Bagaimana menjadi Ayah di zaman modern ini? Generasi anak-anak sekarang sering disebut sebagai generasi tanpa ayah. Para ayah banyak memosisikan diri sebagai “bread winner” (pencari nasfkah) saja dan urusan rumah tangga diserahkan kepada sang Ibu (yang kenyataannya sibuk bekerja juga). Sebagai akibatnya anak-anak sekarang ini lebih dekat dengan ibu daripada dengan ayahnya.

Ketika seseorang menjadi terlalu dekat dengan Ibu yang kasihnya begitu hangat, sering anak-anak bertumbuh menjadi pribadi yang sulit dituntut. Mentalita “Tolong pahami saya” mewujud menjadi keengganan untuk memikul tanggungjawab dan merasa tenang saja ketika melanggar aturan.
Mari kita belajar dari Yusuf, suami bunda Maria.

Mendidik Yesus
Saya pernah mendengar keterangan ahli Kitab Suci bahwa pada zaman Yesus, setelah anak mencapai 12 tahun, maka menjadi tanggungjawab ayah untuk mendidik anak, terutama anak laki-laki. Seorang ayah biasanya akan sangat menuntut sang anak dan bahkan sering terjadi gesekan berupa kemarahan atau ketidak setujuan. Kadang-kadang anak perlu dihukum. Namun sebagaimana batu diasah oleh batu lain, anak laki-laki sering diasah dengan didikan dengan orangtuanya. Hal ini menjadi anak bertumbuh menjadi pribadi yang kuat, tidak cengeng, berdaya tahan dan bertanggungajwab.

Ketaatan kepada Ibadat
Bapa Yusuf sebagai seorang ayah sangat memperhatikan ketaatan dalam ibadat. Tiap-tiap tahun (Luk 2:41) Bapa Yusuf tidak lalai untuk menunaikan kewajiban keagamaan. Bapa yang baik menegaskan pentingnya ibadat bagi anggota keluarganya. Jika seorang ayah setia pada ibadat, maka semua anaknya akan ikut.

Tanggungjawab
“Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (Luk 2: 48). Dari kalimat Bunda Maria ini tersirat bahwa Bapa Yusuf sangat bertanggugjawab. Ketika ada apa-apa dengan anaknya dia turun tangan. Dia menunjukkan sisi tanggungajawab sebagai seorang kepala keluarga.

Pemimpin
Seorang anak, apalagi ketika menginjak masa remaja, biasanya akan bertumbuh dalam cara dan kemandirian berpikir. Yesuspun ketika diketemukan kembali menjawab Ibunya dengan kata yang sebenarnya bisa melukai, “Mengapa engkau kamu Aku?” Saya membayangkan ketika Yesus dan Bunda-nya berbeda visi, mereka kemudian melihat kepada ayahnya, Yusuf. Dann saya membayangkan bawha Yusuf mengeluarkan kata pendek, “pulang”.

Setiap keluarga membutuhkan keteraturan. Keluarga yang teratur akan berumbuh dalam kerpibadian. Seorang ayah dengan kewibawaannya memimpin keluarga agar terdapat ketenangan.

Para saudara yang baik, marilah kita meneladani Bapa Yusuf dalam memimpin keluarga.

Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: