Belajar dari Pater Jules Chevalier
Pater Jules Chevalier adalah seorang imam di paroki St. Cyr di Kota kecil Issoudun, Prancis. Sejak di Seminari dia merefleksikan situasi manusia. Dan dia menemukan bahwa situasi zaman pada zamannya, Perancis, di tahun 1850-an, diwarnai dengan fenomena egoisme dan indeferentisme. Indeferentisme yang dimaksud adalah sikap acuh tak acuh dan dingin kepada Tuhan. Orang tidak tertarik kepada ajaran Tuhan dan cenderung mengikuti pemikiran liberalisme.

Dia percaya bahwa ada harta yang terdalam dalam Hati Kudus. “Seperti kita ketahui, Hati Kudus adalah obat yang mampu mengubah dunia ini selamat”. Dengan menggunakan senjata ini, yakni Hati Kudus, para missionaris hendaklah melawan liberalisme. Menghadapi kekerasan hati kaum liberal adalah dengan senjata kelemah lembutan dan kerendahan hati. Dia tergerak untuk mendirikan Tarekat (kelompok religius) dan asosiasi awam yang dibaktikan kepada Hati Kudus Yesus. Tarekat itu akan menggunakan senjata Hati Kudus Yesus, untuk menghadapi keangkuhan kaum liberal. Hati Kudus yang penuh kerendahan hati dan kelemahlembutan akan menjadi senjata untuk memerangi situasi zamannya.

Maka dia menginginkan tanda dari surga apakah niatnya juga menjadi kehendak Tuhan atau tidak. Maka dengan sahabatnya, P. Maugenest, mereka berdua memulai novena. Untuk meminta tanda dari Surga. Dia peraya bahwa “Jika Tuhan menghendaki karya Hati Kudus, karya tersebut akan berhasil walaupun berbagai kesulitan yang amat besar menghadang. Yang penting kita yakin bahwa ini merupakan kehendak Tuhan.

Pada tanggal 8 Desember 1854, pada hari kesembilan novena, ada umat yang datang memberikan donasi kepadanya yang jumlahnya cukup besar. Donasi itu dijadikan oleh Chevalier, sebagai pertanda persetujuan dari Surga untuk merestui niatnya untuk mendirikan tarekat. Pada tahun berikutnya, dia memulai masa novisiatnya untuk menjadi biarawan MSC. Dan Tuhan telah, sedang dan akan memakai tarekat MSC untuk karya misi sampai ke ujung dunia. Kini Tarekat MSC yang lahir pada tanggal 8 Desember 1854 telah membuka banyak Keuskupan baru dan hadir di lebih dari 40 negara. CIC adalah salah satunya yang digembalakan oleh Pastor-pastor MSC.

Pernahkan anda mencari tanda dari Surga?
Mencari Tanda dari Surga juga biasa dilakukan oleh banyak orang, termasuk anda. Waktu saya menjalani pembinaan di Seminari Menengah St. Petrus Canisius Magelang, kami memiliki tradisi pulang ke rumah jalan kaki saat diterima di salah satu lembaga hidup bakti. Saya juga menjalaninya, berjalan kaki dari SMA ke rumah. Saya berdoa, Tuhan berikan petunjuk-Mu, kalau saya bisa pulang ke rumah tanpa halangan, berarti saya Engkau panggil menjadi imam. Jika ada halangan atau saya tidak kuat jalan kaki, mungkin bukan panggilan saya. Ternyata saya bisa pulang dengan selamat. Dan itu saya jadikan tanda bahwa menjadi imam adalah panggilan hidup saya dan saya jalani sampai sekarang.

Keputusan-keputusan Besar
Kita pasti juga pernah membuat keputusan-keputusan besar. Keputusan-keputusan itu sangat mempengaruhi hidup kita. Hidup kita tidak akan sama lagi dengan pilihan yang kita ambil. Misalnya akan menikah dengan siapa, tinggal di mana, profesi yang saya pilih, mengambil hutang di bank untuk membuka usaha, dan lain-lain. Keputusan-keputusan besar itu membutuhkan campur tangan Tuhan karena kita percaya kalau kita melakukannya sesuai kehendak Tuhan, maka bukan hanya kita saja yagn bekerja. Tuhan juga akan menyertai kita.

Mencari tanda itu bisa dilakukan dengan doa hening, doa novena atau proses discernment. Kita membuka hati kepada kehendak Tuhan dan nanti seperti ada keyakinan yang kuat di dalam hati tentang apa yang hendak kita lakukan.

“Serahkanlah dirimu kepada Tuhan, dan percayalah kepada-Nya, maka Tuhan akan bertindak” (Mz 37:5).

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: