Engkaulah anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan (Mrk 1:11)

Bagaimana menjadi Ayah di zaman modern ini? Generasi anak-anak sekarang sering disebut sebagai generasi tanpa ayah. Para ayah banyak memposisikan diri sebagai “bread winner” (pencari nafkah) saja dan urusan rumah tangga diserahkan kepada sang Ibu (yang kenyataannya sibuk bekerja juga).

Sebagai akibatnya anak-anak sekarang ini lebih dekat dengan ibu daripada dengan ayahnya.Ketika seseorang menjadi terlalu dekat dengan Ibu yang kasihnya begitu hangat, sering anak-anak bertumbuh menjadi pribadi yang sulit dituntut. Mentalitas “Tolong pahami saya” mewujud menjadi keengganan untuk memikul tanggungjawab dan merasa tenang saja ketika melanggar aturan. Seorang anak membutuhkan cinta kasih yang berimbang. Berimbang antara cinta afektif, yaitu sikap menerima, mensuport, mendukung dengan cinta efektif, yaitu melatih, menuntut, bersaing.

Dalam menghadapi dunia yang sekarang ini, peranan ayah menjadi begitu penting. Berikut saya sarikan beberapa pendapat daru spiritualitas kristiani tentang panggilan sebagai ayah.

1. Ayah yang hadir di keluarga
Ayah adalah kepala keluarga. Kehadirannya menenangkan. Keluarga yang ditemani kepala keluarga, akan menjadi keluarga yang tenang dan damai. Ayah adalah seorang pemimpin. Kehadirannya membuat keluarga menjadi teratur.

2. Ayah yang mencintai dengan ekspresi
Cinta seorang ayah selalu diperlukan. Cinta seorang ayah membuat anak menjadi percaya diri. Namun sering seorang ayah tidak mampu meng-ekspresikan cintanya kepada anak-anak. Menjadi ayah perlu untuk menyatakan kasih itu, misalnya lewat pelukan atau kata-kata yang menguatkan. Anak laki-laki sangat merindukan kata-kata, “Ayah bangga padamu.” Dan anak perempuan sangat merindukan pujian, “kau cantik sekali”. Kata-kata itu mengandung kekuatan untuk membangun kepercayaan diri.

3. Ayah yang mendengarkan
Sebagai lelaki, seorang ayah memiliki pendirian dan kemauan yang keras. Seorang ayah sering berbeda pendapat dengan anak-anak, terutama anak laki-laki. Walaupun tidak sependapat dan berkuasa, seorang ayah yang baik akan terlebih dahulu mendengarkan dan kemudian memberi alasan mengapa dia tidak setuju.

4. Memberi Diri
Ayah adalah laki-laki. Dan laki-laki itu dipanggil untuk menjadi pelindung. Seorang ayah akan menampakkan diri sebagai pelindugn kalau dia memberi diri kepada keluarga. Dia mencari nafkah dan diberikan kepada keluarganya. Keterbukaan dalam hal finansial sanga penting agar keluarga mengetahui perjuangan seorang ayah.

5. Mengajar
Seorang ayah adalah seorang pengajar. Ajaran seorang ayah harus jelas. Dan ajaran menjadi jelas kalau disertai dengan contoh yang konkrit.

6. Menetapkan Aturan
Anak-anak belum mampu mengatur diri. Mereka perlu diatur. Bahkan keluarga perlu diatur. Bahkan seorang ayah harus menuntut dan meminta pertanggugnjawaban. Sikap ini akan membatu anak untuk mampu mengemban tanggugnjawab di kemudian hari.

7. Memberi Inspirasi
Seorang ayah dipanggil untuk menjadi inspirasi. Inspirasi itu muncul kalau dia berdedikasi kepada keluarga. Hidupnya akan menjadi penyemangat bagi anak-anaknya.

Pelayanmu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: