Para saudara terkasih, hari Minggu Paskah kedua kita kenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Adalah Paus Yohanes II yang mempersembahkan Paskah II sebagai Minggu kerahiman Ilahi, seperti diajarkan oleh St. Faustina. Dua tahun kemudian Paus meninggal tepat pada Pesta Kerahiman Ilahi 2005. Melalui Santa Faustina Allah memperkenalkan kerahiman-Nya pada tanggal 22 Februari 1931. Penampakan itu digambarkan hati Yesus yang ditikam dengan tombak dan mengeluarkan dua sinar yang menggambarkan air dan darah: melambangkan kerahiman Yesus yang menyucikan jiwa-jiwa. Melalui St. Faustina Allah mewahyukan bahwa betapa berat dosa kita, kasih dan kerahiman Tuhan lebih besar lagi. Allah mengundang kita kepada belas kasih-Nya sehingga kita tidak takut. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yoh 4:18).

Bacaan hari ini berkisah tentang Rasul Thomas yang memiliki pengalaman akan kerahiman Tuhan. Banyak orang melihat bahwa Thomas adalah pribadi yang kritis dan tidak mudah percaya. Tetapi ketika saya membaca dan mengkontemplasikan Thomas, saya malah melihat bahwa dia adalah pribadi yang terluka.

Tomas adalah murid yang mencintai Guru-Nya. Ketika Yesus mendengar kematian Lazarus yang sangat dikasihi dan akan mengunjunginya, para murid menjadi gentar karena Yerusalem adalah tempat para musuh Yesus yang bisa membunuh-Nya. Dan waktu itu Tomas berseru dengan suara lantang, “Mari kita pergi ke Yerusalem untuk mati bersama Dia” (Yoh 11:16). Waktu itu Tomas menjadi murid brilian yang menguatkan teman-temannya yang gentar. Tetapi Tomas ternyata hanya seperti kerupuk yang mudah melempem, ketika Yesus terancam maut, dia tidak kuasa terhadap kengerian maut dan lari. Tidak ada cerita dalam Kitab Suci di mana Tomas mencoba setia dengan gurunya walau hanya sejengkal langkah kecil. Dia membiarkan Guru-nya sengsara sendirian.

Tomas yang terluka karena gagal mengasihi Gurunya menjadi putus asa. Orang yang putus asa menjadi apatis dan susah percaya.Yesus rupanya memahami murid-Nya itu dan tidak membiarkannya bergumul sendiri. Ia datang kepada Tomas secara khusus dan menyentuh pergumulan batinnya. Ia datang menyampaiakan salam damai, salam pengampunan dan bukan celaan dan penghukuman (Yoh 20: 26). Ia mengundang Tomas untuk datang dan menyentuh-Nya (Yoh 20:27).

Kita bisa membayangkan tentu Tomas bergetar saat Tuhan memanggil-Nya. Luka-luka Yesus begitu nyata di depan matanya.Ketika Tomas melihat kepada luka Yesus, Tomas seperti melihat kepada luka-hatinya

Itulah pengalaman kebangkitan! Tomas merasa diterima oleh sang Guru yang mengasihi-Nya. Sabda Yesus adalah sabda pengampunan. Dan bahkan Yesus memberikan diri-Nya untuk disentuh dan dipeluk oleh Tomas. Menghadapi pengampunan sebesar itu, Tomas berseru, Ya Tuhanku dan Allahku”.

Saudara yang terkasih, pengalaman Tomas adalah pengalaman banyak di antara kita juga. Ada di antara kita merasakan hati yang menganga karena merasa gagal mencintai anaknya karena waktu muda begitu getol dengan bekerja, ada anak yang merasa terluka karena gagal mengungkapkan kasih dan cintanya kepada orangtuanya. Saya pribadi memiliki luka seperti itu. Saya memiliki seorang adik. Satu-satunya adik yang saya punya. Waktu kecil kami naik sepeda dan jatuh di tebing. Adik menangis dan dengan susah payah kami mengatasi masalah itu. Waktu itu saya seperti bertekad untuk menjaga dan membantu adik saya. Tetapi cinta kepada adik tidak pernah terealisasi dengan benar. Saya masuk Seminari dan masuk asrama. Dan sepuluh tahun berikutnya saya tinggal di Manado. Tidak ada kedekatan dengan adik, bahkan adik enggan untuk berbagi perasaan jika sedang galau. Luka karena gagal mengasihi, ternyata sangat nyata.

Sabda Tuhan Yesus hari ini menguatkan karena memberi pegharapan. Di dalam kegagalan kita, kita diampuni dan diberi kesempatan lagi untuk berbakti. Maka kita layak menyerukan “Tuhan, Engakulah andalanku”. Jesu, Ufam Tobie.

Saudaramu dalam Tuhan,
Rm. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: