Sakramen Ekaristi. Dalam keluarga sakramen ini dipraktekkan dalam makan bersama. Ekaristi dalam artinya yang dasar adalah perjamuan. Alangkah indahnya jika setiap keluarga memiliki kebiasaan makan bersama. Dalam makan bersama Suami-Istri-anak-anak mensyukuri rahmat Tuhan. Tetapi sakramen ekaristi ini juga dipraktekkan lewat berbagi rejeki kehidupan. Pendapatan suami-istri dikumpulkan bersama, dikelola bersama demi kesejahteraan bersama. Tantangan muncul seringkali berkaitan dengan keinginan salah satu menjadi bintang: maunya dilayani dan didukung dan yang lain dianggap sebagai penggemar atau banserep semata. Atau ketika satu pihak tidak mau berbagi, memandang gaji sebagai pendapatan pribadi dan bebas menurut kehendaknya sendiri tanpa mempedulikan pasangan.

Sakramen Pengampunan Dosa. Dalam keluarga sakramen ini dipraktekkan dalam kesediaan untuk saling memaafkan kembali. Tidak ada satu keluargapun yang lepas dari pengalaman saling melukai. Maka kesediaan untuk memaafkan kembali, sering menjadi perekat penting bagi keutuhan keluarga. Sebagaimana Allah senantiasa membuka pintu pengampunan, dalam keluargapun harus dipraktekkan saling mengampuni yang bersalah satu dengan yang lain.

Sakramen Penguatan. Dalam keluarga, sakramen ini diujudkan dalam kesediaan untuk saling mendukung satu dengan yang lain. Dukungan dan peneguhan sangatlah penting karena menumbuhkan rasa diri berharga. Kehidupan keluarga tidaklah dimaksudkan untuk mereguk kepuasan dari yang lain, tetapi untuk saling meneguhkan, menumbuhkan dan mengembangkan.

Sakramen Perkawinan. Sakramen perkawinan dapat dipraktekkan dalam keluarga lewat ungkapan kasih antara suami istri. Suami istri dapat saling menyatakan kasih sayang yang eksklusif dengan berbagai macam ungkapan.

Sakramen Orang Sakit. Keluarga biasanya mengalami pengalaman jatuh sakit, walau sekedar sakit ringan. Sakramen Orang sakit justru dipraktekkan dalam sikap saling merawat satu dengan yang lain. Saling merawat tidak harus menunggu sampai salah satunya sakit. Tetapi saling menjaga kesehatan pasangan juga praktek dari sakramen ini.

Sakramen Imamat. Mungkin anda berfikir bagaimana imamat dapat dipraktekkan dalam keluarga? Bisa saja. Karena bukankah setiap umat beriman memiliki imamat umum? Sakramen imamat bisa dipraktekkan dalam kepemimpinan. Orangtua memimpin anak-anak untuk kehidupan yang baik. Kepemimpinan di sini ada dalam tataran praktek. Orangtua mengajarkan toleransi, disiplin diri, latihan rohani. Imamat juga bisa berarti memimpin doa dan memberi restu. Saya perhatikan beberapa orangtua memberi restu (berkat) lewat jabat tangan dan disentuhkan di dahi si anak. Bukankah ini juga praktek dari sakramen imamat?
Gereja rumah tangga adalah praktek menggereja yang sungguh nyata. Bila ini disadari secara sungguh-sungguh, keluarga-keluarga menjadi saksi nyata dari kehidupan menggereja.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC. Chaplain.

%d blogger menyukai ini: