Tanggal 19 Mei 2019 adalah misa kita yang terakhir di Newton. Pada kesempatan ini mari kita menyadari bahwa kita sudah menjadi bagian dari Gereja ini. Gereja ini bergaya Gothic dan dibangun mulai 31 Juli 1866 dan ditahbiskan pada 23 Mei 1869. Gereja ini sangatlah indah, dengan patung-patung klasik, orgel pipa, panti imam dengan batu marmer dan jendela dengan mosaic (painting glass) yang sangat indah.

Saya baru menyadari keindahan dari Gereja ini sesaat sebelum kita berpindah. Para gembala di St Joseph Newtown berupaya untuk hidup dalam semangat Injil dalam Gereja ini, yaitu lewat keterbukaan. Misi dari Paroki ini adalah: We acknoledge the Gadigal people of the Eora nation as the traditional custodian on Which St. Joseph’s stands. St. Joseph’s aims to provides a safe place to all people to pray regardsless of age, race, creed, gender, cultural background or sexual orientation.

Gereja ini telah bermurah hati meminjamkan space untuk komunitas kita, CIC. Bukan hanya kepada kita, tetapi Gereja ini meminjamkan taman, Garavel Park, kepada Council untuk masyarakat luas. Juga membuka diri kepada kelompompok Alcoholic Anonymus, Narcotic anonymus, meminjamkan sekolah tua kepada kelompok seniman (community of artist) dan juga kepada kelompok gay dan lesbian. Semuanya dengan at low cost. Gereja ini juga mendukung asylum seeker. Saya bangga dan bahagia bisa menjadi bagian dari Komunitas ini.

Di dalam CIC sendiri, kita sendiri sudah menjadi bagian dari komunitas ini selama lebih dari 26 tahun. Itu berarti:
• Kita sudah merayakan ekaristi di tempat ini, setidaknya 1355 kali.
• Kita membabtis anak-anak kita, sejumlah 737 bayi dan dewasa.

Gereja ini telah menjadi bagian penting dari hidup kita. Terutama saat-saat kita mengalami kesusahan di tahun 1998 dan harus lari ke sini. Tempat ini telah menjadi santapan rohani, banyak pendalaman iman digelar, persaudaraan dieratkan, kekuatan dibangun di sini.

Kita juga sudah banyak menggalang dana dan kita sumbangkan ke tanah air bila mereka mengalami bencana dan tragedi. Mari kita mengenang para pendahulu kita yang telah mempelopori komunitas CIC Newtown ini, terutama tokoh-tokoh awam yang gigih di dalam membagun komunitas. Banyak di antara mereka sudah berpindah tempat tetapi sebagiannya masih ada bersama kita.

Kalau sekarang kita sudah dipandang kuat, dan diminta untuk berpindah tempat, agar tempat ini dipakai oleh mereka yang lebih membutuhkan; mari kita menghadapi hal ini secara dewasa. Bp. Michael Phang, coordinator kita, ketika pertama kali diberi informasi bahwa kontrak kita tidak diperpanjang mengatakan, “Kita tidak tahu kehendak Roh Kudus. Tetapi dari pengalaman hidup saya pribadi, berpindah dari Indonesia, saya yakin, Roh Kudus selalu mengarahkan kepada hal-hal yang baik”. Ya, kita percaya. Roh Kudus selalu membimbing kita.

Para saudara, kita bisa berpindah tempat, tetapi dalam rasa hormat yang dalam, mari kita tetap membawa spirit dari Gereja ini: Santo Yosep, membuka tangan dan bermurah hati kepada semua orang tanpa memandang latar belakang budaya, umur, kepercayaan, dan sexual orientation. Inilah cara hidup Injil. Mari kita berbagi dan bermurah hati.

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC
Chaplain CIC

%d blogger menyukai ini: