Para saudara,
Ada yang aneh ketika kita merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Yesus digelari Raja Semesta Alam, namun Injil yang kita baca justru bercerita tentang Yesus yang sementara diadili oleh Penguasa duniawi. Tidak ada nuansa kemegahan dalam diri Yesus. Pikiran kita tanpa sadar memahami bahwa Raja adalah orang yang bisa bertindak bebas semaunya penuh kuasa. Namun dalam kasanah iman, Raja adalah mereka yang bebas merdeka dalam menguasai diri demi pewartaan kebenaran (Yoh. 18:37).

Pernah saya mendengar kisah ini. Di Jepang, ada seorang gadis yang memutuskan untuk bunuh diri dengan terjun dari gedung yang tinggi. Namun tiba-tiba mendapatkan ide, untuk menelpun stasiun televisi agar menayangkan “adegan” bunuh diri itu dan menyiarkannya ke seluruh negara. Stasiun televisi itu setuju, dan mengirim reproter dan juru kamera untuk merekam adegan itu, hingga acara bunuh diri itu berjalan sukses. Warga kota menjadi heboh dan marah kepada stasiun televisi itu karena mereka bukannya melarang tetapi malah menyiarkan. Staf Stasiun televisi berkelit, kami kan hanya menjalankan permintaan?  Itulah salahnya. Mereka tidak melakukan yang benar.

Penguasaan diri dan melakukan yang benar bukanlah naluri alami manusia. Hanya lewat mendidik diri kita dalam kebenaran dan melatih diri dalam kebebasan, kita akan menjadi bebas merdeka dalam mewartakan kebenaran. Yesus walaupun dalam ancaman kematian, tetap tidak kehilangan kemuliaan karena penguasaan diri dan melakukan yang benar.

Sabda Yesus memang sering sulit dimengerti, namun selalu saja akhirnya terbukti. Siapakah orang yang sukses di dunia ini? Mereka yang mampu menguasai diri dan melakukan yang benar. Di kota kecil Tyler, Texas, seorang bocah miskin berjalan melintasi sekelompok pemuda penganggur yang duduk bermalas-malas mengelilingi perapian. Salah seorang dari mereka bertanya, “Hai bocah, mau jadi apa engkau kelak?” Anak itu menjawab, “saya ingin menjadi pengacara terhebat di dunia”. Para pengangguran itu tertawa terbahak-bahak. Beberapa tahun kemudian, jika anak  tadi melintas dan para penganggur tertawa-tawa, pastilah dengan alasan berbeda. Karena anak itu sudah menjadi pakar hukum terkenal dan ketrampilan hukumnya sedemikian hebat sehingga penghasilannya melebihi Presiden Amerika Serikat. Namanya Martin W. Littleton.

Martin berhasil sukses dalam hidup karena mampu menguasai diri dan melakukan hal-hal yang benar. Para penganggur itu tidak bisa menguasai diri dan tidak melakukan yang benar sehingga nasibnya tidak berubah. Tuhan Yesus dengan penguasaan diri yang sempurna dan menyatakan kebenaran, diakui oleh Ponsilus Pilatus sehingga di atas salibnya ditulis INRI, Iesus Nazaretus Rex Iudaeorum (Yesus dari Nazareth Raja orang Yahudi). Dia bukan hanya raja dunia, tetapi Raja penyelamat umat manusia.

Setiap hari Tuhan memberi kita kesempatan untuk berbuat sesuatu, mengasihi sesama, melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Sudahkah kita bebas untuk melaksanakannya?

Kita bersalah bukan saja saat melakukan yang jahat, tetapi juga saat tidak menguasai diri dan tidak melakukan yang benar.

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC
Chaplain

%d blogger menyukai ini: