat berlainan dengan siksa neraka. Nereka adalah bagi para terkutuk.

3) Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan ujud Misa Kudus bagi mereka.

Bagi saya pribadi, tinggal di dalam Gereja Katholik sangat menenangkan. Karena walaupun kita sudah mati, tetapi Gereja selalu dan terus menerus mendoakan kita di dalam Ekaristi. Bahkan didoakan oleh teman-teman dan handai taulan. Sadar akan kelemahan-kelemahan diri, saya tidak akan pernah berani menantang: tidak ada gunanya berdoa bagi mereka yang sudah meninggal. Kalau saya sudah saatnya dipanggil Tuhan saya tidak akan berani mengatakan, jangan doakan saya.

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: