Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai. Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan.

Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat,

Luk 50:54-56

Para saudara, jarang kita merenungkan tentang Sabtu Suci. Mari kita merenungkan Sabtu Suci yang termasuk di dalam Tri Hari Suci.

Ajakan Untuk Beristirahat

Sebagaimana Allah beristirahat setelah menciptakan langit dan bumi (Kej 2:3), Yesus juga beristirahat pada hari Sabat. Ia beristirahat dalam makam. Dunia penuh dengan ketenangan dan keheningan. Perempuan-perempuan yang sedih dan patah hati juga beristirahat. Hari Sabtu suci adalah hari yang penuh keheningan. Pada hari itu tidak ada Sabda Tuhan, tidak ada pewartaan.

Hari Sabtu Suci mengingatkan kita bahwa keheningan adalah bagian penting dari kehidupan. Setelah kita bekerja sangat keras, seperti Yesus juga menjalani sengsara teramat dahsyat dalam inti perutusanNya, dia beristirahat. Perempuan-perempuan dan para murid yang sangat sedih juga membutuhkan istirarhat.

Para saudara, mari kita juga belajar untuk menghargai arti dari istirahat dan keheningan. Istirahat bukan hanya dalam arti tidak berbuat apa-apa, tetapi saat hening, saat menata dan mendidik hati. Keheningan itu akan membuahkan buah-buah rohani, keteraturan hati, kedamaian hati.

Seringkali ketika berlibur, day off atau istirahat, kita justru gaduh dengan riuh rendah musik, sibuk memilih menu yang terenak, mencari hiburan ini dan itu. Itu tidak salah. Tetapi sering mendepak hening dari diri kita. Sesekali dalam waku luangmu, saat day off mu, pergi ke taman. Ada banyak taman yang sangat indah di Sydney ini. Merasakan damainya keheningan. Mendengarkan suara hatimyanu sendiri. Mencoba mendengarkan suara Tuhan.

Mundur untuk Maju

Namun keheningan itu bukanlah tanpa hasil. Dalam keheningan Sabtu Suci ini kurban darah digantikan dengan kurban Ekaristi, hukum taurat dengan Injil, bagian tersuci Bait Allah terbuka dan umat boleh memandang Allah yang kudus.
Dalam saat hening, kita juga mengganti kejenuhan kepada semangat baru.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: