Para saudara yang terkasih,
Hari ini kita merayakan hari Pentakosta. Pesta ini berasal dari bahasa Yunani Pentecoste, atau hari kelimapuluh. Hari ini memang 50 hari setelah pesta Paskah. Gereja Katolik merayakannya sebagai pesta turunnya Roh Kudus. “Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angina keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing” (Kis 2:2-3).

Roh Kudus itu Pribadi Ketiga Tritunggal Mahakudus. Ia diutus Bapa dan Putra untuk mendampingi kita. Ia berkarya diantara kita sebagai Penolong yang membantu kita menemukan keselamatan yang sejati. Berlambang lidah api karena mentransformasikan, seperti yang dialami para murid.

Mereka yang tadinya takut menjadi berani, tadinya menutup diri menjadi membuka diri, dari kelesuan menjadi semangat membara, ketidak berdayaan menjadi kekuatan, yang tadinya tidak berani bersaksi menjadi berani dan berkata-kata dengan penuh kharisma. Dan para murid menjadi saksi Kristus sampai ke ujung dunia.

DatangNya Roh Kudus ini juga menjadi kelahiran Gereja, karena atas karya Roh Kudus, para murid dimampukan untuk memberikan kesaksian iman. Para murid menerima Roh dalam rupa lidah api dan terjadi tranformasi luar biasa! Mereka dan yang semula takut menjadi dimampukan untuk mewartakan Yesus yang bangkit. Dan dari peristiwa itu mulai bersekutu orang-orang yang percaya kepada Kristus. Lahirlah Gereja sebagai persekutuan umat beriman.

Kendati Gereja dilahirkan oleh Roh Kudus, tetapi Gereja tidak identik dengan Roh Kudus. Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri. Maka Roh Kudus bebas berkarya atas siapa saja yang Dia kehendaki. Roh Kudus bukanlah milik dari Gereja. Gereja tidak menguasai Roh Kudus. Roh Kudus berkarya saat Dia menghendakinya. Roh Kudus memang Penolong, pemberian Allah (Yoh. 14:15) tetapi bukan milik Gereja. Roh Kudus ada jauh di atas Gereja. Roh Kudus berkarya pada apa saja yang dikehendakiNya. Bahkan Roh Kudus berkarya juga di luar Gereja seperti pada organisasi Green Peace atau Amnesti Internasional, pada agama-agama lain dan semua organisasi yang berkehendak baik.

Kalau Roh Kudus bekerja di mana saja, apa keistimewaan dari Gereja Katholik? Gereja menerima Roh Kudus sebagai Pemberian Allah dengan cara yang spesial, karena sudah dijanjikan oleh Bapa dan Putra. Maka pastilah Roh Kudus berkarya dalam Gereja. Tetapi Gereja tidak memonopolinya. Gereja memohon “Datanglah Roh Maha Kudus” sebagai pengakuan bahwa Roh Kudus jauh lebih tinggi kedudukannya daripada Gereja.

Kita memohon agar Roh Kudus sudi datang. Gereja senantiasa memohon agar Roh Kudus menyertainya sampai akhir zaman. Karunia Roh Kudus itu disebut kharisma. Kharisma diberikan kepada kita bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi kita pakai karena kita mengasihi Yesus (Yoh 14:15). Kharisma membuat kita mampu memberikan pelayanan yang unik dan spesifik kepada komunitas. Kepada kitapun Roh Kudus memberikan kharisma. Tetapi dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang diberikan dengan cara yang luar biasa, seperti terhadi pada diri St. Paulus atau Agustinus. Tetapi umumnya jarang. Roh Kudus lebih sering berkarya dengan cara yang biasa dan sehari-hari: seperti kemampuan salah satu dari kita untuk berkata-kata atau mempelajari bahasa, mengilhami penyapu jalan untuk tetap setia pada pekerjaannya, pada pekerja pembersih gorong-gorong air karena pekerjaan mereka membebaskan kota dari banjir. Roh Kudus memampukan kita bertekun di dalam pekerjaan yang biasa.

Karya Roh Kudus dalam diri kita bisa diganggu dan dikaburkan dengan kedosaan kita. Maka pemurnian dan pembeda-bedaan menjadi penting. Kita perlu – disela-sela kesibukan harian kita, memberi tempat dan waktu untuk hening dan membeda-bedakan Roh agar dapat mengenali Roh Kudus yang sementara bekerja dalam diri kita. Karena Roh Jahat sering menyamarkan godaannya lewat hal-hal yang kelihatannya suci. Seperti atas nama cinta kita menghukum anak kita dengan hukuman fisik, atas nama cinta kita berbuat curang, dll.

Maka marilah kita membuka diri untuk disertai, dibimbing, dikuatkan oleh Roh Kudus dalam cara berpikir, merasa dan bertindak kita dalam kehidupan sehari-hari.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: