Setiap orangyang mempunyai, kepadanya akan diberi. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. (Luk 19:26)

Ujaran Kebencian

Saya gogling tentang Presiden RI yang terjebak kemacetan. Gagah, naik motor, terbang, meliuk-liuk di kemacetan dan tepat waktu membuka acara Asian Games di Jakarta. Sangat menghibur. Tentu saja dari awal saya tahu itu diperankan oleh Stuntman. Bandingannya: menjadi Uskup saja sebenarnya dilarang setir mobil untuk menghindari resiko karena Uskup merepresentasikan umat. Kalau nabrak orang, bisa terbawa-bawa institusi Gereja. Apalagi presiden yang adalah juga kepala negara, representasi Indonesia. Seharusnya dilarang naik motor atau hanya jika dengan pengawalan ketat.Namun yang menarik saya adalah komen-komen. Ada yang memuji, ada yang mengkritik dengan sopan. Namun ada juga yang mengkritik dengan sarkastis, menuduh dan sudah bisa digolongkan sebagai ujaran kebencian.

Ujaran kebencian tidak selayaknya diungkapkan dalam ranah publik. Karena ujaran kebencian menciptakan polusi negatif yang kemudian mengendorkan nalar dan menyalakan emosi. Saya termenung: sikap mental apa yang mendominasi itu semua?

Dua Sikap Mental

Ada dua sikap mental yang disadari atau tidak mendominasi manusia, yakni sikap mental positif dan sikap mental negatif. Dalam diri manusia ada semacam pemancar yang bekerja otomatis dan terus menerus. Pemancar itu terus menerus mengirim dan menerima pesan dari orang-orang di sekitar anda. Jika sikap mental anda positif anda akan dipandu untuk menerima sinyal-sinyal positif dalam mengurus pekerjaan dan keuangan, kesehatan, cinta dan pengabdian, kerjasama, persahabatan, kompetensi, kompetisi dan inspirasi. Anda akan dipandu untuk menerima rahmat demi rahmat yang diberikan Tuhan. Sikap mental pofitif adalah atmosfir berpikir, merasa dan bertindak yang ditandai dengan syukur, optimisme, kegembiraan, keingin-tahuan, rasa aman, keinginan menjalin hubungan baik dengan sesama. Jika anda memiliki sikap positif ini, kita seperti memiliki kekayaan yang sangat besar dalam hidup. Sikap mental positif seperti akan membuka pintu bagi berbagai kerjasama, kebahagiaan dan damai.

Lawannya adalah sikap mental negatif. Jika anda dikendalikan oleh sikap mental negatif maka atmosfir berpikir, merasa, bertindak ditandai dengan keraguan, ketakutan, iri hati, kekecewaan dan kecurigaan. Anda akan mudah menerima isyarat negatif seperti merasa direndahkan, tersinggung, ketakutan, kekuatiran, kecurigaan, penyesalan, dan lain-lain. Sikap mental negatif ini akan mengantar seseorang kepada keserakahan, egoisme, prasangka buruk, ketakutan, keraguan, kekecewaan dan penyakit fisik.

Mari kita hening sejenak dan merenungkan, sikap mental apa yang mendominasi anda saat ini?

Memupuk Sikap Mental Positif

Tentu kita menginginkan sikap mental poitif ini. Tetapi bagaiamana memilikinya? Kita sering memiliki pengalaman di mana ada keinginan untuk bersikap baik, bersikap murah hati, tidak menyimpan dendam dan iri, tetapi hati kita malah dikuasi sikap-sikap negatif itu. Dari manakah mental positif itu muncul? Jawabannya: banyak faktor. Ada orang yang dari lahirnya sudah berbakat positif, pengasih, menghargai orang. Ada juga yang mengalami pola pengasuhan yang kendati disiplin tetapi penuh kasih sehingga dia memiliki pola berpikir positif. Ada juga yang waktu kecil mengalami trauma, ketakutan, pola pengasuhan keluarga yang keras sehingga membentuk sikap mental negatif, namun dalam perkembangannya bertumbuh dan menjadi lebih positif. Ada juga yang karena pengalaman masa lalu terus menerus merasa seperti terjebak sikap mental negatif ini. Seperti ada kemarahan yang terperangkap di hati tanpa kita mengetahui dari mana asalnya.

Antony de Mello, Pastor dari India, menasehatkan bahwa mentalita sikap positif ini berakar dari hati yang bersyukur. Dan hati yang bersyukur ini berasal dari pengalaman dikasihi dan dicintai oleh Tuhan tanpa syarat. Dengan mencecap kebaikan Tuhan, maka hati kita seperti penuh dengan kasih, sehingga sikap kasih akan menjiwai kita.

Namun apakah kita mampu merasakan kasih itu? Seringkali kita tidak bisa melihatnya walaupun dengan akal budi kita tahu Tuhan mengasihi.

Ada berbagai tehnik dan metode untuk membantu merasakan kasih Tuhan itu. Antara lain dengan pembukaan doa pribadi, wawan hati dengan Tuhan, dengan dimulai dengan ini: “Tuhan betapa gembiranya hatiku, karena hari ini…..”.

Mari kita memohon dan memupuk sikap mental positif itu dalam kehidupan supaya merasakan kebahagiaan, damai dan sukacita.

In Corde Iesu,
Fr. Petrus Suroto MSC.
Chaplain.

%d blogger menyukai ini: