Hari yang sulit bagi Ibu Stressiana.
Setelah mendengar desas-desus bahwa suaminya selingkuh, kini dia mendengar pengakuan dari suaminya bahwa: benar, suaminya selingkuh. Dan bahkan sudah ada anak dari selingkuhannya. Ibu stressiana mengambil mobil, memutar kunci starter, menginjak gas dan menabrakkannya di pagar dan dia menangis sejadi-jadinya.

Hidup perkawinan setelah tersakiti memang tidak mudah. Karena yang dicederai adalah kepercayaan yang justru menjadi pondasi perkawinan. Beberapa buku dan jurnal melaporkan bahwa pihak yang tidak bersalah biasanya sulit untuk memaafkan, kehilangan kepercayaan kepada pasangan, menjadi kurang percaya diri dan menjadi curiga yang berlebihan kepada pasangan. Namun yang paling sulit adalah membangun sikap percaya kembali. Pihak yang bersalah sering berpikir untuk tidak mau disakiti kedua kali. Dan yang hilang adalah impian-impian yang sering tidak disadari. Itulah yang membuat pihak yang tidak bersalah sering sedih dan menangis, tanpa tahu mengapa. Ada perasaan bimbang dan putus asa.

Ada rupa-rupa pilihan untuk menghadapi realitas setelah tersakiti itu. Bercerai, pisah ranjang, balik ke orangtua, membiarkan saja atau memaafkan dan membangun perkawinan kembali. Saya ingin membahas pilihan terakhir: memaafkan dan mencoba membangun perkawinan kembali.

Langkah awal adalah mencoba untuk berempati. Empati artinya kesediaan untuk masuk dalam perasaan pasangan yang pernah bersalah. Pihak yang bersalah sebenarnya merasa malu, merasa bersalah dan tersiksa dengan penyesalan. Namun (terutama jika laki-laki), walaupun mereka sudah merasa bersalah tetapi mereka tidak mau kalau disalah-salahkan melulu. Kadang pihak yang bersalah merasa diperlakukan tidak adil. Kesalahan yang mereka pikir sudah disesali mengapa harus diungkit-ungkit. Itulah sebabnya sering pihak yang bersalah malah menjadi lebih galak. Perasaan orang yang bersalah itu sering kelewat peka. Sikap-sikap tubuh, ungkapan sederhana sering ditafsirkan sebagai bentuk penghinaan. Itulah sebabnya lebih banyak pbersalah kembali jatuh dalam kesalahan yang sama. Lagi dan lagi.

Langkah kedua untuk bisa memaafkan justru dengan menyadari bahwa pihak yang tidak bersalah juga bukan pribadi sempurna. Kesadaran bahwa kita juga bisa keliru, akan lebih membuat lebih mudah memaafkan daripada berpikir bahwa pasangan keliru dan saya benar, yang satu hitam yang satu putih. Karena dalam hidup perkawinan tidak tepat lagi berpikir sebab-akibat. Kedua belah pihak saling memberi pengaruh.

Dan yang ketiga adalah waktu. Butuh waktu untuk memperbaiki perkawinan setelah terlanjr disakiti. Waktu itu diperlukan bukan untuk melupakan. Tetapi untuk membina hubungan, memperbaiki yang sudah dirusakkan. Janis Abrahm Springs dan Michael Springs, penulis “After the Affair” (1996), mengatakan bahwa kendati tidak mudah untuk membangun kembali hidup perkawinan setelah kepercayaan dirusakkan, namun ada satu momen sangat berharga: yaitu “kesempatan untuk dilihat oleh pasangan sebagaimana adanya.” Karena banyak orang menikah bukan dengan orang tetapi dengan bayangan-bayangan dan idealisme (yang tidak disadari) yang kemudian dipaksakan ada pada pasangannya.

Dan setelah melalui waktu-waktu untuk memperbaiki hubungan, berbagi perasaan dan kesedihan, pasangan akan merasa dicintai apa adanya. Pasangan akan merasa lebih erat, makin menerima satu dengan yang lain dengan lebih baik, jauh lebih baik daripada saat mengucapkan janji setia.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC.

%d blogger menyukai ini: