Dalam tulisan minggu lalu diceritakan bahwa konflik sering terjadi dan kita perlu belajar dari Gereja Perdana untuk mengelola konflik. Mereka membuka pada perbedaan pendapat, memahami masalahnya dan menentukan patokannya yaitu supaya Injil diwartakan dan mereka diselamatkan. Berikut terusannya:

  1. Mereka saling mendengarkan. Para rasul sebenarnya adalah orang-orang yang bersunat. Tetapi mereka tidak mengedapankan tradisi sendiri, tetapi terbuka pada tuntunan Roh Kudus. Proses itu dalam Bahasa rohani disebut discernment, atau diskresio (menarik bahwa saat Ahok menjadi gubernur Jakarta, kata Diskresi dipakai dalam pemerintahan sebagai proses mengambil keputusan). Diskresi sebenarnya berarti membeda-bedakan manakah yang menjadi suara Roh Kudus dan manakah yang suara-suara cinta diri dan keduniawian
  2. Solusi yang diputuskan sangat melegakan. Para pemimpin agama berporses dalam mengambil keputusan dan umat menerima dalam ketaatan. Yudas dan Silas diutus Bersama dengan Paulus dan Barnabas. Mereka menunjukkan kebersatuan (koinonia) dan persaudaraan. Persatuan ditonjolkan daripada masalah. Yudas dan Silas membacakan keputusan bahwamereka tidak usah disunat tetapi mereka tidak boleh menjadi batu sandungan agi saudara-saudari Yahudi yang tidak makan daging bekas persembahan, binatang yang dicekik, darah dan dari percabulan. Para rasul menerapkan win-win solution. Terjadi sinergi, persatuan kokoh sehingga jemaat berkembang ke seluruh dunia.
  3. Mereka mentaati para rasul. Ketaatan kepada hirarki itu ternyata membebaskan. Ketaatan dari pihak umat dijawab dengan doa, berpikir benar dan bijaksana, mengesampingkan kebutuhan sendiri dan mengedepankan kepentingan yang lebih luas.
  4. Dan sebagai buahnya, jemaat semakin berkembang. Bukan hanya di Israel, tetapi juga merambah Asia kecil, Eropa dan ke seluruh dunia.

Para saudara yang terkasih,
Teladan yang ditinggalkan oleh para rasul layak kita tiru saat kita menghadapi konflik akibat beda pendapat. Tentu sikap mendengarkan itu karena mereka mau untuk mendengarkan suara Roh Kudus. Roh Kudus akan membimbing kita. Roh Kudus akan kuat suara-Nya kalau kita hening dan teduh. Jika kita membiarkan diri kita dibakar emosi, akan sulitlah kita memahami kehendak dan bimbingan Roh Kudus.

Beda pendapat di dalam keluarga atau organisasi sulit untuk dihindari. Tetapi bisa diatasi. Saya rasa sikap-sikap ini penting untuk kita kembangkan:

  1. Kita harus membangun komunikasi terbuka. Konflik itu terkadang menyakitkan sehingga banyak orang tidak mau membuka dan cenderung memendamnya saja. Seorang ibu akan merasa sakit hati jika konflik dengan anaknya, namun anak juga merasa sangat tertekan. Namun perbedaan pendapat harus dibuka justru supaya kita mengerti duduk persoalannya.
  2. Ber-empati. Kita perlu belajar berempati, yaitu mencoba memandang masalah dari sudut pandang orang lain. Dengan begitu kita bias mengerti apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Mau mengerti dan tidak memotong pembicaraan, mengulangi apa yang dikatakan oleh orang lain adalah tehnik-tehnik berempati. Dan sepertinya, kalau kita mencoba berempati, orang juga lebih terdorong untuk berempati dengan kita.
  3. Tanggapan yang menyejukkan. Sambil mendengarkan pihak yang berseberangan dengan kita dalam berpendapat, kita juga menyadari hati kita snediri, pola piker dan nilai-nilai yang kita pegang. Suara yang rendah dan tidak meninggi dan tenang akan membantu pihak lain untuk Bersama-sama memahami perihalnya dan memutuskan prinsip-prinsip bagi penyelesaian konflik.

Para saudara, saat terjadi konflik jangan menjadi takut. Hadapilah dengan mendasarkan kepada bimbingan Roh Kudus.

Pst. Petrus Suroto MSC
CIC Chaplain

%d blogger menyukai ini: