Pada tanggal 2 November ini kita mendoakan mereka yang sudah meninggal namun belum masuk ke dalam Surga. Mereka masih ada di tempat penantian, atau dalam bahasa lain api pencucian. Mereka adalah umat beriman yang merasa belum pantas untuk menerima kemuliaan sehingga perlu mempersiapkan diri untuk menantikan Sang Penebus yang akan mengubah tubuh mereka yang fana menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia.

Pergumulan hidup manusia rupanya tidak berhenti di dunia. Sesudah meninggal pun, manusia masih diberi kesempatan untuk berjuang untuk memenangkan Kerajaan Surga. Kita bersyukur karena kita memiliki Allah Yang Maha Rahim. Allah menghendaki agar semua manusia selamat dan untuk itu Allah telah mengutus PutraNya yang Tunggal untuk menyelamatkan kita, supaya kita dibangkitkan pada akhir zaman (Yoh 6:39).

Ada kisah tradisional yang menceritakan Yesus setelah bangkit, masuk ke tempat penantian dan membujuk semua orang untuk ikut bersama-Nya masuk ke dalam Surga. Yesus menghendaki agar semua orang menemukan keselamatan abadi, dan tak seorangpun tinggal di dalam neraka.

Hal pertama yang saya rasa perlu kita renungkan adalah benarkah ada neraka? Renungan-renungan yang sering saya dengar sekitar kematian sering berorientasi kepada betapa mudah dan maha murahnya Tuhan mengampuni. Sehingga renungan-renungan sangat optimis bahwa yang meninggal pasti masuk surga. Dan kemudian kita mudah melupakan keselamatan jiwa mereka. Banyak orang tidak dapat menerima bahwa Allah yang mahabaik membiarkan adanya neraka, tempat siksaan abadi. Untuk hal ini mari kita merenungkan demikian:

1. Kita sungguh percaya akan kasih Allah. Kasih Allah dan Penebusan Yesus membuka gerbang neraka dan membuka pintu surga selebar-lebarnya. Tuhan sendiri datang kepada tempat penantian untuk mengantar orang ke Surga.

2. Namun Tuhan memperlakukan kita bukan seperti anak-anak tetapi sebagai orang dewasa yang turut menentukan nasib abadinya. Kepada manusia Tuhan memberikan kebebasan –karena kita bisa mencintai Allah hanya jika kita bebas. Maka dalam ruang kebebasannya itu manusia memiliki kesempatan untuk mencelakakan diri. Kita telah mempergunakan kebebasan kita sewaktu di dunia dan kebebasan itu membuat kita mendidik watak dan perilaku kita. Untuk orang-orang yang membina wataknya berkebalikan dengan nilai-nilai Kerajaan Allah maka Surga menjadi tempat yang asing. Maka Neraka bukan diciptakan Allah karena dendam atau karena Allah menghendaki tetapi sikap manusia sendiri yang membangkang kasih Allah.

3. Kardinal von Balthasar mengatakan “Pintu Surga selamanya terbuka lebar untuk manusia yang mau masuk tetapi tak seorangpun dipaksa untuk masuk”.

Mengenang dan mendoakan mereka yang sudah meninggal sungguh merupakan suatu keutamaan. Dan bahkan suatu tindakan iman karena kita percaya bahwa kasih Tuhan itu tiada batas, melampaui kehidupan di dunia ini dan menembus zaman keabadaian.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: