Minggu Adven III
Zef 3:14-18a
Flp 4:4-7
Luk 3:10-18.

Yohanes Pembabtis benar-benar Nabi besar. Alih-alih dia mewartakan warta pertobatan di kota atau di keramaian, dia memilih menjadi “suara yang berseru-seru di padang gurun” (Lk. 3:4). Suara yang berseru di padang gurun menggambarkan  gigihnya sang nabi dalam pewartaan, dan –apa boleh buat- sepinya tanggapan manusia.  

Warta dasar dari Yohanes adalah persiapan diri manusia di dalam menyambut Tuhan. Manusia harus mereformasi tingkah lakunya yang tidak pantas. Dan bagi Yohanes hal iman dalam menyambut Tuhan itu tidak dilepaskan dari konteks kehidupan yang konkrit yaitu pekerjaan. Pertobatan bukanlah ritus kosong, tetapi langsung berhubungan dengan konteks kehidupan yang konkrit. Kesediaan untuk berbagi yang merupakan  jantung semangat kristiani, dilaksanakan dalam situasi konkrit: berbagi makanan, berbagi pakaian. (Luk 3:11). Yohanes juga menembus semangat keserakahan yang sering menjadi kelekatan dasar manusia sepanjang zaman dengan mentalita korup dan perilaku curang: “Jangan menagih lebih banyak dari yang ditentukan” . Dan kepada pemegang kuasa, dia memberikan petunjuk praktis: jangan merampas dan memeras. Dan segala hal itu dapat dilaksanakan dengan baik kalau kita dapat mengatur diri sendiri, atau dalam bahasa Yohanes, “cukupkanlah dengan gajimu.”  (Luk 3:14). Rupanya kemampuan untuk menahan diri, pengembalaam diri dan mengatur diri -termasuk dalam pengaturan keuangan, menjadi awal dari pertobatan yang membuahkan. Semakin baik kita mengatur diri kita, semakin sedikit kebutuhan untuk diri sendiri, dan semakin banyak perhatian bagi pelayanan kepada sesama.

Saudara, Yohanes adalah nabi besar. Maka marilah kita menanggapinya dengan besar juga. Kita mulai dengan meningkatkan ketrampilan dalam menggembalakan diri sendiri, dan kemudian bekerja penuh bakti dan tidak menyalahgunakan wewenang untuk keinginan diri sendiri. 

Relasi Suami-Istri

“SEEK FIRST TO UNDERSTAND; AND THEN, TO BE UNDERSTOOD”
Catatan dari buku: 7 Habits of Higly Effective People 

Relasi suami-istri adalah relasi yang istimewa. Maka dalam berkomunikasi, haruslah sampai dalam level yang dalam, tidak sekedar seperti dengan kenalan. Komunikasi yang dimaksudkan adalah komunikasi yang menyebabkan tiap pribadi merasa diterima, dicintai dan dihargai. 

Dan itu berarti: 

  •  Memahami pasangan lebih dengan hati daripada dengan logika dan rasio saya.
  • Itu berarti mendengarkan dengan empati.
  • Dan apa itu empati? Mengesampingkan pikiran saya pribadi dan bahkan perasaan saya tentang apa yang dikatakan oleh pasangan, malahan memasuki “dunia” dari pasangan sehingga saya bisa berada bersama, memasuki cara pasangan berpikir, cara merasa pasangan. Atau tidak bersikap menghakimi dan mencap.
  • Untuk memahami kemarahan, ketakutan, kebingungan dari pasangan, seolah-olah saya yang mengalaminya. Dan untuk memahami makna lebih dalam dari perasaan-perasaan pasangan.
  • Anda melakukannya dengan menarik keluar perasaan-perasaan pasangan, dengan meminta penjelasan, dengan mengulangi dengan kata-kata saya sendiri poin yang saya tangkap, dengan menerima tanpa sikap setuju atau tidak setuju terhadap sikap dari pasangan.
  • Mendengarkan dengan empati berarti saya lebih proaktif daripada reaktif atau diam saja.
  • Dengan cara ini, pasangan mulai merasa dimengerti dan dipahami oleh saya, dan sepertinya akan memahami saya dengan empati juga.
  • Jadi arti terdalam dari empati tidak lain dan tidak bukan adalah kompasio (Latin: cum+patior), berbelasarasa dengan pasangan.
  • Setelah melatih kemampuan mutual empati, saya akan membuat pasangan saya memilah-milah kehendak Tuhan atas diri kita: untuk kebaikan pribadi, pasangan, keluarga, sesama, komunitas dan bahkan lebih luas dari itu.

Catatan:
Mendengarkan dengan empati tidak berarti anda harus selalu menyetujui dengan yang dikatakan pasangan. Namun perbedaan itu didialogkan. 

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC. Chaplain. 

%d blogger menyukai ini: