Tentang keluarga, Konsili Vatikan II memandangnya sebagai Gereja Domestik (Gereja Rumah-tangga). Keluarga adalah Gereja yang hidup karena di dalam keluarga, pribadi-pribadi mempraktekkan kehidupan berimannya lewat makan bersama, doa bersama, mengalami suka dan duka, dan menghadapi tantangan-tantangan zaman. Mendiang Paus Yohanes Paulus II dalam Familiaris Consortio sangat menekankan peranan keluarga kristiani. Dengan demikian, keluarga bisa disebut sebagai re presentasi Gereja. Kehidupan menggereja bisa dipraktekkan di keluarga, dan sebaliknya praktek kehidupan keluarga mengekpresikan kehidupan menggereja. Hal ini sudah dipraktekkan sudah sejak kelahiran Gereja itu sendiri. Bukankah Jemaat Perdana memulai kehidupan menggereja dari rumah ke rumah? Pun demikian, kehidupan keluarga tidak serta-merta menjadi ekpresi yang baik dalam kehidupan menggereja. Ada banyak tantangan-tantangan yang mengancam pondasi kehidupan rumah tangga. Untuk menyebut beberapa di antaranya: keterbukaan suami-istri, pengaturan ekonomi rumah tangga yang lebih bersikap konsumtif-materialis, relasi antara orangtua dan anak, keluarga dengan anak yang menganggur dan lain-lain.

Lantas bagaimanakah kehidupan Gereja Rumah tangga itu bisa dibangun sehingga menjadi tanda dan sarana yang baik yang berguna bagi pegembangan Gereja? Jawabnya: Kembali kepada Sakramen Gereja (Tanda Keselamatan) dan praktekkan keluarga sebagai tanda nyata keselamatan Tuhan. Ada tujuh sakramen dalam Gereja. Masing-masing pokok Sakramen dapat kita rayakan dalam perayaan yang hidup dan nyata dalam keluarga:

Sakramen Permandian. Dalam kehidupan menggereja Sakramen Permandian adalah penerimaan menjadi Keluarga Umat Allah. Penerimaan ini bukanlah hanya sebatas ritual di gedung gereja semata, tetapi harus dipraktekkan dalam keluarga. Suami istri yang berasal dari latar belakang yang berbeda, kepribadian yang berbeda, cara memandang yang berbeda bertekad untuk bersatu jiwa raga. Penerimaan merupakan pembentuk kehidupan yang paling penting. Ketika seseorang mengalami pengalaman diterima, biasanya pribadinya akan bertumbuh dengan mantap. Saling menerima dala kehidupan keluarga diujudkan lewat saling mendengarkan dengan empati, memahami sudut pandang pasangan.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC. Chaplain.

%d blogger menyukai ini: