“Mata ganti mata hanya akan membuat seluruh dunia menjadi buta.” – MAHATMA GANDHI –

“Beberapa tahun yang lalu keluarga saya mengunjungi paman yang sakit keras dan tidak mungkin bisa disembuhkan lagi. Paman itu adalah orang yang sama yang melecehkan saya ketika aku masih gadis remaja. Saya telah menghindarinya selama 40 tahun karena luka batin yang menyakitkan. Dalam kunjungan itu, aku diminta untuk menyuapinya. Saya merasakan rasa sakit hati itu terasa kuat, namun aku behasil membuat sedikit percakapan. Saya merasa tidak siap. Pamanku memintaku untuk menyuapinya selama hari-hari akhir sebelum kematiannya. Saya sangat enggan. Tetapi aku menyetujuinya.

Di hari-hari selanjutnya, aku berusaha untuk bercerita dan bahkan mengelus-elus lengan dan tangannya: lengan dan tangan yang sama yang melecehkanku berpuluh tahun lalu. Dalam hati, aku membisikkan doa, “Tuhan, kadang Engkau memintaku hal yang terlalu sulit.”

Namun, entah bagaimana caranya, hatiku terbuka kepada pengampunan. Saya mulai merasa indahnya mengampuni. Mengampuni membawa berkah bagi semua. Aku menyimpan rasa sakit dan dendam selama bertahun-tahun, dan semua itu hilang. Ingatan itu masih ada tentu, tetapi tidak lagi menyakitkan. Aku berubah, dari korban menjadi pemenang.”

Disadur dari: Judith Gardner – Claremont. CA (Creating a Circles of Peace).

Para pembaca yang budiman, kesaksian di atas menyatakan bahwa memaafkan itu membebaskan. Bukan hanya yang memaafkan, tetapi yang memberi maaf juga mendapatkan banyak kelegaan. Dalam dunia psikologi ada prinsip bahwa saya bertanggungjawab atas luka batin saya. Menghukum dan menyalahkan tidak akan menghilangkan rasa sakit itu.

Maka jika ada yang menyakiti hati anda, kenapa tidak memakai jalur ajaran sang Guru Yesus ini: maafkanlah.

Pelayanmu dalam Tuhan,
P.Petrus Suroto MSC
CIC Chaplain

%d blogger menyukai ini: