Mengenal Santa Monica

Santa Monica Monica diperingati oleh Gereja Katholik dan Gereja Ortodox selama berabab-abad. Dia lahir di tahun 331, dari keluarga Kristen yang saleh. Ketika masih belia, dia dinikahkan dengan Patricius, seorang yang tidak beragama. Banyak waktu dia dedikasikan untuk berdoa, khususnya untuk pertobatan dan keselamatan Patricius, suaminya, seorang pegawai Roma yang tabiatnya kurang begitu baik. Doanya yang sungguh-sungguh, disertai airmata dikabulkan Tuhan, dan Patricius bertobat menjadi Kristen.

Sesudah Patricius bertobat, doanya diarahkan kepada anaknya, Agustinus. Lahir di tahun 354, Agustinus pandai dan menjadi ahli filsafat. Agustinus waktu muda memiliki gaya hidup yang tidak sesuai ajaran moral Kristen. Monica sampai menyusul dia di Roma, dan meminta pertolongan Santo Ambrosius untuk membantu anaknya. Doa dan pengobanannya tidak sia-sia. Agustinus bertobat pada tahun 387. Setelah Putranya bertobat, dia mengalami kelegaan. Dan wafat dengan damai di tahun yang sama. Pestanya dirayakan tanggal 27 Agustus.

Santa Monica menjadi teladan bagi para Ibu. Dia sangat memperhatikan keselamatan jiwa. Dalam buku yang sangat terkenal, Confessiones, St. Agustinus menulis: “Tetapi Engkau mengirimkan penolong dari Surga dan menyelematkan jiwaku dari kegelapan yang pekat. Dialah Ibu ku, hambamu yang setia. Ia menangis, mengucurkan airmata lebih banyak daripada para ibu yang menangis karena kematian anak-anaknya. Karena secara rohani, dia melihat saya telah mati. Engkau mendengarnya dan tidak mengabaikan airmatanya yang menegalir ke bumi, di setiap tempat dia menunduk dalam doa”.

Monica menempatkan iman sebagai pusat hidup. Walaupun Agustinus cerdas dan masyhur dalam bidang filsafat, tetapi itu tidak menyukakan dirinya. Imanlah yang penting baginya.

Zaman Now

Kita hidup 1500 tahun setelah Monica wafat. Tentu banyak hal telah berubah. Salah satunya adalah prioritas di dalam hidup. Kita hidup di zaman Humanis. Salah satu tokoh peletak dasarnya adalah Carl Rogers. Carl Rogers mengajarkan bahwa pada diri manusia ada potensi-potensi yang besar. Asalkan tidak dihalangi, maka manusia akan bertumbuh dengan baik, karena pada dasarnya manusia adalah baik. Pelan-pelan, manusia menjadi pusat. Dan Tuhan mulai tersingkirkan di dalam kehidupan.

Manusia zaman now selalu memikirkan potensi diri. Dan orang yang baik adalah orang yang bisa mengembangkan kemampuan diri. Potensi diri dan aktualisasi diri menjadi pusat. Masalahnya adalah, di mana kita menempatkan Tuhan. Tuhan tidak lagi dijadikan pusat hidup kita. Kita bisa melihat itu di dalam ranah nyata kehidupan: melupakan hari Tuhan dan menyingkirkan Tuhan dari kehidupan. Pada ranah filsafati bahkan ada yang mengatakan agama membuat manusia tidak dewasa. Banyak orang mulai menjadikan manusia sebagai pengambil keputusan dalam hal moral: aborsi, euthanasia, homoseksuality dan lain-lain.

Tantangan

Bagi para ibu, masih beranikah kita seperti Monica menghadapi anaknya yang jauh lebih pintar? Lebih fasih di dalam bahasa latin? Lebih pintar dalam berargumen? Tetapi makin jauh dari Tuhan. Monica mengandalkan doa agar anaknya kembali kepada Tuhan. Dia mendapatkan kekuatan dari St. Ambroisus: Doa seorang ibu yang disertai dengan airmata, tidak akan ditolak oleh Tuhan.

Saudaramu dalam Tuhan,
Rm. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: