The Catholic Indonesian Community memiliki banyak kelompok Bina Iman. Sebutlah di antaranya Kelompok Pendalaman Alkitab, Wadah, Keluarga Kudus Nazareth, Couple for Christ, Lumen Christi, Epifani dan lain-lain. Pertanyaan yang pantas untuk ditanyakan adalah: apakah yang menjadi tujuan akhir dari kelompok-kelompok pendalaman iman itu? Diinspirasikan oleh Buku Formatio Iman Berjenjang (Yogyakarta: Kanisius, 2014), saya mendapatkan formula jawaban yang sangat tepat: Katholik yang well informed, tangguh dan Misioner.

Katholik Yang Well Informed

Widya, seorang katholik, suatu hari berjumpa dengan temannya. Dan kemudian percakapan mereka menyangkut agama. Temannya mengkritik karena banyak ajaran katholik yang tidak jelas dasar alkitabiah-nya. Banyak ajaran yang hanya berasal dari manusia dan bukan dari Tuhan. Widya mendengarkan dengan penuh perhatian. Dan kemudian dia menanggapi, “Terimakasih untuk membagikan pengetahuanmu tentang kekatholikan, tetapi pemahamanmu sebenarnya tidak sama dengan cara kami memahami”.

Kemudian Widya menerangkan bahwa dalam kekatholikan, pewahyuan dari Allah diteruskan dengan dua saluran. Tradisi dan kemudian Kitab Suci. Bahkan kemudian Widya bisa menerangkan bahwa Kitab Suci dilahirkan oleh tradisi, dan kemudian Kitab Suci menjadi sangat penting karena menjadi code dari Tradisi.

Kemudian Widya membuat pertanyaan: Seandainya Science berhasil menemukan satu buku, yang dalam pembuktian ilmiah adalah Kitab Suci yang paling asli, tetapi isinya sangat berbeda dengan Kitab Suci yang ada di tangan kita? Bagaimana sikap Gereja? Temannya sangat kebingungan dan Widya bisa menjelaskan dengan alur yang logis, berbasis data sejarah dan sangat meneguhkan.

Itulah contoh dari Katholik yang well informed. Orang Katholik yang well informed tidak sekedar menjadi katholik yang tahunya bilang, “pokoknya saya percaya” tetapi bisa menjelaskan dengan logis dan penuh tanggungjawab. Apalagi menjadi katholik yang membabi buta dan emosional. Dia cukup cerdas di dalam menerangkan imannya.

Maka umat CIC tidak cukup jika hanya mendengarkan saja. Mereka harus didorong untuk berani membaca buku-buku iman. Tidak terlalu penting banyaknya, tetapi dibaca pelan-pelan dan dihayati dan dipahami dengan baik. Iman mencari pemahaman. Untuk umat yang sungguh pandai, saya sering menganjurkan supaya mereka membaca buku-buku serius seperti Kathekismus atau memiliki The New Dictionary of Theology dari Fr. Joseph Komonchak yang merupakan reverensi yang sangat bagus untuk pemahaman iman.

Katholik Yang Tangguh

Tangguh dalam iman berarti tetap teguh dalam menghadapi pergumulan iman. Santo Paulus adalah contoh di dalam keteguhan iman. Ia tetap teguh berdiri kendati penderitaan dan kesulitan menerpa hidupnya. Dan ketangguhan imannya itu dinyatakan banyak kali dalam surat apostoliknya. Misalnya “Segala perkara dapat aku tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”(Fil 4:13).

Kitapun dalam banyak hal harus tangguh di dalam kehidupan. Tantangan silih berganti menyambangi kita. Tantangan itu bisa dalam bentuk pekerjaan, karya pelayanan, keluarga dan iman. Terkadang tantangan itu bukan dari luar. Tetapi dari dalam diri kita sendiri. Dalam menghadapi tantangan itu iman sangat diperlukan. “Sebab setan musuhmu, mengaum-ngaum seperti singa yang mencari mangsa. Lawanlah dia, teguh di dalam iman”. (1 Pet 5:8, seperti diterjemahkan untuk Ibadat Completorium). Mari kita jadikan Kristus sebagai keyakinan kita, kekuatan kita, jalan hidup kita.

Katholik yang Misioner

Misioner menyangkut gerak keluar untuk memberi kesaksian. Iman bukan sesuatu yang kita simpan rapat dibawah gantang, sehingga tidak terlihat orang. Ia tidak malu mengakui imannya. Dia mampu dan berani berdialog menceritakan imannya. Misioner juga berarti bahwa imannya memberi kontribusi kepada masyarakat. Misalnya walaupun kita bekerja di sebuah kantor yang kerapkali melakukan ketidakadilan, tetapi kita berani bersikap berbeda dan mempromosikan keadilan. Atau seorang pejabat katholik yang karena iman berani merombak hal-hal yang tidak beres dalam organisasi yang dipimpinnya. Bukan karena katolisasi tetapi imannya dia tampakkan dalam perbuatanya yang nyata.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

%d blogger menyukai ini: